Jumat, 25 Agustus 2017

Yuk, Mengenal Sejarah Cina Benteng di Museum Benteng Heritage!

Museum Benteng Heritage (sumber: www.tantular.com)

Siapa di antara kalian yang belum pernah mendengar istilah “Cina Benteng”? Nah, apa sih sebenarnya Cina Benteng itu? Untuk lebih mengenal istilah ini, saya akan mengajak kalian menjelajahi lorong waktu di Pasar Lama, sebuah tempat menarik di Kota Tangerang yang sarat akan nilai budaya dan sejarah.

Langit-Langit yang Tinggi sebagai Penyejuk Ruangan (doc.pribadi)
Menyusuri keriuhan kawasan pasar, kalian akan menjumpai sebuah rumah bergaya kuno khas pecinan. Lengkap dengan pintu kayunya yang masih begitu kokoh. Bangunan yang telah direstorasi menjadi Museum Benteng Heritage tersebut, memang sudah berdiri sejak abad ke-17, dan menjadi salah satu bangunan tertua di Kota Tangerang. Tapi jangan heran ya, bila tidak jeli, kalian hanya akan melihat jejeran lapak pedagang sayur lengkap dengan terpalnya.  

Serunya, menjelajahi museum ini menggunakan sistem “guided tour”, yang berlangsung sekitar 45 menit. Setiap rombongannya maksimal dibatasi hanya 20 peserta saja. Jadi, kalian akan benar-benar mengetahui setiap informasi dengan detail. Seorang pemandu akan menceritakan setiap keunikan dari barang-barang yang ada di museum tersebut, dan bahkan hal-hal menarik seputar Cina Benteng. Museum ini sendiri buka dari pukul 10.00 WIB s/d 17.00 WIB, dan tutup pada hari Senin. 

Moon Gate Berukir Burung Hong (doc.pribadi)
Memasuki bagian ruang tengah, kalian akan disambut dengan keanggunan Moon Gate berukir burung Hong (burung Phoenix), yang bersanding dengan naga. Keduanya dianggap sebagai lambang agung dalam masyarakat Cina, dan saling tidak dapat dipisahkan. Uniknya lagi, lantai di museum ini masih menggunakan tegel asli yang sudah berumur ratusan tahun loh! Tegel ini membuat suhu ruangan menjadi sangat sejuk, saat udara sedang panas.

Di bagian langit-langit, terlihat ukiran batu berlapis keramik yang menceritakan tentang Samkok atau Kisah Tiga Negara. Ukiran tersebut dipahat dengan sangat hati-hati dan detail. Ekspresi dari para tokohnya terlihat begitu jelas. Sama seperti tegel, ukiran tersebut juga asli, dan sudah berumur ratusan tahun. Sebelum direstorasi seperti sekarang ini, ukiran tersebut sempat menghilang tertutupi dinding buatan yang baru. Sungguh disayangkan ya.
   
Ukiran Keramik Kisah Tiga Negara (foto by Raditya Helabumi)
Naik ke lantai dua, kalian akan menjumpai berbagai peninggalan menarik lainnya. Salah satunya adalah timbangan opium. Dulu, opium memang dijual bebas dengan tingkat penjualan yang sangat tinggi. Ada pula meja mahjong, yang sering digunakan untuk bermain judi. Di bagian lain, terdapat pula deretan botol-botol kecap khas Tangerang dalam berbagai merk, salah satunya yang terkenal hingga kini adalah Kecap Siong Hin atau SH.

Tak hanya itu, ada pula seperangkat baju pernikahan masyarakat Cina Benteng yang digunakan ketika prosesi adat Ciotau/Tehpai. Kalian juga diperbolehkan untuk melangsungkan acara Sejit (lamaran), ataupun pernikahan secara adat di museum ini loh.

Meja Mahjong (doc.pribadi)
Di sudut lain museum, kalian akan menjumpai artefak kedatangan Cheng Ho. Armada Cheng Ho membawa 30.000 pengikut, dengan menggunakan sekitar 300 kapal Jung besar dan kecil. Sebagian rombongan yang dipimpin oleh Chen Ci Lung (diyakini sebagai nenek moyang penduduk Cina Benteng), mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407, dan memilih menetap di Kota Tangerang. Nah, dari sinilah terjadi percampuran budaya, antara penduduk asli berdarah Sunda dan Betawi dengan Cina. Masyarakat cina peranakan yang hidup di Tangerang ini, kemudian disebutlah sebagai Cina Benteng (Ciben). Tidak heran, jika kemudian bahasa ibu dari Cina Benteng adalah Bahasa Sunda berdialek betawi yang memiliki ciri khas tersendiri.

Sedikit catatan, Kota Tangerang disebut benteng, karena pada saat itu terjadi konflik terbuka antara Batavia yang didalangi oleh VOC dengan Banten. Banten kemudian mendirikan benteng pertahanan di sebelah barat Sungai Cisadane, sedangkan Batavia mendirikan benteng pertahanan di sebelah Timur Sungai Cisadane. Tangerang yang berada di antara keduanya, kemudian justru dikenal dengan nama “Benteng”.

Koleksi Barang Antik di Lantai 2 (foto by Raditya Helabumi)
Saya sebagai orang yang memiliki darah keturunan Cina Benteng, merasa sangat bangga dengan didirikannya museum ini. Saya senang karena akhirnya banyak orang yang bisa lebih mengenal etnis ini. Yuk, segera berkunjung ke Museum Benteng Heritage, yang bertempat di Jalan Cilame No.20! Jangan lupa mampir ke warung Es Bu Tien juga ya. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Part III: Jadi Anak 'Gawl' Jogja


Ke Jogja (Lagi)
Setelah semua persiapan selesai, kami langsung meluncur menuju Jogja. Tapi, lagi-lagi kami mampir ke Pasar Pracimantoro dulu buat beli camilan jaman baheula. Gue beli enting-enting sama kue plemben (*kata orang Jawa Timur) atau bolu bakar (*kalau kata orang Jawa Tengah). Ulil beli kue kacang. Dhea beli brem madiun, dan Dian beli kue sagu. Haduuuhh…bikin gagal irit deh. Hehe…

Main ke Pasar

Camilan Enak

Ini Namanya Kue Plemben
 Sekitar pukul 15.00 WIB kami berhasil check in di hotel. Itu lebih cepat 1 jam dari estimasi. Sesampainya di hotel, kita cuma berleha-leha mengumpulkan energy, biar nanti malam bisa “rrwwrrhhh” jadi anak gawl Jogja. Pukul 18.00 WIB, kita sudah stand by di House of Raminten. Duhh…ngeces gue makan di sini. Bayangkan saja ya, waitress-nya pakai kamisol berwarna pink fusia, dipadukan dengan kain jarik sebagai bawahannya, dan rambut yang disanggul kecil. Cantik unyu-unyu banget kan? Sedangkan waiter-nya, pakai kaos hitam bodyfit, dipadukan dengan kain jarik sebagai bawahannya, plus pakai semacam kalung bahan dari batik (*entah apa namanya). Kesannya laki banget dan jawani gitu. Kalau bisa sih pengen dibawa pulang satu (*ehh). Oia, di sini menunya bervariasi banget loh, ada tradisional dan modern. Tapi jangan khawatir, karena harganya bisa dikatakan cukup murah. Terlebih porsinya besar. Cucoklah buat backpacker yang mau makan mewah seperti kami.

Usai dari House of Ramintan, kami geser ke angkringan di samping Stasiun Tugu. Nah, moment ini yang paling kami tunggu-tunggu kalau ke Jogja. Belum afdol rasanya kalau belum ke sini. Ditemani dengan secangkir susu jahe (*minuman wajib gue). Suasana makin lengkap sama pengamen-pengamen yang suaranya bagus-bagus. Akan lebih bagus lagi sih kalau nyanyinya lagu Sheila on 7. Betah euy, nggak bakal mau pulang (*hehehe). Pukul 23.30 WIB, kami memutuskan balik ke hotel karena mata gue sama Ulil sudah 5watt.

Menggila di Hotel
 Paginya, kami langsung siap-siap buat agenda selanjutnya, karena kami cuma punya waktu sampai pukul 14.00 WIB. Tujuan pertama adalah menyusuri lorong Malioboro buat belanja syantiek. Habis itu, kami mampir ke toko oleh-oleh 25, dan balik lagi ke hotel untuk packing plus check out. Gue bahkan sampai lupa kalau waktu penyewaan motor sudah habis di pukul 12.00 WIB. Terpaksa lah kami extend lagi. Terakhir, kami pergi ke distro daerah Sleman. Ujung-ujungnya, kami sampai di Stasiun Lempuyangan pukul 14.30 WIB. Padahal kereta berangkat pukul 14.45 loh!
 
Kereta Berhenti di Stasiun Purwokerto

Berpisahlah kami di sini. Sumpah, sedih banget moment begini. Ulil pulang pakai shuttle dari Terminal Jombor menuju ke Semarang. Sedangkan Dian sudah lebih dulu pulang naik bis dari Terminal Jombor menuju ke Demak. Sedangkan gue sama Dhea naik kereta menuju ke Jakarta. 3 hari bareng-bareng rasanya singkat banget. Pengen nangis boo waktu itu. See ya next time. Bhay, Gais!          

Kamis, 10 Agustus 2017

Part II: Bermalam di Pantai Paling Sempurna


Pantai Srau, We are Comin’
Setelah di briefing sama mas-mas tadi, langsung meluncur lah kami ke Pantai Srau dengan harap-harap cemas. Cemas karena takut kesasar, takut kehujanan karena saat itu cuaca sudah super mendung plus angin yang super kencang, dan takut juga kalau ternyata Pantai Srau justru lebih iieeuuwwhh dari Pantai Klayar. Jujur saja, gue membayangkan pantai yang tenang, dan landai, seperti di iklan Silver Qu*en (*hehehe).

Welcome to Srau Beach
Baru saja jalan sebentar, tantangan demi tantangan langsung menghadang. Jalanan rusak, berliku-liku, turunan dan tanjakan yang curam, membuat kami kewalahan setengah mati. Aku dan Dian terpaksa turun dari motor saat kami harus melewati turunan dengan tikungan super tajam, sambil membawa “gembolan” perbekalan yang beratnya nauzubillah. Sedangkan Ulil dan Dhea, menyetir motor pelan-pelan.  
“Bismillah,” kata Dhea. 
“Kita ki sangar banget loh jan ne. Jalanan ora iso dilewatin motor, kita lewatin sambil boncengan malahan,” seru Ulil sesaat setelah kami berhasil sampai di jalanan datar.
Gue sama Dian cuma bisa diam, karena masih ngos-ngosan sehabis menuruni jalanan curam. Sedangkan Dhea masih mengumpulkan nyawanya yang sedikit tercecer.  Sejujurnya kita memang sedikit gila sih. Dan gila itu baik biar otak nggak  konslet. Hehehe…

Makan Paling Mewah ya Di Alam Begini
Di tengah kefrustasian, tiba-tibaaaaa…lautan lepas membentang di depan mata kami! Masya Allah, Pantai Srau lebih indah dari ekspektasi. Gue belum pernah ketemu pantai model begini soalnya (*ini ciyusan). Jalanan datar serupa landasan pacu, dan di sebelah kirinya menghampar lautan biru. Sore itu cuaca begitu teduh, ditemani dengan semilir angin pantai, suara gemuruh ombak yang terdengar seperti alunan melodi, pasir putih sehalus bedak, dan sepi seperti pantai pribadi. Sempurna! Sungguh beruntung kami bisa menikmati suasana seindah ini. Nikmat mana yang kau dustakan? Kami hanya terbengong-bengong menyaksikan mahakarya Tuhan.  

Dian Sudah "Eteb"
Sesaat setelahnya, kami langsung berhamburan membuat tenda di balik karang dan pohon bakau. Gue-Dian-Dhea bertugas mendirikan tenda. Sedangkan Ulil bertugas memasak hidangan spesial untuk ciwik-ciwik imut ini (*wkwkwk). Menu makan malam kami adalah tumis buncis lada hitam, kentang goreng, ikan goreng ala Chef Ulil, dan hot choco. Ntaps!

Sehabis makan, kami langsung bergegas masuk ke dalam tenda. Sumpah, dingin, Broh! Gue yang biasanya kebal sama angin saja, kali itu nggak kuat. Berdasarkan pengalaman kami, angin laut justru lebih jahat dari angin gunung sih. Mungkin karena memang dasarnya kami anak gunung, jadi begitu kena angin laut sebentar saja bisa masuk angin. Hehehe…

Di malam yang cerah itu, kami sharing mengenai masalah percintaan. Agak terdengar menjijikkan sih. Tapi kami yang rawrrhh begini juga punya sisi mellow seperti manusia umumnya. Dan ternyata percintaan di umur 25th itu jauh lebih kompleks. Dhea yang sempat mencari pelarian ke gunung, Ulil yang jadi nggak fokus sama kuliahnya, gue yang nggak semangat kerja, dan Dian yang sempat memilih pulang ke rumah di Demak buat menenangkan diri. Lelah bercerita, kami tertidur dengan nyenyak. Hmmm…

Suasana Tenda dan Motor Kami yang Gagah
Pagi hari, setelah cuci muka (*biar keliatan agak cakepan) kami langsung berburu foto di tepi pantai. Bergaya sampai mati gaya. Dari satu angle ke angle lain, demi bisa mendapatkan stok foto selama setahun (*hehehe). Bahkan Dian sampai bete sendiri, dari yang awalnya semangat banget.

Dan faktanya, foto-foto itu membuat lapar ya. Langsung bergegas lah kita masak-masak. Menu pagi itu, ikan goreng ala Chef Ulil (*aslinya sih ikan kemarin terus dimasak lagi sebentar), tumis jamur bawang merah, kentang goreng (*yang akhirnya gagal dimasak karena terkontaminasi pewarna merah dari plastik), mashed potato instan, dan rujak cireng. Semuanya demi perbaikan gizi. Ntaps!

See ya, Pacitan! See ya, Srau!
Saat itu sudah pukul 09.00 WIB, dan kami harus buru-buru packing. Eits, tapi ada peer yang lebih ribet dari sekadar packing tenda nih, yaitu ngeluarin motor dari pasir pantai! Jadi, berhubung kami khawatir itu motor sewaan hilang, kami berinisiatif memarkirkan motornya di depan tenda persis. Satu motor harus dikeluarkan sampai dengan 3 orang loh! Satu orang mengemudikan di depan, satu orang mendorong dari samping, dan satu orang di belakang yang bertugas mendorong, serta mengangkat motor agar tidak tenggalam di pasir terlalu dalam. Dan entah bagaimana ceritanya, saat gue-Dian-Dhea lagi berusaha mengeluarkan motor, si Ulil ini malah repot sendiri dengan motor satunya. Alhasil, ketika motor gue sudah berhasil keluar dari pasir, si Ulil justru membawa motornya semakin ke tengah. Akhirnya kita berempat mati-matian mengeluarkan motor itu sampai bermandikan pasir. Sayang, nggak ada yang ngerekam. Padahal itu moment konyol banget (*hehehe). Well, sekitar jam 10.00 WIB kami bergegas pulang menuju Jogja. Bhaaaaay, Pacitan! Bhaaaay, Srau!  


Bersambung…

Selasa, 08 Agustus 2017

Part I: Klayar Kluyur ke Pantai Klayar


 
4Journ trip to Pacitan dua minggu lalu. Tahu nggak, beberapa hari sebelum keberangkatan, gue jadi nggak fokus kerja dan rasanya happy terus sepanjang hari. Sumpah, gue kangen menggila di jalan sama Ulil-Dhea-Dian. Kudu nunggu setahun dulu untuk bisa ketemu dan quality time begini soalnya. Ter-love lah pokoknya mereka itu. Moodboster gue. Hehehe…

Hyuk Makan Hyuk
Meeting point kami lagi-lagi di Jogja, kota tercinta kedua setelah Semarang. Ulil berangkat ke Jogja dengan naik travel di hari Jumat malam (28/7), dan menginap di hotel untuk semalam. Sedangkan gue-Dian-Dhea, naik kereta dari Stasiun Pasar Senen menuju ke Jogja. Sabtu pagi, kami langsung jemput Kakanda Ulil pakai motor sewaan (*peluk rindu*).  Setelah itu, kami makan syantiek dulu di Malioboro. Begitu perut sudah kenyang, langsung lah kami cus ke Pacitan. Waktu itu pukul 08.33 WIB, dan seharusnya sih sampai di Pantai Klayar sekitar pukul 13.00 WIB. “Seharusnya” loh ya.

Otw to Pantai Klayar
Kali ini partner gue Dhea. Dia sebagai pilotnya, dan gue sebagai navigatornya. Kami jadi leader. Sedangkan Ulil duet dengan Dian. Oia, pagi itu cuaca Jogja sangat syahdu, dengan mendung yang membuat hati jadi tentram. Terlebih jalanan saat itu sepi sekali (*andaikan di Tangerang seperti itu juga). Sayangnya, di daerah Wonosari, hujan turun dengan derasnya. Gue sama Dian terpaksa nyeker, demi sepatu satu-satunya ini terlindungi.

Komuk Bahagia setelah Makan Bakso
Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dahulu di Pasar Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Sumpah demi apapun juga, sebenarnya gue paling benci dan nggak mau ke pasar saat hujan. Kenapa? Karena gue geli sama beceknya. Dan hari itu, gue kudu masuk pasar sambil nyeker. Luar biasa! Demi apa coba? Demi beli udang (*request-an gue), cumi, kentang goreng beku (*request-an Dhea), dan sayuran untuk bahan logistik selama nge-camp. Sialnya, semua yang dicari justru nggak ada (*Pfftt). Ehh…tapi  gue bahagia, karena ketemu sama penjual sandal jepit (*finally). Dan memang dasarnya kami itu kumpulan emak-emak ya, ujung-ujungnya malah belanja yang lain. Kami khilaf beli jajanan pasar yang sudah susah kalau dicari di kota. Kami juga jajan bakso karena sudah kelaparan.


Setelah makan siang ala kadar, kami melanjutkan perjalanan yang masih super duper panjang. “Astagfirullaaaah!”, teriak gue sama Dhea setiap kali ketemu turunan super curam. Kebayang kan, lagi asik ngebut, ehh…tiba-tiba jalanan di depan nggak terlihat, karena ternyata turunan curam. Persis seperti jalur jet coaster. Ditambah kami harus menembus dingin di sepanjang jalan Pracimantoro. Dari yang awalnya pakaian basah, sampai akhirnya jadi kering sendiri.

Oleh-Oleh Tanah dari Klayar
Nah, sekitar 3KM sebelum sampai di Pantai Klayar, kami berhenti demi bisa menemukan logistik idaman. Bahkan sampai ada penduduk setempat yang rela mengantarkan Ulil ke tempat pemotongan ayam dan penjualan ikan (*saking ibanya sama kami). Akhirnya kami prefer membeli ikan, karena keadaannya sudah di fillet. Jadi nggak ribet lagi.
“Mau kemping berapa hari emangnya, Mbak?,” Tanya pedagang kelontong setempat yang keheranan melihat perbekalan kami begitu banyak.
“Semalam aja kok,Bu,” jawab gue sambil cengengesan.
“Oalaaahhh…kirain mau berhari-hari.”  
*Gue cuma bisa tersenyum, karena malu*


Taraaaa…akhirnya sekitar pukul 14.30 WIB, sampailah kami di Pantai Klayar! Iya, kami menempuh 6 jam perjalanan (*warbiyasah)! Bukannya teriak bahagia, kami justru diam seribu bahasa begitu sampai. Kenapa? Karena ternyata Pantai Klayar jauh dari ekspektasi kami. Hemm…tempatnya terkesan jorok (*banyak sampah kelapa), becek (*karena kebetulan habis hujan), ramai, dan entahlah…jauh dari bayangan pantai yang gue harapkan tentunya.

Setelah ormed (orientasi medan), kami putuskan buat bergeser ke Pantai Srau, yang konon katanya lebih bagus dan lebih perawan.
“Oalaaah…mbak, ngapain sih mesti repot-repot bikin tenda? Wong di sini udah banyak homestay enak. Lagian ini mau ujan loh,” timpal seorang tukang parkir begitu tahu kami lebih memilih bersusah-susah ria buat diriin tenda.
“Lah, orang kami ke sini niatnya emang mau kemping kok, Mas,” jawab Dhea sengit.
Hahaha…syukurin (*batin gue*)

 
Nah, kalau lihat di maps, jarak dari Pantai Klayar ke Pantai Srau lumayan jauh. Dan butuh waktu 1 ½ jam lagi! Tapi beruntunglah ada mas-mas baik hati yang menyarankan kami lewat jalan tikus demi menghemat waktu. Selisihnya bisa sampai 1jam loh.
“Pokoknya dari pintu masuk, belok kanan. Terus pertigaan, kanan lagi. Abis itu belok kiri, terakhir kiri lagi. Belokan yang kedua itu jangan sampai salah loh, Mbak. Kalau salah, nanti malah ke Klayar lagi. Nanti kalo udah lewat sungai-sungai, brarti udah bener itu. Pertigaannya deket-deket kok. Tapi jalannya juga agak rusak loh ya,” si Mas menjelaskan panjang kali lebar dan penuh semangat.

(*Kriiik..kriiik…) Kami bertiga cuma terbengong-bengong. Kemudian Dian sadar, dan langsung berinsiatif buat ngerekam, lalu meminta si Mas-nya buat nge-replay semua omongannya dari awal. Hehehe…
 

Bersambung… 

Kamis, 20 Juli 2017

Jalan-Jalan ke Kandang Godzilla di Tebing Koja


Bingung mau kemana di weekend ini? Coba saja kunjungi Tebing Koja. Atau nama bekennya Tebing Koja Kandang Godzilla. Eits, ini bukan karena ada Godzilla seperti di film Ultramen loh ya. Jadi, bila kita melihat dari sudut tertentu, ada formasi batuan yang bentuknya menyerupai seperti Dinousaurus (*menurut saya). Jadi mungkin itu kenapa kemudian disebut sebagai kandang Godzilla.

Danau untuk Lokasi Mancing
Tebing Koja berada di Dusun Koja, Desa Cikuya, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang (*bisa dituju dengan bantuan Waze). Sesuai dengan namanya, di sini kalian bisa melihat formasi batuan tinggi yang masih alami. Bila kita berdiri di sisi bawah tebing, kita serasa seperti berpetualang ke negeri antah berantah. Cantik sekali. Ditambah dengan adanya hamparan hijau persawahan dan sebuah danau berwarna hitam yang terkesan begitu mistis (*hati-hati bila berada di sisi danaunya, karena katanya danaunya cukup dalam).

Menurut cerita warga, Tebing Koja awalnya adalah sebuah tempat penambangan pasir selama 7 tahun. Hingga akhirnya ditinggalkan oleh para penambang, karena dianggap sudah tidak lagi produktif lagi. Lambat laun, masyarakat sekitar sering memanfaatkan untuk memancing. Dan lama-lama justru menjadi terkenal seperti sekarang ini berkat kekuatan sosial media.

Sudut Dimana Formasi Batuan Terlihat seperti Godzilla 
“Dulu saya sering mancing di sini tiap malam, Mbak. Ikannya banyak. Ada ikan mujair sebesar telapak tangan orang dewasa. Dulu mah sepi. Saya nggak tau kenapa sekarang jadi ramai banget,” cerita seorang warga sekitar kepada saya saat sedang bersantai di bawah gubuk.
“Iya, bener. Saya heran orang-orang pada bilang ada tempat wisata baru, Tebing Koja namanya. Makanya saya penasaran ke sini. Dan oalaaaahh…ternyata tempat saya biasa mancing,” timpal seorang Bapak paruh baya.

Nah, kalau kalian mau ke sini, nggak perlu merogoh kocek dalam kok. Cukup membayar Rp 8rb. Rp 3rb untuk membayar di pintu depan, kemudian Rp 3rb di pintu masuk, dan terakhir Rp 2rb untuk biaya parkir kendaraan bermotor. Selamat weekend!

Senin, 17 Juli 2017

Menjelajahi Tangerang Pertama Kali dalam 25Th!


Judulnya terkesan lebay ya? Hehehe…tapi memang begitu faktanya. Selama 25th di Tangerang, gue cuma tahu sebatas Tangerang kota sampai Serpong buat hunting di mall-mall-nya saja. Itu juga sering kali di antar bokap. Jadi, jangan pernah tanya soal jalan di Tangerang sama gue. Tapi kalau soal jalan di Jawa Tengah, gue ratu jalanannya loh (*bangga). Hehehe…

Nah, minggu lalu itu pertama kalinya gue pergi ke antah berantahnya Tangerang. Sumpah, excited banget. Sudah lama juga nggak ngetrip pakai motor kan. Seharusnya sih pergi berenam. Tapi di hari H keberangkatan, cuma sisa gue dan Fibi (teman gue dari jaman SMA) yang nongol. Jadilah kita pergi berdua, macam lagi blind date gitu.

Tugas gue kali itu jadi navigator, bukan jadi pilotnya (*ini enaknya pergi sama cowo). Sambil pegang tongsis, gue juga sibuk mantengin hape buat lihat petunjuk Waze. Di tengah jalan, keadaan macet total karena lagi bubaran karyawan pabrik. Si Fibi mulai kesal.
“Ini belok ke kiri bisa nggak? Coba cek jalannya,” suruh Fibi ke gue.
“Hemm…kalau diliat di Waze sih bisa ya. Ini jalannya nyambung. Tapi emang jadi agak jauh. Gimana, Bi?” jawab gue ragu-ragu, karena biasanya Waze ini suka ngerjain.
“Yaudah, hajaaaar!,” teriak Fibi.

Begitu lagi happy-happy-nya menikmati jalanan yang kosong melompong, tetiba petunjuk si Waze ini hilang!
“Bi, ini jalurnya ilang. Gimana nih? Udah gue coba tapi tetep nggak bisa. Kayaknya emang ini nggak ada jalan potongnya deh,” jawab gue panik.  
“Coba kalo ketik ke Situ Tenjo bisa nggak?”
“Nah, kalo ke sana muncul nih. Tapi emang bisa ya dari Tenjo ke arah Cisoka?”
“Bisa lah. Yaudah, arahin ya.”

Selang 5 menit kemudian…
“Ini jalannya bener, Vel? Lw nggak salah liat Waze kan,” Tanya Fibi galau.
“Hahaha…bener lah. Arahnya emang ke sini kok”
Jalan yang dipilih si Waze ini adalah jalanan super hancur, becek, dan melewati kawasan industri yang super sepi. Jujur gue juga agak was-was. Kalau sampai jatuh, takut nggak ada yang nolongin. Takut ada jambret juga. Ahh…pokoknya takut macam-macam deh.
“Ehh…Bi, ada cabe tuh!,” spontan gue bilang begitu saking senangnya melihat ada segerombongan perempuan melintas di jalanan sepi. Hehehe…
“Diem lw ye. Boro-boro bisa ngelirik cabe. Gue lagi fokus nyetir nih. Ntar kalo kita jatoh gimana?,” jawab Fibi keki.
*Gue langsung kicep*

Sesampainya di peradaban, setelah jalan selama 45 menit...
 “Tuh, kalo lurus terus, dikit lagi sampe di Stasiun Tigaraksa,” kata Fibi sok ngasih tahu gue.
“Ini di samping kanan, Lapangan Golf Tigaraksa, Vel.”
*Gue cuma manggut-manggut*
“Ehh…ntar dulu, kok kita di sini ya? Ini mah kalo lurus terus jadinya ke Tenjo, Vel. Kita salah jalan tau. Lw kok ngarahinnya ke sini sih?,” si Fibi baru nyadar kalau kita nyasar.
“Lah, kan elu tadi yang nyaranin gue pilih jalan ke Situ Tenjo, Bi. Gue jitak juga lw yee,” jawab gue mulai kesal.
“Coba lw langsung ketik aja Danau Biru Cigaru. Kita udah deket kok. Tenang, tenang. Hahaha,” Fibi coba menenangkan gue yang mulai eteb.

Sudah persis seperti bocah hilang belum?
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, sampai juga lah kita di Danau Biru Cigaru. Yeyeye! Danaunya cakep. Warna birunya bikin tenang saking jernihnya. Tapi berhubung kita ke sana pas hari Sabtu, jadinya ramai banget. Gue sampai bingung buat pilih spot fotonya. Apalagi di bibir danau dipasangi bambu sebagai pembatas. Menurut gue jadi bikin pemandangannya kelihatan berantakan. Ditambah di sana panas banget. Hilang lah semangat gue buat hunting foto. Tapi wajar sih ya, itu kan danau bekas penambangan pasir. Di sana kita cuma ngabisin waktu di bawah gubuk buat jajan (*Hehehe). Oia, untuk masuk ke sana banyak punglinya loh. Ini yang gue sayangkan.   

Setelah puas, kita langsung kuy ke Tebing Koja. Jaraknya dekat banget dari Danau Biru. Paling hanya 10menit. Dari lokasi parkiran, kita masih harus turun ke bawah. Menurut gue, pemandangan di Tebing Koja cukup “wow”. Bagaimana bisa, hasil dari exploitasi alam bisa jadi mahakarya yang sebegitu indahnya? Meski panas, gue semangat buat menjelajahi Tebing Koja. Alhasil gue narik-narik Fibi ke sana kemari buat jadi Kang Foto gue (*mianhae).
“Aahhh…apa gue bilang, Vel. Sawahnya lagi jelek kan. Pemandangannya jadi cokelat gitu,” gerutu Fibi.
“Yaudah lah, Bi. Nanti kita ke sini lagi 6 bulan dari sekarang ya. Pasti pas ijo tuh,” gue mencoba nenangin Fibi sambil nyengir kuda. Soalnya gue yang tetap maksa pergi ke Tebing Koja , meski si Fibi sudah bilang view-nya lagi jelek bulan ini.
“Yuk, kita beli es aja,” rayu gue.
Hayu deh,” jawab Fibi luluh.

Lagi tenang-tenangnya ngaso, si Fibi malah sibuk cekikikan sambil ngerekam ibu-ibu hebring yang berisiknya ngalahin para ABeGeh. Hasil rekamannya di post pula di Whatsapp. Hadeeehh…nih bocah ada-ada saja.

“Bos, balik yuk!,” ajak gue.
“Yakin? Lw udah puas belum foto-fotonya? Udah capek? Mau difotoin lagi nggak?,” ledek Fibi.

“Udah, Bos. Udah banyak nih buat di instagram. Wkwkwk.”

Note: Thanks a lot sudah ngajak gue nyasar seharian, Bos.            

Jumat, 14 Juli 2017

Danau Biru Cigaru, Si Biru dari Tangerang


Ada yang baru niiiiiih dari Tangerang. Wisata Tangerang sekarang bukan cuma mall dan pabrik saja loh. Sekarang ada wisata alam Danau Biru Cigaru. Lokasinya di Desa Cigaru, Kecamatan Cisoka, Tigaraksa-Kabupaten Tangerang. Oia, di aplikasi Waze sudah ter-record kok jalannya. Jadi jangan khawatir nyasar, karena lokasinya mudah ditemui meski minim papan petunjuk jalan.

Danau ini awalnya merupakan bekas penggalian pasir. Setelah penggalian dihentikan, lama-lama bekas penggalian mulai tergenang air, dan tarraaa…jadilah danau seperti sekarang ini. Sesuai dengan namanya, danau ini memang berwarna biru jernih. Kedalamannya mencapai 50Meter! Iya, 50Meter. Jadi jangan coba-coba berenang di sini ya. Lebih asik naik perahu. Bisa foto-foto syantiek, hanya dengan membayar 5ribu saja kok.

Kalau menurut saya, Danau Biru Cigaru ini, seperti kembaran dengan Telaga Warna di Dieng. Kenapa? Karena di samping danau yang berwarna biru, terdapat juga danau berwarna hijau. Sama-sama cantik. Bedanya, kalau Telaga Warna lebih teduh suasananya. Kalau Danau Biru panas bingits. Saran saya sih, akan lebih baik bila mengunjungi Danau Biru saat pagi atau sore hari.

Selamat menjelajah Tangerang!       

Note: HTM 5rb/motor