Sabtu, 25 Februari 2017

Duo Miss Rempong Plesiran: Hellooo Jogja!


Kamis (9/2/17), Rona memutuskan pulang tenggo dan bergegas menuju ke rumah untuk siap-siap. Sedangkan gue, memilih singgah di Kos Ci Yuni (*teman kantor) yang jaraknya lebih dekat dari stasiun, daripada harus pulang ke rumah terlebih dahulu. Kami janji bertemu sekitar pukul 20.30 WIB di Stasiun Pasar Senen. Saking excited-nya sama trip kali ini, gue sama Rona masiiiiih saja ngobrol sampai tengah malam. Kalau kata Rona, ini waktunya Vella dan Rona Undercover. Sampai penumpang di depan kami nggak bisa tidur karena keberisikan (*hihihi). Memasuki Cirebon, barulah kami mulai memejamkan mata.

Menjelang subuh, gue mulai nggak bisa tidur dan memilih online pagi itu.
“Ehh…Ron, ini di stasiun apa ya?,” tanya gue bingung ketika kereta berhenti di salah satu stasiun.
“Ini di Stasiun Tugu deh kayaknya, Vel,” jawab Rona pelan sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer di alam mimpi.
“Kita turun di sini nggak sih?,” tanya gue memastikan sekali lagi.
“Harusnya sih turun di Stasiun Lempuyangan. Ehh…tapi ini kok keretanya udah berenti? Apa cuma sampe Tugu ya, Vel?”
“Kayaknya cuma sampe sini deh. Yaudah, yuk turun!”

(*Cerdasnya kami adalah langsung turun tanpa mengecek tiket terleih dahulu untuk tahu kebenarannya)  


Duo Miss Remong
Begitu turun dari kereta, kami celingukan kayak bocah hilang arah. Nggak lama kemudian, kereta berangkat kembali melanjutkan perjalanan ke stasiun terakhir–Stasiun Lempuyangan. Kami cuma bengong sesaat dan langsung tertawa ngakak, menertawai kecerobohan kami. Meski salah turun, toh nyatanya bikin kami jadi beruntung. Tujuannya kan memang mau makan pagi dan menikmati pagi di Malioboro. Huwaaa…mantap!

Sampai di Malioboro, gue langsung pose di depan papan jalan bertuliskan “Malioboro”, dan merengek minta difotoin sama Rona. Maklum lah, meski sudah berkali-kali ke Jogja, gue belum pernah foto di papan jalan paling hits itu. Di sana juga gue kenalan sama traveler cewe asal Jakarta. Setelah gue tanya dia nginep dimana, ternyata dia nginep di rumah cowonya yang tinggal di Jogja Huffftt…bikin envy saja.

Selesai foto-foto, kita langsung sarapan. Menu sarapan hari itu adalah nasi pecel yang berada di depan Plaza Malioboro. Yap, kata Rona, harus banyak makan sayur demi memperlancar pencernaan (*wkwkwk). Oia, asli deh, itu pecelnya enak banget. Murah pula. Makan sampai kenyang cuma Rp 8rb!

Hotel Kami yang Super Cozy
Setelah makan, kami mulai searching hotel dan bertanya-tanya transportasi untuk menuju ke sana. Akhirnya dapat lah kami hotel yang lumayan nyaman di daerah pinggiran Malioboro.
“Ron, tapi kita nggak bisa check in sepagi ini loh. Kita baru bisa check in sekitar jam 12 siang,” kata gue hopeless.
“Lah, terus gimana dong kita sekarang? Apa mau jalan-jalan dulu?,” tanya Rona mulai bingung.
“Boleh juga sih kalau mau jalan-jalan dulu. Mau ke mana? Museum? Belum ada yang buka. Apa mau ke pantai? Tapi pakai apa? Mau nyewa motor? Hayu aja lah gue mah,” cerocos gue.

Kriiik…kriiik…kriiikk….          

Yaudah, gini aja deh, kita check in sekarang. Gapapa diitung 2 hari juga. Yang penting bisa istirahat dulu sebentar. Asal kita pilih yang seharinya 150rb. Nggak usah yang mahal dan bagus-bagus amat. Maksimal segitu pokoknya. Jadi total cuma 300rb buat 2 hari!,” jawab Rona mantap, menyelamatkan kami dari kebegoan di pagi itu.
“Ok, kita susurin dari sini aja ya, Ron,” jawab gue.
“Sip.”

Kami berjalan sambil tengok kanan-kiri kayak orang linglung. Bukan apa-apa, karena kami mencari papan penunjuk rate kamar per hari. Setelah berjalan sekitar 1 Km, gue mulai frustasi. Gue pun menyarankan untuk coba bertanya random di Hotel Peti Emas, karena dari luar kesannya hommy banget. Alhamdulilah, begitu ditanya ternyata harganya lumayan murah, cuma Rp 380rb per malam. Fasilitasnya lengkap, ada sarapan pagi, snack time, WiFi, TV, AC, kamar mandi bersih (*ini yang paling penting), dan ada kolam renangnya pula. Hebatnya lagi, kita bisa check in saat itu juga! Emmm…ya memang melebihi budget 80rb sih. Tapi worth it lah untuk fasilitas yang lengkap. Tanpa pikir panjang, kami langsung booking di situ. Kebetulan juga masih sepi, jadi kami masih bebas memilih kamar. Akhirnya kami prefer pilih kamar di lantai satu yang berada di depan taman. Duh, benar-benar jatuh cinta deh sama hotel ini.

Saking cozy-nya, kita justru memilih bobo daripada jalan-jalan pagi. Niat awal sih istirahat cuma sampai jam 11.00 WIB, kemudian mandi, dan mulai cus keliling Jogja jam 12.00 WIB. Tapi apa daya, ngantuk mengalahkan segalanya. Kami justru bangun jam 12.30 WIB! Dan baru keluar kamar jam 14.00 WIB, setelah sebelumnya rempong dandan.


Background-nya Cantik *Abaikan Modelnya*
Sampai di Halte Prambanan, kami celingungan mencari ojek. Berhubung adanya cuma becak, pergilah kami ke site Candi Ratu Boko pakai becak. Romantis bingits euy. Sepanjang jalan suasananya masih sepi, dan view-nya cantik kayak gue (*ehh). Akhirnya kami baru sampai di Candi Ratu Boko jam 15.30 WIB, dengan keadaan langit mendung. Si bapak tukang becak pun berbaik hati buat menunggu di parkiran sampai kami selesai.
“Mbak, ini kan ndak ada kendaraan, saya tungguin aja ya,” kata si Bapak.
“Tapi kita lama loh, Pak. Mau liat matahari tenggelam dulu,” jawab gue.
Gapapa, Mbak. Saya tungguin aja.”
“Terus kalau pulang pergi jadi berapa, Pak?”
“Terserah, Mbak. Seikhlasnya aja.”
Yaudah, saya bayar yang berangkatnya dulu aja ya,Pak.”
Ndak usah, Mbak. Nanti aja pas pulangnya.”

*Nyeeeees*
Seketika hati gue langsung meleleh. Ternyata masih saja ada orang baik hati hari gini.

My Partner
Kami pun bergegas menuju lokasi candi buat mendapatkan foto-foto paling hits sepanjang masa. Bahkan gue sampai harus bulak-balik dari berbagai angle demi mendapatkan foto Rona yang cetar membahana. Setelah beberapa kali take, akhirnya ada juga foto yang dianggap lolos kualifikasi, yang bisa buat diunggah (*hehehe). Sekitar jam 17.00 WIB, kami memutuskan untuk pulang, karena langit sudah semakin gelap.

Sampai di Halte Malioboro II, hujan turun dengan derasnya. Kami pun memutuskan naik becak untuk menuju ke Posyandu Dagadu di Alun-Alun Utara. Tapi di tengah jalan kami berhenti untuk makan dulu. Tahu apa yang kami pesan? Seporsi bakmi jowo kuah. Ohh…Tuhan, itu bakmi jowo paling enak sedunia! Yaiyalah ya, secara itu hasrat terpendam kami sejak lama, dan ketika sedang hujan pula makannya. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? *Lebay*

Bakmi Jowo Paling Enak Sedunia
“Vel, ini kan porsinya kecil. Lw takut lapar lagi nggak sih ntar malem?,” tanya Rona tiba-tiba saat sedang khusyuk makan.
“Kayaknya iya deh, Ron. Perlu pesen lagi ini mah,” jawab gue sambil langsung pesan seporsi bakmi jowo goreng ke si penjual.
“Nah, maksud gue juga gitu sih sebenernya. Ehh…gue mau juga dong,” jawab Rona sambil ngakak.

Kenyang makan, lanjut cus lagi lah kami. Tapi si Bapak nggak tahu lokasi Posyandu Dagadu yang kami maksud. Alhasil, kami harus membuka tirai penutup becak, dan mengarahkan si Bapak dengan menggunakan Waze. Begitu sampai di TKP, kami sudah basah kuyup seperti kucing kecebur.

Jadwal Kereta Prameks
Puas belanja, kami masih semangat buat ngubek-ngubek Mirota. Begitu Mirota mau tutup, barulah kami memutuskan pulang. Eits, tapi kami masih harus menyusuri lorong sepanjang Malioboro untuk menuju ke Stasiun Tugu. Ini demi mengetahui dengan akurat, jadwal kereta Prameks yang menuju ke Klaten besok.


Sumpah ya, betis gue rasanya mau copot. Meski gue terbilang kuat jalan, tapi kali itu gue sudah give upBadan juga sudah dingin karena kehujanan sepanjang jalan. Jalan kaki sengaja kami pilih karena banyak faktor sih sebenarnya. Salah satunya ya karena pengiritan sih (*upss). Selesai urusan di stasiun, gue merengek sama Rona supaya pulangnya naik becak saja. Untung Rona juga merasakan lelah yang sama. Kalau nggak kan malu-maluin, masa iya gue jadi kayak bocah sendirian (*hehehe).

Begitu sampai hotel, niat awal sih mau mandi, shampoo-an, maskeran, ngobrol-ngobrol syantiek, dan blablabla. Tapi semua langsung sirna seketika begitu ketemu kasur. Iya, kita langsung mager di atas kasur masing-masing. Selesai makan bakmi jowo goreng tercinta, kita langsung bego. Dan beberapa saat kemudian, gue langsung hilang kesadaran menuju ke alam mimpi. Tinggal Rona yang kebingungan melihat gue dengan cepatnya tertidur. Hehehe.  
   
Bersambung…

Jumat, 17 Februari 2017

Duo Miss Woles Plesiran


“Ehh…Vel, kita ke Umbul Ponggok yuk! Ntar kita foto-foto underwater gitu,” kata Rona tiba-tiba.
“Boleh juga tuh. Sekalian mampir ke Jogja ya. Gue pengen ke Candi Ratu Boko, biar kayak AADC, Ron,” tanggapan gue makin ngawur.
Yaudah, kita langsung cari tiketnya. Terus bikin rencana perjalanannya, Vel.”

*Seketika kita langsung kabur ke depan komputer dan autis sama website KAI*

Rencana traveling gue sama Rona ini, memang bermula dari obrolan iseng saat jam makan siang di kantor. Nah, awalnya sih kita mau pergi jumat malam dan pulang di hari minggu pagi. Tapi gue ragu, karena pasti capek banget di hari Seninnya. Ide gila pun muncul, akhirnya kita putuskan buat pergi di hari Kamis malam sepulang kerja, dan terpaksa bolos berjamaah di hari Jumat-nya.

Sepulang kerja, kita langsung cus ke Stasiun Pasar Senen demi bisa booking tiket, akibat website KAI lagi main tenis (*baca: maintenance) terus sepanjang hari. Di perjalanan menuju ke stasiun dengan bajaj, gue khusyuk bukain steplesan uang makan tiap minggu yang sengaja gue simpan (*ngenes). Rona cuma ketawa-tawa melihat tingkah absurd gue. Apa mau dikata, gaji dan bonus belum turun, uang sincia juga nggak ada, alhasil uang makan lah yang kita korbankan.

Sesampainya di stasiun, kita langsung lari ke mesin penjualan tiket. Tanpa membaca petunjuk penggunaannya terlebih dahulu, kita hajar pencet-pencet beli tiket ini-itu, dan masukkin uang pecahan besar. Beberapa menit kemudian, kita baru sadar kalau seharusnya masukkin uang pas, karena kalau ada kembalian, akan dijadikan sebagai saldo pulsa. Itupun harus di atas Rp 25rb, kalau di bawah itu ya harus rela jadi saldo menggantung. 

"Vel, kembaliannya nggak bisa diambil loh. Ini malah jadi saldo pulsa," kata Rona panik.
"Wah...kenapa nggak ada pemberitahuannya? Ini sih jebakan namanya," timpal gue penuh emosi.
"Ehh...ada pemberitahuannya tau, Vel. Kitanya aja yang kagak baca-baca dulu. Tuh liat deh di atas mesinnya," kata Rona sambil menunjuk ke sebuah papan pemberitahuan di atas mesin.

*Kita langsung ketawa ngakak*

"Jangan cerita ke anak-anak ya, Vel. Apalagi si Asep (*engineer di kantor). Bisa diketawain abis-abisan kita."
"Hahaha...iya lah, Ron. Malu-maluin banget ini mah."  


Yasudah, yang penting tiket sudah di tangan. Tapi sayangnya kita sudah kehabisan tiket menuju Jogja seharga Rp 220rb, yang keberangkatan pukul 18.45 WIB. Tersisa tinggal keberangkatan pukul 21.45 WIB. Yaa…wajar sih, karena kita belinya di H-14. Well, Jogja we're comiiiiiin'!       

Kamis, 16 Februari 2017

A Shelter: PT. Indoserako Sejahtera (Part III)

Setelah resign dari PT. Rutraindo Perkasa, gue keterima di PT. Indoserako Sejahtera. Yes, here i’m! Gue keterima sebagai Staff Purchasing (lagi). Gue bisa masuk ke sini berkat bantuan Kak Erwin (*sebelumnya kita pernah sama-sama kerja di PT. Rutraindo).

Awal masuk, gue sempat dibuat shock therapy. Secara, lokasi kantornya itu nggak banget. Terasa seperti di daerah pelabuhan. Banyak truk-truk besar dan sangat berdebu. Begitu masuk kantornya, nggak ada resepsionisnya pula. Keadaan kantornya juga terbilang “ala kadar”. Iya, cuma ruko yang disulap menjadi kantor.

Tapi setelah melewati sebulan di sini, gue langsung kerasan. Baru kali ini gue merasa nyaman di tempat kerja. Setiap bangun pagi, gue selalu semangat buat berangkat ke kantor. Tanpa merasa ada tekanan apapun seperti di tempat kerja sebelum-sebelumnya.

Alasannya? Di sini orang-orangnya nggak ada yang bermuka dua, ataupun menyebalkan macam pemain drama nan lebay. Dari lantai satu sampai lantai empat, semua karyawannya berbaur jadi satu. Dari OB sampai staff, nggak ada jarak sama sekali. Staff-nya juga mayoritas lulusan universitas negeri dan rata-rata seumuran gue . Alhasil kita nyambung banget kalau ngobrol, dan sering gila-gilaan bareng. Engineer-nya juga smart, humble, dan gaje pula. Ehh…tamvan-tamvan juga sih karyawan di sini. Yaa…lumayan lah buat cuci mata setiap hari (*hehehe).

Secara jobdesk sih nggak ada masalah. Gue suka pekerjaan ini. Gue suka saat harus terima barang, ketemu supplier, dan masih banyak lagi. Apalagi posisi ini berhubungan dengan seluruh bagian di kantor, seperti bagian pajak, finance, accounting, gudang, bahkan kurir sekalipun. Seru sih.  


Oia, menurut gue, meski lokasi kantornya sedikit kurang “cozy”, tapi teramat sangat strategis loh. Kalau mau wisata kuliner, bisa langsung kuy ke Pecenongan atau Petak Sembilan. Kalau mau beli accessories murah, bisa ke Asemka. Mau menggila di karaokean, bisa langsung ke daerah Mangga Besar. Kalau mau belanja kain atau grosiran lainnya, bisa ke Pasar Baru atau Pasar Pagi deh. Tuh kan, nggak ada alasan buat nggak nyaman kan? Yaa…hemm…kecuali cuma karena alasab THR-nya saja sih yang nggak ada. 

Selasa, 07 Februari 2017

A Shelter: PT. Rutraindo Perkasa (Part II)

Setelah keluar dari Tokopedia, gue apply di PT. Rutraindo Perkasa. Pada saat interview, salah satu pihak manajemen, sudah memperingati gue untuk nggak boleh ibadah di kantor bila ada Bos besar. Gajinya juga pahit banget, karena katanya gue belum ada pengalaman. Untuk ukuran S1, gue cuma dapat di bawah UMR (*masih lebih besar uang bulanan dari bokap, ya Tuhan). Gue langsung speechless saat itu. Tapi berhubung gue butuh pengalaman ini, jadi gue iya kan saja. Toh, gue butuh ilmunya.

Gue mulai kerja di sini pada tanggal 25 Maret 2015, sebagai Staff Purchasing. Divisi Purchasing cuma ada 3 orang, Head of Purchasing; Buyer, dan gue.  Jobdesk-nya sendiri seperti auoto pilot sih. Pertama, cek di program, apa ada quotation baru atau tidak dari workshop. Bila ada, tinggal bikin penawaran, dan di fax ke semua supplier. Bila sudah dapat penawaran, tinggal dibandingkan dan dibuat PO-nya. The end! Dari sisi jobdesk sih tidak ada masalah.

Nah, masalah utama justru datang dari lingkungan kerjanya. Menurut gue, ini perusahaan paling tidak sehat, aneh, dan super kacau, yang pernah gue rasakan. Bayangkan ya, Head Purchasing gue, bertengkar dengan salah satu Admin di sana bertahun-tahun yang lalu. Alhasil, dia justru dimusuhi satu kantor sampai sekarangTahu kenapa? karena orang-orang di kantor sudah kena hasutan si Admin tadi. Sialnya, gue jadi kecepretan dimusuhi juga, karena gue satu divisi dan dianggap pro atasan gue. What the fu*k! I'm not doing anything.  

Puncaknya terjadi di tanggal 9 Januari 2016. Saking gue sudah muntab dengan salah satu pegawai di sana, gue bilang lah, “makanya kalo kerja yang bener!”. Perkara awalnya cuma gegara ada satu barang yang hilang, padahal jelas-jelas sudah gue kasih ke bagian penerima barang. Tapi si penerima barang ini justru bilang belum menerima. Iya, jelas nggak merasa nerima, karena dia memang nggak pernah aware sama gue. Kan kesel.  

Imbasnya, begitu mau pulang, saat sedang absen, setumpuk kertas dilempar ke muka gue sama si bagian penerima barang ini, lengkap dengan efek teriak-teriak dan nangis drama. Tanpa membalas, dan tanpa pakai efek nangis juga, gue langsung tinggal pergi dengan sedikit bumbu adu bacot. Besoknya gue bawa perkara ini ke pihak manajemen. Kampretnya, pihak manajemen justru menyalahkan gue habis-habisan. Bahkan Bos besar pun memojokkan gue saat itu. Katanya, “hilangkan lah harga diri kalau mau bekerja”. Ohh..fine! Seketika saja gue langsung keluar ruangan, tanpa pamit. Gue berkemas, dan gue nggak pernah kembali lagi ke perusahaan itu.

Dia boleh ngomong begitu, tapi nggak ke gue. Dia siapa?! Orang tua gue saja nggak pernah merendahkan gue kok. Dia cuma orang yang merasa bisa ngegaji gue. Ngasih gaji cuma segitu saja sombong. Dan 2 hari kemudian, gue dipecat melalui Whatsapp sama anaknya si Bos. Alasannya, karena gue sudah merendahkan Ibunya. Nahloh, padahal katanya kalau kerja harus hilangkan harga diri. Luar biasa memang perusahaan ini. Sangat tidak beretika. Manajemennya amburadul. Seharusnya, kalau memang dipecat, gue terima pesangon dan surat pemecatan by email atau apa yang sifatnya lebih formal. Ckckck…

       

A Shelter: TOKOPEDIA (Part I)

Siapa sih yang nggak kenal dengan Tokopedia? Salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia yang sedang berkembang pesat saat ini. Iklannya saja dapat kita temui dimana-mana, seperti di angkutan umum misalnya. Bagi para fresh graduate, Tokopedia memang terlihat bagai surga dunia untuk mengembangkan karir. Nggak bisa dipungkiri, gue pun berpikir demikian pada awalnya.

Gue senang bukan kepalang saat mendapat kabar diterima kerja di Tokopedia. Secara, di sana isinya anak-anak muda berkualitas semua (*Cowok-cowok tampan juga tinggal pilih saja :P). Pergaulannya pun golongan menengah ke atas. Nggak ada juga tuh senioritas macam di pabrik pada umumnya. Sedangkan suasana kantornya cozy banget, ada ayunan di dalam ruangan; perpus mini; mini theater; dan banyak lagi. Dua kali dalam setahun, ada pula event besar perusahaan yang diselenggarakan. Soal gaji? Nggak usah dipertanyakan lagi lah. Jadi, sudah kebayang kan gimana asiknya kerja di sana? Siapa sih yang bakal nolak?

Gue mulai kerja tanggal 4 Januari 2015. Yap, 2 tahun yang lalu. Gue kerja sebagai Customer Care Spesialist di bagian konfirmasi pembayaran (gue lupa nama sub divisinya apa). Hari kerjanya, 4 hari masuk, 4 hari libur. Di sana kita mulai kerja dari pukul 09.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB.

Jadi, jobdesk gue itu hanya mengkonfirmasi setiap pembayaran yang masuk dan membalas ratusan email dari customer. Setiap pagi, pasti selalu ada ratusan email di dalam inbox, yang berhasil ngebuat kepala gue langsung cenat-cenut. Tapi sebanyak apapun itu, selalu berhasil gue selesaikan dalam sehari. Iya, dalam sehari! Kebayangkan betapa jengahnya gue? Duduk manis berjam-jam di depan layar komputer, sambil ngedengerin lagu atau ngemil demi membunuh penat. Gue sendiri paling malas untuk becanda dengan teman saat bekerja, karena gue pasti hilang konsentrasi.

Nah, setiap email yang masuk, harus gue baca dengan seksama. Jangan sampai salah. Setiap email berisi attachment bukti pembayaran, yang harus dicocokan dengan data customer pada saat melakukan registrasi. Sialnya, seringkali data customer berbeda, antara saat mereka registrasi dengan pembayaran yang dilakukan. Kalau sudah begini, gue harus cross check berulang-ulang untuk make sure. Asli ya, gue bosan setengah mati harus kerja begini.

Berangkat pagi pakai motor, bergumul dengan kemacetan ibukota yang super gila. Sampai di kantor langsung ketemu sama kerjaan yang “ngerjain” banget. Pulangnya harus melewati jalanan super gelap nan dingin dan sepi (*Uhuuuk). Jujur saja, gue nggak kuat kalau harus lama-lama seperti ini.

Beruntungnya, di akhir bulan Januari, gue dapat “surat cinta” dari HRD. Yes, I’m fired! Total gue cuma kerja 16 hari di sana. Katanya kinerja gue kurang bagus. Email yang gue balas dalam sehari, tidak pernah mencapai 100. What?! Kalau memang seperti itu, harusnya pekerjaan gue pasti numpuk kan besoknya? Tapi ini nggak pernah terjadi sama sekali kok. Sesungguhnya gue merasa aneh dengan penilaian di sana sih. Lagian kalau memang itu sampai terjadi, seharusnya wajar saja, karena gue masih baru, dan butuh adaptasi. Tapi gue bersyukur kok berhenti dari pekerjaan yang ngerjain banget macam begitu. Nggak ada yang perlu disesali. Well, bhay, Tokopedia~

Jumat, 30 Desember 2016

Sebuah Mimpi

“This is the day I always waiting for this whole life. Dressed as a princess of Java. Wearing pretty maroon Kebaya tops, and Javanese headpieces that weight almost 2kg. I choose Paes Solo Putri as the theme of our make up and wardrobe as I have a blood of Solo (one of city in Java island) from my mom.”


Itu sepenggal caption foto pernikahan salah seorang teman, yang (tanpa sengaja) aku lihat di beranda Facebook. Beruntung. Sangat beruntung. Dia bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginannya di hari yang sangat spesial. Ini pertama kali dalam hidup, aku iri dengan kebahagian seseorang. Bahkan teramat sangat iri. Tanpa sadar aku menangis, dan marah atas semuanya. Aku merasa betapa Tuhan telah berlaku tidak adil.

Banyak orang yang bertanya-tanya, penyebab gagalnya acara pernikahanku kemarin. Dan ya, masalah berbusana memang menjadi salah satu penyebab utamanya. Aku jelaskan, bahwa aku memang tidak mau mengenakan hijab di hari penikahanku. Aku merasa, berhijab adalah sesuatu yang sakral, yang turun dari hati nurani. Bukan atas dasar paksaan orang lain, atau demi orang lain. Bahkan bukan demi dia yang kucintai. Aku memiliki batas waktu tersendiri, kapan aku akan mulai mengenakannya sesegera mungkin. Berhijab atau tidak, menjadi tanggung jawab setiap individu dengan Tuhannya. Aku memilih jalanku dengan kesadaran. Jadi, jangan pernah paksa aku untuk mengenakan itu. Aku egois? Ya. Aku keras kepala? Memang. Aku bodoh? Ya. Aku tidak peduli dengan semua pemikiran orang terhadapku. Aku memilih mundur, karena  aku tidak ingin menjadi orang yang munafik. 


Aku memang tipe yang tidak pernah mau mengalah, demi meraih sesuatu yang menjadi mimpi atau cita-citaku. Sejak kecil, aku selalu berdoa dan berharap, bila suatu hari nanti aku bisa mengenakan baju adat Jawa Dodotan, lengkap dengan sanggulnya di hari spesialku. Sebuah acara yang syarat akan tradisi Jawa. Aku selalu membayangkan, betapa aku akan terlihat cantik. Di sampingku, berdiri dia yang terlihat gagah dengan setelan serupa. Iya, mungkin itu sebuah mimpi konyol bagi kebanyakan orang. Aku memang tidak pernah membayangkan sebuah pesta pernikahan yang mewah. Aku hanya ingin mengenakan itu. Bukan baju kebaya muslim, lengkap dengan hijabnya. Bukankah Tuhan Maha Mengetahui? Seharusnya Dia mengerti apa yang menjadi mimpiku sedari dulu. Apakah aku salah jika hanya meminta kesempatan itu? 

Senin, 26 Desember 2016

Hey, kamu yang jauh di sana…

Kamu tahu, tahun ini menjadi tahun paling berat yang harus kulalui. Ternyata tidak mudah untuk berdamai dengan perjalanan yang baru. Aku selalu rindu ucapan selamat pagi, yang dapat menjadi sebuah semangat hariku. Hampir setiap menit, tanpa sadar aku mengecek pesan di handphone. Berharap ada seseorang yang menanyakan kabarku, seperti yang selalu kamu lakukan dulu. Nyatanya tak pernah ada. Bahkan saat masalah datang menyergap, seringkali aku hanya dapat terdiam, karena aku tidak tahu siapa lagi yang harus kutuju untuk menumpahkan semua kerisauan. Hampa. Aku tidak terbiasa dengan semua ini.

Sa, apa kamu masih ingat berjanji satu hal? Seharusnya di tahun depan, kita bisa menikmati puncak ketinggian sama-sama. Andaikan aku tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin kemarin aku akan merengek seperti anak kecil demi bisa pergi. Menikmati sesuatu yang selalu ingin aku lakukan bersama kamu, yang nyatanya tidak pernah dapat terwujud. Ahh...sudahlah. Tapi aku percaya, kita selalu berdiri di puncak yang sama, hanya dalam kondisi jarak dan waktu yang berbeda.

Oia, apa kamu sehat? Apa kamu baik-baik saja? Akhir-akhir ini, langit nampak tak bersahabat. Apakah pekerjaanmu menjadi lebih berat, seperti setiap kali badai datang? Aku rindu ceritamu yang begitu menantang, Sa. Dan yaa…terlalu banyak tanya yang selalu ingin kupastikan setiap harinya. Aku cuma berharap, semoga kamu selalu sehat, dan selalu tertawa, karena dengan tawa, aku yakin semua pasti baik-baik saja.

Sincerely,
I.V.W.