Jumat, 30 Desember 2016

Sebuah Mimpi

“This is the day I always waiting for this whole life. Dressed as a princess of Java. Wearing pretty maroon Kebaya tops, and Javanese headpieces that weight almost 2kg. I choose Paes Solo Putri as the theme of our make up and wardrobe as I have a blood of Solo (one of city in Java island) from my mom.”


Itu sepenggal caption foto pernikahan salah seorang teman, yang (tanpa sengaja) aku lihat di beranda Facebook. Beruntung. Sangat beruntung. Dia bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginannya di hari yang sangat spesial. Ini pertama kali dalam hidup, aku iri dengan kebahagian seseorang. Bahkan teramat sangat iri. Tanpa sadar aku menangis, dan marah atas semuanya. Aku merasa betapa Tuhan telah berlaku tidak adil.

Banyak orang yang bertanya-tanya, penyebab gagalnya acara pernikahanku kemarin. Dan ya, masalah berbusana memang menjadi salah satu penyebab utamanya. Aku jelaskan, bahwa aku memang tidak mau mengenakan hijab di hari penikahanku. Aku merasa, berhijab adalah sesuatu yang sakral, yang turun dari hati nurani. Bukan atas dasar paksaan orang lain, atau demi orang lain. Bahkan bukan demi dia yang kucintai. Aku memiliki batas waktu tersendiri, kapan aku akan mulai mengenakannya sesegera mungkin. Berhijab atau tidak, menjadi tanggung jawab setiap individu dengan Tuhannya. Aku memilih jalanku dengan kesadaran. Jadi, jangan pernah paksa aku untuk mengenakan itu. Aku egois? Ya. Aku keras kepala? Memang. Aku bodoh? Ya. Aku tidak peduli dengan semua pemikiran orang terhadapku. Aku memilih mundur, karena  aku tidak ingin menjadi orang yang munafik. 


Aku memang tipe yang tidak pernah mau mengalah, demi meraih sesuatu yang menjadi mimpi atau cita-citaku. Sejak kecil, aku selalu berdoa dan berharap, bila suatu hari nanti aku bisa mengenakan baju adat Jawa Dodotan, lengkap dengan sanggulnya di hari spesialku. Sebuah acara yang syarat akan tradisi Jawa. Aku selalu membayangkan, betapa aku akan terlihat cantik. Di sampingku, berdiri dia yang terlihat gagah dengan setelan serupa. Iya, mungkin itu sebuah mimpi konyol bagi kebanyakan orang. Aku memang tidak pernah membayangkan sebuah pesta pernikahan yang mewah. Aku hanya ingin mengenakan itu. Bukan baju kebaya muslim, lengkap dengan hijabnya. Bukankah Tuhan Maha Mengetahui? Seharusnya Dia mengerti apa yang menjadi mimpiku sedari dulu. Apakah aku salah jika hanya meminta kesempatan itu? 

Senin, 26 Desember 2016

Hey, kamu yang jauh di sana…

Kamu tahu, tahun ini menjadi tahun paling berat yang harus kulalui. Ternyata tidak mudah untuk berdamai dengan perjalanan yang baru. Aku selalu rindu ucapan selamat pagi, yang dapat menjadi sebuah semangat hariku. Hampir setiap menit, tanpa sadar aku mengecek pesan di handphone. Berharap ada seseorang yang menanyakan kabarku, seperti yang selalu kamu lakukan dulu. Nyatanya tak pernah ada. Bahkan saat masalah datang menyergap, seringkali aku hanya dapat terdiam, karena aku tidak tahu siapa lagi yang harus kutuju untuk menumpahkan semua kerisauan. Hampa. Aku tidak terbiasa dengan semua ini.

Sa, apa kamu masih ingat berjanji satu hal? Seharusnya di tahun depan, kita bisa menikmati puncak ketinggian sama-sama. Andaikan aku tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin kemarin aku akan merengek seperti anak kecil demi bisa pergi. Menikmati sesuatu yang selalu ingin aku lakukan bersama kamu, yang nyatanya tidak pernah dapat terwujud. Ahh...sudahlah. Tapi aku percaya, kita selalu berdiri di puncak yang sama, hanya dalam kondisi jarak dan waktu yang berbeda.

Oia, apa kamu sehat? Apa kamu baik-baik saja? Akhir-akhir ini, langit nampak tak bersahabat. Apakah pekerjaanmu menjadi lebih berat, seperti setiap kali badai datang? Aku rindu ceritamu yang begitu menantang, Sa. Dan yaa…terlalu banyak tanya yang selalu ingin kupastikan setiap harinya. Aku cuma berharap, semoga kamu selalu sehat, dan selalu tertawa, karena dengan tawa, aku yakin semua pasti baik-baik saja.

Sincerely,
I.V.W.

Sabtu, 17 Desember 2016

Kotak Kebahagiaan


“Kamu itu jadi anak maen melulu! Ngabisin uang terus
“Bisa nggak sih anteng di rumah sebentar aja?:”
“Ngapain sih naek gunung? Nggak bisa ya pergi ke tempat laen?
“Bisa nggak, kalo nggak pergi ke gunung? Bikin khawatir orangtua aja!”

Ya, itu beberapa kalimat yang seringkali meluncur dari mulut wanita–yang kerap ku panggil Ibu, ketika aku memintanya ijin untuk naik gunung atau pergi ke satu kota. Aku sadar, betapa khawatirnya seorang Ibu saat anak perempuannya yang selalu “pecicilan” ini, ingin pergi ke tempat yang menurutnya “antah berantah”. Berulangkali aku coba menjelaskan, bahwa naik gunung dan menjelajahi tempat baru tidak selalu tentang marabahaya. Tidak pula selalu tentang foya-foya. Namun, sepertinya sia-sia saja.

“Kamu tahu, pergi maen begitu nggak ada gunanya!”
“Daripada diabisin buat maen, uangnya mending ditabung. Jangan dihamburin!”
“Kamu itu keluyuran terus, kayak nggak punya rumah”
“Ini yang terakhir ya kamu pergi maen”

Setali tiga uang dengan Ibu. Ayah pun menganggap apa yang kulakukan hanya hal yang tidak ada artinya. Andaikan Ayah dapat mengerti, apa yang kulakukan tidak seburuk itu. Bahkan ketika aku dibutuhkan, aku orang pertama yang selalu ada untuk keluarga. Bagiku, pulang dan keluarga adalah dua hal yang tidak dapat tergantikan dengan apapun.
   
Ayah-Ibu, bukankah setiap orang memiliki kotak kebahagiannya masing-masing? Andaikan kalian dapat mengerti, mendatangi tempat baru, dan berada di atas ketinggian adalah satu kebahagian tersendiri bagiku. Sesederhana itu. Absurd memang. Seabsurd Ibu yang lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di dalam mall, dan seabsurd Ayah yang suka menghabiskan banyak uang demi hobi (bagiku).

Dari perjalanan singkat ini, aku belajar banyak hal, yang tidak mungkin aku dapatkan di rumah. Aku suka berkenalan dengan mereka yang baru pertama kutemui, berbagi banyak cerita, mempelajari karakter setiap orang, mengenal budaya baru, mencicipi makanan unik, belajar bahasa daerah, dan masih banyak hal lainnya. Apa semua itu bisa aku dapatkan, jika hanya duduk manis?

Sedangkan berada di atas ketinggian, merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku. Tidak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan mencium aroma tanah basah, mendengarkan simfoni alam, menikmati terpaan angin dingin, memandang kelap-kelip cahaya lampu kota, dan kemudian menikmati secangkir kopi hangat. Konyol memang. Namun terkadang segala sesuatu memang datang tanpa alasan, bukan?

Bagiku, semua perjalanan ini adalah sebuah investasi di masa depan. Tidak ada yang sia-sia. Aku dapat merekam apa yang kulihat, dan kudengar, untuk kemudian kutuangkan ke dalam tulisan. Meski hanya berupa paragraf tidak bermutu, tapi aku percaya, itu lebih bernilai dari apapun. Daripada aku harus menghabiskan uang demi berbelanja barang, yang lambat laun dapat menjadi usang.

Selain itu, demi memenuhi hasratku ini, aku berjuang dengan menabung sendiri. Seluruh kebutuhanku, dapat kupenuhi setiap bulannya. Sedikitpun aku tidak pernah mengalami kekurangan finansial, dan meminta Ayah ataupun Ibu. Lalu?

Berbahagialah mereka yang dapat mengisi kotak kebahagiannya dengan kebebasan hati. Semoga suatu hari, aku pun demikian. Bebas menjelajahi tempat baru, tanpa harus dipenuhi dengan perdebatan yang melelahkan.

Senin, 12 Desember 2016

Part III: Pemandangan 360 Derajat dari Puncak Gunung Bongkok


Menjelang subuh, sekitar pukul 04.00 WIB, Nur dan Rohmah sudah bangun demi berburu sunrise. Gue jadi ikut kebangun, gegara suara “merdu” mereka. Sayangnya, meski sudah ditunggu hingga pukul 06.00 WIB, matahari tetap nggak terlihat. Hanya semburat keemasannya saja yang terlihat di ufuk timur. Yap, pagi itu cuaca memang agak sedikit mendung, awan gelap nampak menghalangi. But it’s ok, suasananya malah jadi syahdu kok (*Hehehe).

Berdiri di Atas Batu Tumpuk

Pemandangan dari Atas Puncak Batu Tumpuk I
Track Menuju ke Puncak Batu Tumpuk I

Akhirnya kita sepakat untuk nggak ke Puncak Datar II, dan langsung menuju ke Puncak Batu Tumpuk I. Toh, matahari juga nggak terlihat. Lagipula kita dikejar waktu, sebisa mungkin sampai di basecamp sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum menuju ke puncak, kita masak-masak ceria dulu, dan langsung packing. Begitu sampai di persimpang jalan semalam, Bang Madi memutuskan untuk nggak ikut ke atas, karena kelelahan dan demi menghemat tenaga untuk turun nanti katanya. Kita berlima pun cus dengan menitipkan seluruh bawaan ke Bang Madi. Perjalanan menuju ke atas benar-benar nggak bisa dikatakan mudah. Kemiringan track sampai 75 derajat, dan sempit. Kita benar-benar harus ekstra hati-hati. Lalu, tarraaaa…hamparan awan putih yang nampak seperti gumpalan awan langsung menyambut kita. Huwaaa…it’s totally awesome view! Dari Puncak Batu Tumpuk I, kita bisa lihat keseluruhan Kabupaten Purwakarta secara 360 derajat. Iya, 360 derajat! Biasanya di puncak kita cuma bisa lihat pemandangan secara 180 derajat saja kan. Dan ini benar-benar pemandangan yang luar biasa. Waduk Jatiliuhur, undakan persawahan hijau, gunung-gunung, semuanya bikin gue berasa bahagia banget. Indonesia itu indah! Nggak harus pergi ke luar negeri, cukup begini saja gue udah senang banget-nget-nget. Gue bersyukur bisa menginjakkan kaki di Gunung Bongkok. Oia, di sini kita ketemu lagi dengan pasangan pendaki yang semalam. Kita diajak foto bareng, dan dikasih stiker sebagai kenang-kenangan. Huweee…dapet teman baru lagi deh. Setelah puas foto-foto, kita memutuskan untuk bergegas turun.       
 
Teman Baru dari Subang
Perjalanan turun nggak bisa secepat seperti yang gue estimasi, karena nyatanya tetap membutuhkan waktu 2 jam! Sama seperti saat mendaki. Hanya gue dan Fibi yang lincah saat turun. Selebihnya tertatih-tatih. Beberapa kali kita berdua harus duduk santai dulu, buat nunggu yang lain. Dan gue benar-benar nggak enak sama Bang Madi, karena dia turun sampai harus ngesot, akibat sandalnya licin. Sedangkan gue nggak bisa bantu apa-apa. Mianhae. Beruntunglah saat itu nggak turun hujan. Gue nggak bisa bayangin, apa jadinya tuh jalur kalau ditambah dengan guyuran air hujan. Sepanjang jalan turun kita berdecak kaget, karena ternyata jalur yang kita lalui semalam benar-benar hardcore. Soalnya saat pendakian malam, jalurnya nggak terlalu kelihatan.

Nah, pada saat turun ini, yang jadi leader-nya si  Fibi. Di tengah perjalanan, dia salah memilih jalan. Dia justru memilih jalan alternatif, dimana ngebuat kita langsung sampai di basecamp dan nggak ngelewatin Pos II. Kalau jalur normal, bentuknya menyerupai huruf “U”. Sedangkan jalur ala si Fibi, cuma jadi segaris lurus saja. Akhirnya kita semua langsung ngecengin dia habis-habisan. Pasalnya, gegara dia potong kompas, kita jadi gagal buat foto di rumah pohon, dan di atas ayunan ala Maribaya Bandung, yang cuma ada di Pos II. Padahal kan kita udah nyiapin pose-pose terbaik sepanjang masa (*hehehe). Gegara Fibi juga, badan gue jadi gatal-gatal hebat kena *lugut (*Kalau yang orang Jawa pasti paham maksud gue. Hehehe). Soalnya sepanjang jalan yang kita lewatin pohon bambunya lebih rimbun, dan gue cuma pakai celana plus kaos lengan pendek. Fibi pun beralasan, keuntungan dari dia salah jalan adalah perjalanan turun jadi bisa lebih cepat. Hahaha…whatever lah, Bi.
 
Perjalanan Pulang 

Setelah bersih-bersih, kita pun meluncur ke Stasiun Purwakarta untuk naik kereta yang keberangkatan jam 14.00 WIB. Nah, begitu masuk di Stasiun Cikampek, suasana stasiun ramai sekali dengan massa pembela Islam, atau apapun lah itu sebutannya. Begitu kereta berhenti, mereka langsung mendobrak pintu kereta, sampai terdengar “braaaakk..”. Kencang sekali. Sambil mengucapkan “Allahu Akbar” berulang kali. Banyak penumpang yang ketakutan, termasuk gue. Anak kecil saja sampai ada yang langsung nangis jerit-jerit. Asli deh, kayak pengen diarak aja kita. Seketika kereta langsung penuh sesak. Panas sekali. Bangku yang harusnya diisi bertiga, langsung dibikin jadi berempat, gegara pantat gue irit. Gue langsung emosi bawaannya. Sialnya, kereta yang harusnya sampai di Stasiun Jakarta Kota pukul 16.35 WIB, justru melar sampai pukul 18.30 WIB. Selama itu pula gue jadi pepes di dalam kereta. Ujung-ujungnya, kita sampai di Tangerang sekitar pukul 20.00 WIB.  Hufftt~

Part II: Bersahabat dengan Angin dan Pohon Bambu di Gunung Bongkok


Sambil menunggu Emil dan Fibi sholat, gue sama Bang Madi ngobrol dengan penjaga basecamp di bawah rindangnya pohon bambu, yang terus bergoyang kencang akibat tiupan angin. Kita lalu memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Penjaga basecamp yang paham dengan kekhawatiran kita, akhirnya berusaha menenangkan dengan kata-kata saktinya.  
“Tenang aja, di atas udah ada 2 rombongan yang naik kok tadi. Di persimpangan jalan juga udah ada 2 orang kita yang nungguin. Jadi, pasti aman,” kata si Akang dengan mantap.

(Foto Perjalanan Turun) Pohon Bambu di Sepanjang Jalur
Jadi, saat nanti kita sampai di persimpangan jalan, itu artinya kita sudah dekat dengan puncak. Bila ke kiri, jalanan agak menanjak, dan kita akan sampai di Puncak Batu Tumpuk I atau Puncak Singeluk I. Puncak Batu Tumpuk I , lebih bagus untuk menikmati matahari terbenam. Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit saja untuk sampai ke sana. Tapi kita nggak boleh mendirikan tenda di sana, karena lokasinya sempit, tidak ada pepohonan yang dapat melindungi, sangat nggak disarankan. Sedangkan bila kita ke kanan, jalan akan menurun, dan kita akan sampai di Puncak Batu Datar II. Puncak Batu Datar II ini, lebih bagus untuk menikmati matahari terbit. Nah, di sinilah kita boleh mendirikan tenda, karena lokasinya lebih aman. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja kok.

Tetiba angin langsung bertiup dengan lebih kencang, lengkap dengan efek suara “kreek…kreeekk...”. Gue sama Bang Madi langsung liat-liatan. Gue sendiri sampai nelen ludah. Serius deh, ini tuh bukan kayak angin biasa.
“Tenang aja. Aman kok, Bang Madi. Selama nggak hujan sih,” kata gue sok berani sambil pasang komuk cengengesan. Padahal aslinya gue parno juga.
(Bang Madi cuma senyum aja saat itu)

Setelah semua siap, kita pun langsung memulai pendakian ditemani dengan seorang penjaga basecamp, yang rencananya hanya sampai di Pos II saja. Bayangan gue, jarak dari basecamp hingga ke Pos II itu jauh, dimana butuh waktu sekitar 30-45 menit. Dan gue nggak tega dengan penjaga basecamp itu, karena berarti nanti dia harus balik sendirian. Ehh…tapi ternyata jaraknya dekat, cuma sekitar 10 menit saja. Jyaahh…gubrak! Nah, mulai dari Pos II ini kita harus melanjutkan pendakian sendiri. Langsung lah kita semua mematung. Kenapa? Karena jalur yang awalnya cuma ditumbuhi rerumputan dengan pohon-pohon kecil di kiri dan kanannya, tiba-tiba berubah menjadi semacam pemandangan hutan bambu yang nampang tak berujung. Gue cuma bisa bilang, “astagfirullah”.

(Foto Perjalanan Turun) Celah Sempit Antara Pohon & Batu 
Awalnya Nur minta Bang Madi buat jadi leader. Tapi Bang Madi menolak, dan justru minta Nur yang jadi leader. Akhirnya gue minta Fibi, tapi dia juga nolak mentah-mentah, karena alasan baru pertama kali naik. Sedangkan Emil lebih memilih menjadi sweeper, sembari menjaga Rohmah. Well, berhubung nggak ada orang lagi, terpaksa posisi leader gue yang ambil alih. Sejujurnya sih gue takut luar biasa. Masuk rumah hantu di mall aja gue merem sambil pegangan kuat-kuat sama teman. Lah, kali ini gue malah harus masuk “rumah hantu” sungguhan, lengkap dengan berbagai efeknya, dan gue juga harus tetap berusaha setenang mungkin. Omaigaaat…mimpi apa gue semalam? Ini pengalaman pertama gue jadi leader, dan langsung dihadapkan dengan keadaan sehoror itu. Tahu sendiri kan, pohon bambu itu tempat siapa? *IYKWIM*

“Bismillah”, adalah kata pertama yang gue sebut sebelum memulai pendakian. Gue pun langsung menghela nafas panjang, dan mulai berjalan perlahan. Gue cuma berani menyorotkan sinar senter lurus ke depan, dan tetap fokus ke satu arah. Gue sama sekali nggak berani ngelihat ke arah lain. Sembari sedikit bercanda, gue terus berdoa dalam hati. Seingat gue, itu adalah moment paling religius dalam hidup gue. Eniwei, semakin ke dalam ternyata medannya semakin sulit. Saking sulitnya, beberapa kali gue sampai tersandung akar pohon, dan kaki gue masuk ke dalam becekan yang tertutup daun bambu. Meski begitu, ternyata gue berjalan terlalu cepat. Beberapa kali gue terpaksa berhenti agar barisan tetap rapat.

Jalur yang Kami Lalui Untuk Sampai ke Pos II
Di tengah jalan, gue lihat Nur agak kerepotan melangkah, akibat dari menenteng goodie bag dan lampu emergency-nya. Benar saja kan apa yang gue khawatirkan kemarin sebelum berangkat. Akhirnya terpaksa gue yang bawa goodie bag-nya. Nggak berat sih, tapi membawa sesuatu di luar ransel tentunya akan terasa menyulitkan dalam pendakian. Terlebih dengan medan yang susah seperti ini. Gue lihat Rohmah juga kesulitan melangkah, karena membawa matras di luar ransel. Lagi-lagi terpaksa gue yang bawa. Padahal biasanya kalau mendaki sama teman-teman komunitas, gue yang selalu jadi anak bawang, intinya tinggal jalan manis saja. Apa-apa dibawain, apa-apa ditungguin, dan pasti gue dilindungin. Tapi kali ini justru berbeda. Dan entah karena faktor apa, tapi saat itu gue benar-benar dalam kondisi terbaik. Sama sekali nggak berasa capek, nggak berasa mual seperti kemarin di Gunung Lembu, nggak ngantuk, nggak kedinginan, dan lama-lama nggak takut lagi.

Saat sedang asik berjalan, tiba-tiba kita sampai di sebuah jalan yang agak sedikit membingungkan. Di sebelah kanan, jalannya menanjak dan cukup terjal. Sedangkan di sebelah kiri terlihat lebih landai. Tapi ternyata di ujung jalannya, ada sebongkah batu besar yang menutupi. Terpaksa kita putar arah lagi, dan bersusah payah melewati jalan terjal. Sampai kemudian, jalur berubah menjadi semacam celah sempit yang menanjak. Celah tersebut berupa pohon dan batuan besar. Akhirnya Emil berjalan di depan. Disusul dengan Bang Madi, yang sampai harus dibantu ditarik dan didorong. Kemudian Rohmah, Nur, gue, dan terakhir Fibi. Sekitar berjalan 10 menit, sampailah kita di persimpangan yang di maksud oleh penjaga basecamp di bawah.

Punggungan Gunung, Tempat Menikmati Citylight
Di sini kita bertemu dengan sepasang pendaki. Mereka mengatakan sudah mencoba turun ke lokasi Puncak Datar II, namun karena ragu akhirnya mereka memutuskan kembali lagi.
“Tadi udah coba turun. Tapi ragu karena nggak ada petunjuknya. Soalnya makin ke dalem, jalurnya makin sempit, makin curam, kayak nggak pernah ada orang yang ngelewatin, dan nggak sampe-sampe juga. Makanya kita balik lagi,” kata si Mbak mencoba menjelaskan.
Yaudah deh, kita coba turun. Cowo dong turun duluan,” gue ngasih perintah ke temen-temen.
Kriikk…kriikk…*Hening* (Akhirnya gue juga yang harus turun duluan)
“Masa sih cewe yang buka jalan? Harusnya ini cowo loh. Jalannya pelan-pelan aja, Mbak. Agak licin loh jalannya,” kata si Mbak khawatir ke gue.
(Duhh…gue jadi terharu diperhatiin gitu.*Lebay*)
“Iya,Mbak. Tenang aja,” jawab gue tenang.

Saatnya Masak-Masak
Gue senang banget ketika akhirnya bisa sampai di punggungan gunung. Gue bisa ngeliat kelap-kelip lampu kota, yang seperti bintang. Cantik sekali. Gue langsung berubah jadi bocah lagi, teriak-teriak kegirangan. Moment begini yang selalu sukses membuat gue rindu akan gunung. Duduk manis, ditemani dengan angin dingin khas pegunungan yang menerpa wajah, menghirup segarnya aroma tanah basah, dan pemandangan citylight yang menawan, yap…what a perfect life! Nikmat mana yang kau dustakan? Bahagia itu sederhana buat gue.

Sedikit lagi berjalan ke bawah, sampailah kita di sebuah tanah datar yang cukup luas. Sebenarnya itu belum lokasi Puncak Batu Datar II. Namun karena kita nggak melihat lagi adanya jalur, jadilah kita mendirikan tenda di sana. Lagipula sudah larut malam, dan angin juga semakin kencang. Begitu tenda sudah berdiri, kita pun segera menyeduh kopi dan cokelat hangat, sembari menertawakan kegilaan kita sepanjang perjalanan di hari itu. Ahh…senang sekali!


Sekitar pukul 23.00 WIB, kita pun masuk ke tenda masing-masing. Nur dan Rohmah langsung tertidur pulas. Tinggallah gue yang masih semangat 45. Gue cuma bisa menikmati suara tiupan angin, yang terdengar seperti suara hujan, sambil sesekali memegangi tenda untuk memastikan keadaan. Gue khawatir frame tenda patah, karena anginnya lebih kencang dari badai di Gunung Sumbing waktu itu. Gue juga terus berdoa agar angin dapat mereda. Sialnya, sekitar pukul 01.00 WIB, gue harus ke luar tenda untuk buang air kecil. Dan itu terasa banget anginnya justru semakin kencang. Gue yang takut dan kedinginan, buru-buru masuk ke dalam tenda. Anehnya, di dalam tenda terasa sangat hangat. Selain itu, tenda juga terlihat nggak bergerak, dan tetap berdiri kokoh seperti nggak ada apa-apa. Angin seakan bertiup ke arah yang berbeda. Entahlah. Gue akhirnya dapat tertidur dengan pulas.


Bersambung…     

Minggu, 11 Desember 2016

Part I: Pendakian Dadakan ke Gunung Bongkok 975Mdpl

Dari Kiri ke Kanan: Bang Madi, Fibi, Gue, Nur (Depan), Rohmah (Belakang), dan Emil

Ocehan demi ocehan mengalir deras dari nyokap gue, ketika gue minta ijin buat naik gunung. Kata nyokap, akhir-akhir ini gue kebanyakan main, gegara hampir tiap minggu gue nggak pernah ada di rumah. Bayangkan saja, minggu pertama di bulan Desember ini, langsung gue isi dengan kegiatan naik gunung. Sebenarnya sih ini akibat dari gue nanjak ke Gunung Lembu dua minggu lalu, kemudian teman SMP gue–Nuy dan Fibi, envy dan pengen diajak nanjak juga. Jadilah gue putuskan buat ngajak mereka ke Gunung Lembu (lagi) awal Desember ini.

Lalu kenapa Gunung Lembu? Karena track-nya terbilang mudah untuk pendaki pemula, dan gue benar-benar sudah paham kondisi di gunung itu. Jadi, gue yakin dengan teramat sangat kalau mendaki Gunung Lembu adalah sebuah pilihan yang tepat.

Konyolnya, semakin mendekati hari keberangkatan, gue justru merasakan malas yang luar biasa. Secara, gue paling anti saat harus mendaki dua kali ke gunung yang sama. Padahal gue yang menentukan tujuan pendakiannya loh (*Maaf labil. Hehe -,-“). Selain itu, biasanya gue mendaki dengan teman-teman komunitas, dan saat harus mendaki dengan yang lain, rasanya aneh sekali. Saking malasnya, gue sampai minta mereka berdua untuk mencarikan peralatan mendaki. Mereka begitu antusias, sampai bela-belain nyewa peralatan ke daerah Sudimara, yang jauhnya sekitar 11,8Km dari rumah. Omaigosshh…mianhae,Chingu >,<

Di hari keberangkatan, Sabtu (3/12/16), gue dijemput Fibi menuju ke rumah Nur untuk repacking. Di sana gue kenalan dengan Emil (sepupu Nur) dan Rohmah (pacarnya Emil). Mereka juga bakal ikut dipendakian kali ini. Tapi tahu nggak, gue siyok sama bawaannya Nur. Dia cuma bawa tas micro (*saking kecilnya) untuk ke mall, dan bawa goodie bag. Akhirnya gue minta Nur buat ganti tas. Tapi goodie bag-nya tetap aja di tenteng (-,-“). Setelah perkara tas selesai, kita langsung berangkat menuju ke Stasiun Jakarta Kota. Di Stasiun Jakarta Kota sudah ada Bang Madi (saudara jauhnya Nur), yang bakal ikutan gabung juga. Kita sudah nggak perlu antri tiket lagi, cukup duduk syantiek, karena Bang Madi sudah beli tiketnya. Nah, belajar dari pengalaman gue sebelumnya, kita sudah sudah siap siaga di pinggir peron, untuk berjibaku dengan penumpang lain demi mendapatkan tempat duduk. Dan gue dapat tempat duduk bareng sama Fibi. Dia duduk di depan gue. Sedangkan di sampingnya, duduk seorang pria paruh baya. Dan di samping gue, duduk seorang kakek tua.

Selama perjalanan, beberapa kali si pria paruh baya di samping Fibi ini memperhatikan gue. Hingga akhirnya ketika kakek tua turun di Karawang, si pria  paruh baya pun mencoba membuka obrolan.
“Saya kira tadi *kukong-nya (kakek) situ, Mbak. Mukanya mirip sih,” kata si pria paruh baya sambil cengar-cengir.
“Apanya yang mirip, Pak?,” tanya gue penasaran.
“Mukanya situ kayak amoy-amoy soalnya. Jadi kayak cucu sama kukong-nya yang lagi pergi jalan-jalan,” jawab si pria sambil ketawa ngakak.
(Fibi ikutan ketawa ngakak juga)
“Ahh…si bapak bisa aja,” kata gue sambil ikutan ketawa. “Njiiirr…perhatian banget nih orang,” batin gue.

Sambil membunuh rasa bosan, gue iseng-iseng searching foto Gunung Bongkok. Asli deh, gue pengen lari dari kenyataan (*Hehehe). Ehh…setelah dilihat, ternyata foto-foto di Gunung Bongkok lebih cakep daripada Gunung Lembu. Bang Madi juga dikasih tahu sama penumpang di kereta, kalau Gunung Bongkok memang lebih cakep dari Gunung Lembu. Nah loh, galau lah kita.  Gue bilang kalau mendaki ke sana cuma 2 jam, dan ketinggiannya cuma 975Mdpl. Akhirnya gue berhasil ngeracunin teman-teman buat kuy ke Gunung Bongkok. Yeeeaayy!! Sekitar pukul 16.30 WIB kita sampai di Stasiun Purwakarta. Kali ini gue nggak naik angkot Mang Riri lagi, karena telepon gue diabaikan sama doi (*Sedih T,T). Akhirnya kita naik angkot Mang Septa deh (*Mamang angkot baru).

Di sepanjang jalan, kita mampir dulu buat sholat di Alun-alun Purwakarta, makan sore, dan belanja logistik. Memasuki Kecamatan Sukatani, petualangan sesungguhnya pun dimulai. Tahu sendiri kan gimana horornya jalanan di Kecamatan Sukatani ini? Apalagi saat itu sudah sekitar pukul 18.00 WIB. Angkot Mang Septa melaju dengan perlahan. Meski begitu, Emil tetap saja mabok dan berharap cepat sampai. Nggak heran sih, karena jalanannya memang meliuk-meliuk dan naik turun. Nah, tiba-tiba angkot meraung sangat keras ketika harus menanjak. Feeling gue sudah mulai nggak enak nih. Mang Septa sudah mengurangi gigi mobil, dan berusaha menginjak gas lagi, berharap angkot dapat nanjak. Tapi nyatanya sia-sia.
“Bang, cowo musti ada yang turun satu deh. Mobilnya nggak kuat nih,” kata Mang Septa memberikan perintah ke kita.
(Akhirnya Fibi, Bang Madi, dan Emil turun untuk menunggu di luar)
“Lah, kok malah turun semua sih?,” tanya Mang Septa heran.
(Sesaat kemudian angkot mulai bisa nanjak, dan berjalan pelan-pelan)
“Mang, naek satu-satu,” teriak Mang Septa dari dalam angkot yang sedang berjalan.
(Mereka bertiga yang nggak siap, langsung berlari buat ngejar angkot. Sedangkan gue, Nur, dan Rohmah, cuma bisa ketawa ngakak ngeliatin mereka ditinggal)
Hop!! “Akhirnya bisa naek juga,” kata Emil sambil terengah-engah ketika sudah berhasil naek angkot.
(Disusul sama Fibi berikutnya. Sedangkan Bang Madi masih “asik” lari-larian di tengah jalan yang penuh dengan pohon bambu dan gelap gulita. Dari kejauhan cuma kelihatan kelap-kelip lampu ponselnya saja)
“Bang, buruan! Kejar, Bang! Sini…sini…,” suruh Fibi sambil pakai gaya tangan ingin menggapai ala film India di pintu angkot.
(Njiiiir…kita berempat cuma bisa ketawa sampai perut sakit. Asli, jahat banget emang)
  “Lah, sekarang malah satu orang yang nggak naek. Satu orang turun gih, temenin itu temennya,” pinta Mang Septa mulai panik.
(Fibi pun turun buat nyamper Bang Madi. Persis sekali seperti di film Korea. Dan angkot pun berhenti ketika sudah sampai di jalanan datar)
“Bilang dulu numpang-numpang ya. Benar-benar gelap ini. Kita berenti dulu. Saya mau nyusul temennya,” muka Mang Septa mulai serius. Tapi kita sih tetap aja ketawa nggak berenti-berenti.
(Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Bang Madi dan Fibi mulai kelihatan batang hidungnya)
Udah lengkap kan? Kita jalan lagi ya,” kata Mang Septa.
(Kita berlima masih ketawa dan benar-benar nggak bisa berhenti)
“Bang, selamat ya udah pemanasan duluan,” kata Emil ngeledekin Bang Madi.
(Bang Madi cuma bisa diam sambil mengatur nafas di dalam angkot)  

Di ujung jalan, angkot pun berhenti. Mang Septa bilang kalau angkot nggak bisa ke basecamp, karena jalanannya rusak parah. Alhasil kita harus berjalan kaki, menyusuri gelapnya malam ditemani dengan angin yang bertiup sangat kencang.
Basecamp-nya dimana, Mang?,” tanya gue ragu.
“Jalan lurus terus aja. Basecamp-nya nggak jauh kok. Ada di sebelah kiri jalan,” kata Mang Septa sambil menunjuk kearah jalan yang gelap.
(Gue coba buat percaya, tapi yang kelihatan cuma gelap gelap dan gelap)
“Yaudah deh, Mang. Makasih ya.”

Senang banget setelah berjalan sekitar 50 meter, akhirnya bisa melihat cahaya lampu. Yap, cahaya lampu dari basecamp yang menggunakan tenaga dari genset.
“Selamat dataaaaaang!,” sapa penjaga basecamp dengan semangat.


Bersambung… 

Senin, 28 November 2016

Pesona Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu


Buat kalian yang ingin melarikan diri sejenak dari rutinitas, Gunung Lembu bisa menjadi salah satu alternatif pilihan yang tepat. Kenapa? Karena gunung ini tidak terlalu tinggi, namun kalian sudah bisa menikmati keindahan Waduk Jatiluhur saat sunrise ataupun sunset, lengkap dengan panorama Gunung Bongkok dan Gunung Parang yang cantik. Sedangkan saat malam hari, kalian dapat menikmati kelap-kelip citylight yang mempesona. Menarik bukan?

Lokasi
Basecamp Gunung Lembu
Gunung Lembu berada di Kampung Panunggal RT.006 RW 003, Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani,  Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Transportasi
Bagi kalian yang berangkat dari Jakarta, dapat menggunakan kereta api ekonomi jurusan Purwakarta. Kereta api ekonomi ini berangkat tiga kali dalam sehari, yaitu pukul 10.15 WIB, 12.45 WIB, dan 16.35 WIB dari Stasiun Jakarta Kota. Selain dari Stasiun Jakarta Kota, kalian dapat naik dari Stasiun Kemayoran, Pasar Senen, Bekasi, Tambun, dan stasiun kecil setelahnya. Harga tiketnya hanya Rp 6ribu per orang (19/10/16). Sesampainya di Stasiun Purwakarta, kalian dapat menyewa mobil angkot untuk ke basecamp, dengan harga Rp 430ribu (PP). 

Tetapi bila kalian naik mobil pribadi, kalian dapat mengambil rute keluar tol Ciganea-Purwakarta, belok kanan ke arah jalan raya Sindangkasih. Dari sana kalian tinggal mengikuti jalan dan petunjuk yang ada untuk menuju ke basecamp Gunung Lembu.

Informasi Jalur Pendakian

Tanah Lapang di Pos III
Sebelum memulai pendakian, kalian harus membayar biaya masuk sebesar  Rp 15ribu per orang (19/10/16), dan mengisi personal data terlebih dahulu. Bagi kalian yang tidak membawa logistik, dapat membelinya di basecamp. Untuk air minum, kalau kalian tidak mau repot, dapat membelinya di atas, karena hampir di tiap pos ada warung.

Nah, jika semua sudah siap, saatnya untuk pendakian! Gunung Lembu memiliki ketinggian 792Mdp, dan hanya membutuhkan waktu sekitar 1-2  jam saja untuk sampai ke puncak. Tetapi kalian harus benar-benar menyiapkan stamina yang cukup, karena track Gunung Lembu nggak bisa dianggap santai.

Salah Satu Cafe
Begitu melewati gapura, kalian akan langsung disambut dengan hutan bambu yang sangat rimbun, lengkap dengan track yang memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Jalurnya memang sudah dibuat berupa undakan anak tangga, dan ada pegangan tangan yang terbuat dari bambu. Namun tetap saja menguras tenaga. Lebih kurang 25 menit pendakian akan terus menanjak.

Jalan Landai Setelah Pos III
Kemudian, kalian akan menemukan tanah lapang dengan gazebo di samping pohon jengkol atau yang biasa disebut dengan lokasi Saung Ceria. Katanya, tanah lapang ini sering digunakan oleh warga sekitar untuk menggembalakan sapi, sehingga dari sanalah muncul nama Gunung Lembu. Banyak pendaki yang hanya ingin menikmati malam, justru memilih mendirikan tenda di sini.

Setelah melewati Saung Ceria, jalur yang ditempuh akan sedikit lebih landai. Tetapi memang akan memakan waktu lebih lama. Kemudian, kalian akan sampai di Pos I. Jika lelah, kalian juga dapat mendirikan tenda di sini, karena ada tanah lapang yang luas plus warung jajan yang serba ada (*hehehe).

Jalan Landai
Melewati Pos I, tanjakan demi tanjakan akan terus menanti kalian. Parahnya, di tanjakan kedua ini, belum ada undak-undakannya dan dengan tingkat kemiringan yang lebih dahsyat.  Tanjakan ke 2 ini hanya berlangsung sekitar 25 menit saja. Kalian baru sedikit bisa bernafas, ketika sudah sampai di Pos II. Di Pos II ini juga ada warung atau biasa saya sebut cafĂ© (:P). Namun seingat saya, di sini nggak ada tanah lapang untuk mendirikan tenda.

Jalur pendakian akan sedikit lebih landai, hingga kalian sampai di Petilasan Jongrang Kalapitung. Dari sini perjalanan sudah lebih mudah, namun tetap menantang karena kalian harus menyusuri jalan setapak dengan jurang di sisi kanan dan kiri. Kemudian jalur akan sedikit terjal lagi, hingga sampai di Petilasan Raden Surya Kencana. Nah, dari sini jalur akan semakin landai hingga ke puncak.

Sesampainya di Pos III, kalian dapat menikmati pemandangan Waduk Jatiluhur, Gunung Bongkok, dan Gunung Parang yang cantik. Tak ada penghalang, dan kalian bebas menikmatinya sembari beristirahat.  Sekitar 7 menit perjalanan lagi, kalian akan sampai di Puncak Gunung Lembu. Di sini kalian dapat mendirikan tenda, karena memang banyak tanah datar.

Pemandangan dari Batu Lembu
Bila kalian belum kelelahan, perjalanan dapat dilanjutkan ke Batu Lembu. Nah, Batu Lembu ini menjadi lokasi yang paling hits dan intagramable saat ini. Batu Lembu merupakan sebuah tebing datar yang menjorok keluar, dan berbentuk seperti punuk sapi. Untuk turun ke Batu Lembu, kalian harus berpegangan pada sebuah tali, karena memang kemiringannya hampir 90 derajat. Memang agak menyeramkan untuk berada di bibir tebing ini, tapi rasanya kurang afdol jika kalian nggak sedikit mencobanya setelah bersusah payah mendaki.

Tips Mendaki Gunung Lembu
1.        Usahakan berolahraga dua minggu sebelum mendaki. Meski Gunung Lembu terbilang pendek, tetapi jalurnya cukup menguras tenaga. 
2.       Waktu terbaik untuk mendaki Gunung Lembu adalah saat musim kemarau, karena bila mendaki saat musim hujan, jalur dengan kemiringan 45 derajat dan berupa tanah liat ini, akan menjadi sangat licin.
3.       Usahakan mendaki saat weekday. Sebab biasanya di akhir pekan sangat ramai.
4.      Jangan lupa membawa lotion anti nyamuk, karena di Gunung Lembu banyak nyamuk.
5.       Gunakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang, karena di sepanjang jalur pendakian banyak ulat bulu yang menempel di dedaunan, pepohonan, bahkan bebatuan.
6.      Usahakan juga menggunakan sarung tangan, karena hampir sepanjang jalur Gunung Lembu ditumbuhi pohon bambu, yang seringkali tanpa kalian sadari, banyak serabut harus yang dapat menusuk kulit dan membuat kekesusupan ketika nggak sengaja dipegang.

Contact Person
1.        Sekretariat Basecamp Gunung Lembu: 081909332002/08562120848
2.       Mang Riri: 085723584597 (Supir angkot)