Rabu, 19 April 2017

Bulan berlalu begitu cepat. Tidak terasa, ini sudah memasuki bulan kesekian, setelah kita memilih jalan masing-masing. Rasanya baru kemarin aku menunggumu pulang, demi melihat segala tingkah pola konyolmu. Aku ingin menghentikan waktu andai kubisa.

Aku sadar, meski aku menginginkanmu di hidupku, nyatanya semua itu adalah ketidakmungkinan yang harus kuterima. Kamu bagaikan secangkir kopi. Menghangatkan dan aku sangat menyukainya. Sayangnya, perut ini tak pernah dapat berdamai dengan semua kenikmatan yang telah kopi berikan. Bodoh, sangat bodoh.

Tapi aku percaya Tuhan telah menyiapkan seseorang yang istimewa untuk kita. Sepertinya saat ini memang sudah waktunya untuk kita dapat memulai kehidupan yang baru.  Aku berusaha melangkah ke depan. Mencoba meyakini diri ini, bahwa yang terlewati memang bukan yang terbaik. Kuharap kamu pun demikian.


Sincerely,

I.V. W. 

Sabtu, 11 Maret 2017

Hey, Sa…

Kamu tahu, buket mawar merah tahun lalu, masih aku simpan dengan baik. Aku tak ingin membuangnya, karena ia mampu menjadi penghibur ketika aku merindukanmu. Semua kenangan terputar ketika melihatnya. Termasuk tawamu yang saat itu terekam begitu jelas.

Untunglah ia hanya menjadi kering. Namun masih tetap cantik, seperti saat kamu membawanya pertama kali. Cantik, karena ia mampu merekam cerita kita saat itu. Aku masih ingat saat kamu tiba-tiba datang ke rumah, dan membawanya di tengah terik matahari. Aku terkejut melihatmu berdiri di ambang pintu, bermandikan peluh, hanya demi merayakan tanggal 28. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung saat itu. Buket pertama darimu, namun sayangnya harus pula menjadi yang terakhir.

Meski tahun ini tanpa buket mawar, tapi aku senang karena kamu masih bersedia memberikan doa tepat di pukul 00.00 WIB. Terima kasih untuk tetap mengingat tanggal lahirku. Semua itu lebih berharga dari apapun. Semoga Tuhan bisa menjabah semua doa tulus yang kamu panjatkan. 28 memang tak lagi sama, Tapi aku akan selalu mengamini setiap doa-doamu.

Sincerely,

I.V.W. (February 28th 2017)



Selasa, 07 Maret 2017

Umbul Ponggok: Bunaken Van Java

Photo by Radarjawa.com
Ada yang baru nih dari Klaten! Kolam  alami nan segar, yang dikenal dengan nama “Umbul Ponggok”. Masyarakat biasa menyebutnya dengan nama Bunaken van Klaten. Nggak heran sih, karena memang mata air ini cantik banget. Umbul Ponggok berada di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten,  Jawa Tengah.

Untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan berbagai pilihan. Bila dari Jakarta, kalian bisa kok naik kereta langsung tujuan Klaten. Dilanjut dengan menggunakan ojek dari Stasiun Klaten menuju ke Umbul Ponggok sebesar Rp 50.000,-/orang. Tapi akan lebih seru bila kalian membawa kendaraan pribadi sendiri, karena memang akses angkutan umum yang terbilang masih sulit untuk menuju ke sini. Nah, bila dari Jogja dan kalian membawa kendaraan sendiri, setelah melewati kota Klaten, di kanan jalan ada Terminal Penggung. Dari Terminal Penggung, terdapat simpangan untuk menuju ke Desa Ponggok. Kalian cukup ambil jalan arah ke kiri lalu lurus terus ikuti jalan, sampai bertemu Markas Koramil di sebelah kiri jalan. Dari pertigaan tersebut, kalian belok kanan, dan kembali mengikuti jalan. Sekitar 2Km, kalian akan menemukan Umbul Ponggok yang terdapat di pinggir jalan. Tetapi jika kalian dari solo, maka kalian bisa melalui jalan lintas Solo-Jogja, hingga melewati Kandang Menjangan Kopassus. Masih bingung? Pakai Waze atau GPS saja deh ya. Dijamin aman. Hihihi…

Sebelum mulai bermain air, kalian harus terlebih dahulu menyewa peralatannya, sesuai dengan kebutuhan. Sebelum menyewa peralatan harus dipertimbangkan dahulu dengan matang, karena kalau nggak, kalian akan bulak-balik seperti pengalaman pribadi saya kemarin. Pertama sih cuma ngerasa butuh sewa pelampung, tapi ternyata butuh snorkel juga. Akhirnya, saya harus keluar lagi dari kolam, ke loker lagi, ambil uang lagi, dan nyewa lagi. Kan ribet. Jadi, selain dipersiapkan dengan matang, ada baiknya juga membawa sedikit uang di saku celana ya untuk berjaga-jaga.

Photo by Portalwisata.com
Sebenarnya Umbul Ponggok ini berkonsep seperti kolam berenang. Bedanya, Umbul Ponggok ini merupakan kolam renang alami, yang sumber airnya berasal dari mata air yang terus menerus memancarkan air. Dari jauh sih kelihatan airnya keruh. Tapi bila kalian sudah masuk, airnya jernih sekali. Selain itu, ,rasanya sangat dingin dan menyegarkan loh.

Di dalam kolam, terdapat beragam jenis ikan berwarna warni yang hilir mudik. Ukurannya pun bervariasi. Tapi tenang saja, mereka jinak kok. Nggak menggigit sama sekali (*hihihi). Untuk kedalamannya sendiri, berkisar antara 1.5meter sampai 3.5meter. Kedalaman 1.5meter ini berada di pinggir kolam. Sedangkan di tengahnya, memiliki kedalaman sekitar 3.5meter. Nah, di tengah kolam itulah yang sering digunakan untuk photo session, lengkap dengan berbagai propertinya. Dan disediakan juga kok, kolam renang khusus anak-anak. Jadi dijamin aman.

Pokoknya pasti bakal seru bila kalian berenang di sini. Kalian bisa menikmati sensasi menyelam bercita rasa air tawar, sehingga mata kalian nggak akan perih bila menyelam tanpa bantuan googles sekalipun. Penasaran kan? Mending buruan datang langsung deh. Kuy!

Note:
Jika kalian berencana untuk photo session, disarankan untuk datang pada hari senin-jumat pukul 07.00 - 09.00 WIB atau pada pukul 14.00 - 16.00 WIB. Pencahayaan pada jam tersebut dapat dikatakan sangat baik, karena kondisi matahari yang tidak terlalu menyorot langsung. Selain itu, pada jam tersebut, pengunjung tidak terlalu ramai. Jadi, kalian nggak akan akan kesulitan untuk mendapatkan spot foto yang bagus.

Perincian Biaya (Per 9 Februari 2017):
1.     Tiket kereta Prameks = Rp 8.000,-
2.    Ojek dari St. Klaten ke Umbul Ponggok = Rp 50.000,-
3.    Tiket masuk = Rp 15.000,-/orang (*dapat snack pangsit ikan)
4.    Sewa loker = Rp 5.000,-
5.    Sewa pelampung = Rp 7.000,-
6.    Sewa snorkel = Rp 13.000,-
7.    Sewa fin (kaki katak) = Rp 6.000,-
8.    Sewa kamera underwater = Rp 60.000,-/30 menit (max. 4 orang) & Rp 100.000,-/1 jam (max. 4 orang)
9.    Makanan untuk ikan = Rp 2.000,-
10. Mandi = Rp 2.000,-/orang
11.  Properti photo session = start from Rp 30.000,-

Minggu, 05 Maret 2017

Duo Miss Rempong Plesiran: 1001 Drama ke Umbul Ponggok



Jam 07.00 WIB, gue kebangun gegara Rona duduk manis di atas kasur gue. Sadar gue sudah bangun, dia langsung nyerocos panjang kali lebar.
“Vel, semalem lw cepet banget sih tidurnya? Gue manggil-manggil nama lw, nggak taunya lw udah tidur. Gila, kok bisa sih?,” tanya Rona sambil ketawa-ketawa.
Nggak tau, Ron. Ini hotelnya nyaman banget sih,” jawab gue sambil masih nguap-nguap.
Tau nggak, tadi tuh alarm gue udah bunyi jam 5. Tapi gue matiin terus tidur lagi. Hahaha…masih ngantuk sih. Yaudah, yuk ahh kita makan terus berenang. Udah jam berapa ini, Coy? Lw mau tidur terus?”
“Iya, Coy. Lw siap-siap dulu deh. Gue kumpulin nyawa dulu.”

                                                *                                   *                                   *

Selesai sarapan syantiek, kami langsung ngacir ke kamar lagi buat pemanasan ala kadar sebelum nyemplung ke kolam renang. Beruntungnya, ada satu keluarga yang lagi berenang juga, dan si ibunya ini nggak bisa berenang seperti kami. Hehehe…kan jadi nggak malu-maluin amat. Tapi resenya, si Rona sudah lumayan jago berenangnya. Tinggallah gue yang sibuk berdiri manis di ujung kolam kayak anak hilang (*pffttt). Ini semua kami lakukan demi pemanasan sebelum nyebur di Umbul Ponggok, yang konon katanya airnya lebih dingin, dan lebih dalem. Nahlooooh~

Sekitar jam 09.00 WIB, kita menyudahi sesi berenang. Lumayan lah buat pemanasan gratisan. Jam 11.00 WIB, kami baru check out. Iya, jam 11 siang! Dandannya kelamaan soalnya (*hehehe). Maklum lah ya wanita. Nah, sebelum cus meninggalkan hotel, kita nggak mau menyia-nyiakan kesempatan buat foto-foto dulu di taman hotel. Biar kayak di film India gitu.

Dodolnya, gegara keasikan serba santai, kita baru sadar kalau waktunya sudah mepet untuk ngejar kereta Prameks yang keberangkatan jam 12.15 WIB. Buru-burulah kita pesan becak. Meski dalam keadaan terdesak begini, kita teuteup rempong nawar. Begitu ditolak mentah-mentah, kita pakai gaya sok jual mahal dan melengos pergi. Berharap dipanggil lagi. Benar saja, nggak lama kemudian kita dipanggil lagi! Tapi yang manggil bukan si Bapak tukang becak yang kami tawar tadi. Melainkan tukang becak di sampingnya, yang sudah cukup tua seperti engkong gue sendiri.
“Sini, Mbak, sama saya aja. Buat penglaris ndak papa. Saya abisin minum dulu ya,” kata si Bapak dengan sumringah.

*Nyeeess* Gue meleleh seketika. Maksud hati buat nawar biar dapat murah, langsung hilang seketika, karena gue nggak tega.

Tiket Penuh Perjuangan
Sampai di Stasiun Tugu, gue langsung ngibrit ke loket penjualan tiket. Gue nggak peduli sama Rona yang masih ketinggalan di belakang. Saat itu sudah menunjukkan pukul 12.05 WIB soalnya. Sedangkan kereta berangkat pukul 12.15 WIB.
“Mbak, masih ada tiket Prameks buat 2 orang?,” tanya gue sambil ngos-ngosan.
“Buat yang jam berapa?,” tanya si Mbak penjual tiket dengan santainya.
“Yang sekarang, Mbak,” jawab gue dengan ekspresi super galau.
“Ada. Tapi bisa kan?”
“Bisa apa?”
“Lari-larian. Hahaha…,” jawab si Mbak dengan bahagianya ngetawain gue yang panik, sambil nyerahin tiket ke gue.
Sial, tega-teganya nih orang becanda saat kondisi lagi keos begini (*dalam hati ngebatin)! Gue nggak balas candaan si Mbak, dan langsung gue tarik tiket dari tangannya. Habis itu, tinggallah kami yang kocar-kacir masuk ke dalam peron. Ngeselinnya, lokasi penjualan tiket ini memang lumayan jauh sama pintu masuk ke peronnya. Tapi untung kami terlatih mengejar-ngejar orang. Ehh…mengejar-ngejar kereta maksudnya.

Njiiir…akhirnya keburu juga ya, Vel,” kata Rona sambil cengengesan plus ngos-ngosan, sesaat setelah kami duduk di dalam kereta.
“Iya, Ron. Untung banget ya. Hampir aja kita batal ke Umbul Ponggok. Hahaha…,” jawab gue penuh kemenangan.
“Ehh…ini kita perjalanan cuma setengah jam loh, Vel. Jangan sampe tidur.”
“Tenang aja, Ron, tenang. Gue mah jarang tidur kalo pergi-pergi.”

Beberapa menit kemudian…
“Gue ngantuk banget, Vel,” kata Rona setengah teler.
“Sama, Ron. Gue juga. Tidur bentar aja gapapa lah.”
Asli deh, saat itu mata gue benar-benar ngantuk luar biasa. Seperti ada yang menghipnotis. Gue pun memutuskan untuk tidur, dengan pertimbangan penuh ketololan. Biasanya gue bisa tertidur pulas, dan terbangun tepat di tempat dimana gue harus turun saat naik KRL. Nah, kali ini, gue pun berpikir demikian. Jadi, tidurlah kami dengan bahagia.

Lima belas menit kemudian…  
“Vel, jangan tidur. Ini dimana?,” tanya Rona sambil bangunin gue.
Nggak tau, Ron. Masih jauh kok,” jawab gue sambil celingukan mencari petunjuk. Belum selesai gue menemukan jawaban, Rona sudah kembali tertidur begitu gue nengok ke arah dia. Ohh..shit! Gue pun lanjut tidur.

Lima belas menit kemudian…
“Ini dimana ya, Coy?,” tanya Rona tiba-tiba bangun dari tidur.
Nggak tau deh, Ron.”
Berhubung nyawa kita masih belum kumpul, kita cuma tengak-tengok tanpa bertanya sama orang sekitar. Dan sesaat begitu kereta berjalan perlahan…
“Vel, ini Klaten tau,” kata Rona datar sambil nunjuk ke arah luar.
“Ahh…yang bener?!,” tanya gue panik.
“Klaaa..Teeeen..,” kami mengeja bersamaan begitu melihat sebuah papan petunjuk stasiun. Deg!
Kami cuma dapat terbengong-bengong sebentar, dan kemudian tertawa ngakak. Tololnya nggak ketolongan ya Allah. Puas tertawa, kami baru diserang panic attack. Gue langsung searching, dimana pemberhentian selanjutnya setelah Stasiun Klaten. Dan tarraaaaa…ternyata pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Purwosari! Yap, kita sampai ke Solo, Pemirsah! *LOL*

Sampai di Stasiun Purwosari, kita langsung cek jadwal kereta Prameks ke arah Jogja. Sialnya semua jadwalnya nggak pas. Kalau kita nekat nunggu, artinya kita bakal kesorean dan batal pulang ke Jakarta hari itu! Alhasil, kita memilih untuk carter mobil seharga 150rb setelah nawar dengan alotnya. Si Bapak supir ini, menawarkan untuk menunggu dan mengantarkan kami sampai ke Stasiun Tugu bila menambahkan 100rb lagi. Tapi Rona menyarankan untuk menolaknya. Gue pun setuju dengan saran Rona.

Finally, sampailah kita di UMBUL PONGGOK! Yeyeye…hallo ikan-ikan! Kami pun segera siap-siap untuk nyemplung. Dan di sinilah adegan penuh kerempongan dimulai. Pertama, kami mengeluarkan uang hanya untuk membayar pelampungnya saja. Begitu sudah nyemplung, kami kesulitan mengambil foto bila tanpa googles. Akhirnya kami terpaksa naik lagi, ke loker lagi, ambil uang lagi, dan nyewa googles. Begitu sudah dapat, kami coba lagi ngambil foto. Ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Terlebih pelampung yang kami pakai terasa sangat gengges. Tapi kalau nggak dipakai, kami juga nggak bisa berenang. Shit! Kami pun menyerah, dan memutuskan untuk nyewa kamera underwater.

Foto Ala Komuk Ikan Buntal

Akhirnya!
Kami terpaksa naik lagi, ke loker lagi, ambil uang lagi, dan nyewa kamera. Begitu semua sudah ready, si Mas tukang foto ini bertanya, apa kami sudah beli makanan ikan atau belum? Kami jawab belum. Dan ahh…kami sudah emosi, karena itu berarti kami harus kembali ke loker lagi untuk ngambil uang (*ppftt). Ehh..untunglah, karena ternyata di saku celana gue masih ada uang meski sudah basah klebes. Ya Allah, akhirnya ane bisa pose-pose juga di dalam air sama ikan-ikan, Gan. Hahaha…

Rona minta gue sebagai yang pertama di foto. Jujur gue takut. Secara gue paling parno sama air. Dodol sih emang, takut sama air, tapi liburannya ke air (*hehehe). Terpaksa gue ngalah sama Rona. Untungnya si Mas fotografernya sangat menenangkan. Love-love-love lah sama Mas-nya (*hehehe). Untuk pengambilan foto ini, gue sampai harus ngulang 5 kali sesi. Sesi pertama, gue terlalu sebentar di dalam air. Alhasil si Mas-nya nggak bisa ngambil foto gue. Sesi kedua, mata gue merem semua dengan efek mulut menggembung kayak ikan buntal buat nahan nafas. Sesi ketiga, gue malah jatuh kebawa arus. Untung si Mas-nya langsung sigap ngebawa gue ke permukaan, sebelum panic attack gue menyerang. Sesi ke empat, sudah mulai sedikit bagus. Akhirnya sesi kelima baru bagus beneran. Yeyeye! Rona juga sama kayak gue, yang harus mengulang sampai berkali-kali.

Komuk Bahagia Setelah Berenang Sama Ikan
Begitu selesai, kita langsung buru-buru mandi sambil menggigil. Atau mungkin lebih tepatnya asal basah, biar nggak bau amis kayak ikan. Soalnya sudah jam 15.00 WIB. Padahal kereta ke Jakarta berangkat pukul 18.10 WIB dari Stasiun Tugu. Sedangkan kami masih harus ngopy foto, dan kuy ke Stasiun Tugu. *Kepala gue langsung pening*

Nah, dari Umbul Ponggok ke Stasiun Klaten ini, gue nyarter mobil (lagi) sebesar 100rb. Di dalam mobil, gue sama Rona maksa-maksa si Mas supir supaya mau anterin kita sampai Stasiun Tugu sebesar 200rb. Tapi si Mas ini teuteup keukeuh nggak mau. Yasudahlah, kami cuma bisa pasrah.

Begitu sampai di Stasiun Klaten, gue langsung lari-larian ke loket penjualan tiket. Tapi kepala gue terasa seperti ditimpuk batu, saat si penjual tiket bilang tiket kereta Prameks sudah habis untuk sore ini. Shit! Sedangkan, saat itu sudah menunjukkan pukul 16.50 WIB. Nggak lucu kalau sampai harus batal pulang gegara hal konyol begini. Gue coba keluar stasiun, nanya sama orang sekitar apa ada alternatif lain menuju Jogja. Ternyata satu-satunya cara yang memungkinkan cuma naik ojek. Sialnya saat itu nggak ada satupun ojek. Dan 2 orang porter menawarkan jasa untuk mengantarkan kami, sebesar 100rb per orang sampai Stasiun Tugu. Pilihannya cuma ya atau nggak, karena jam terus tek-tok-tek-tok. Gue coba berkompromi sama Rona. Tapi dia justru tenang dan asik dengan gadget-nya, mencoba mencari kereta pengganti ke Jakarta. Dia bilang, mending upgrade tiket saja. Omaigat, gue langsung emosi. Bisa-bisanya dia mikir begitu. Kenapa harus nyerah saat masih ada kemungkinan untuk diperjuangkan sih? Lagipula gue nggak yakin masih ada tiket tujuan Jakarta untuk hari itu. Tanpa banyak kata, gue langsung lari ke loket penjualan tiket, dan menanyakan apakah bisa upgrade tiket di keberangkatan kurang dari 1 jam. Dan ternyata nggak bisa. Tapi Rona masih tetap sibuk dengan gadget-nya, untuk mencari tiket baru. Gue nggak peduli lagi sama pendapatnya. Gue langsung nemuin 2 orang Bapak porter tadi, dan gue mengiyakan tawarannya, karena gue yakin itu pilihan yang tepat. Gue nyuruh Rona buat siap-siap. Rona cuma terbengong-bengong saat itu. Gue paham, dia pasti mikir gue gila.
“Pak, ngebut ya!,” perintah gue ke Bapak ojek.

Gue terus berdoa dalam hati, semoga nggak ada halangan apapun di jalan, dan semoga bisa sampai tepat waktu. Motor melaju sekencang kencangnya di tengah angin kencang, dan gue terus pegangan erat-erat. Beruntung banget gue dipertemukan sama dua Bapak-bapak hebat ini. Mereka berinisiatif ngelewatin jalan potong untuk bisa cepat sampai. Alhamdulilah tepat pukul 18.00 WIB, kami sampai di stasiun. Si Bapak langsung teriak nyuruh gue buat boarding. Terharu banget. Menurut gue, harga 100rb itu nggak ada apa-apanya dibandingkan jasanya mengantarkan kami. Tanpa mereka, kami pasti nggak akan bisa pulang hari itu. “Terima kasih banyak, Pak”. Cuma itu yang bisa gue sampaikan, sesaat setelah gue turun dari motor. Next time, kalau ada kesempatan ke Klaten lagi, gue pengen bisa ketemu mereka.

Di kereta, gue cuma bisa duduk manis sambil ngumpulin nyawa yang masih tercecer. Tapi si Rona, bisa-bisanya tetep semangat 45 seakan nggak terjadi apa-apa dan justru ngetawain gue. Asli deh, itu anak kayaknya masih konslet gegera berenang sama ikan (=,=”).
“Vel, kita nggak bawa oleh apa-apa loh buat anak-anak kantor.”
“Kan tadi dapet snack ikan dari Umbul Ponggok, Ron. Kasih itu aja deh. Lumayan tuh, belinya jauh, mahal, dan pake perjuangan juga. Hahaha…”
“Hahaha..gebleg lw.”

Well, gue bersyukur untuk banyak keberuntungan yang diberikan. Hari itupun kami tutup dengan tidur lebih cepat, setelah melalui semua drama. Bhay, Jogja. See ya next time.

Sabtu, 25 Februari 2017

Duo Miss Rempong Plesiran: Hellooo Jogja!


Kamis (9/2/17), Rona memutuskan pulang tenggo dan bergegas menuju ke rumah untuk siap-siap. Sedangkan gue, memilih singgah di Kos Ci Yuni (*teman kantor) yang jaraknya lebih dekat dari stasiun, daripada harus pulang ke rumah terlebih dahulu. Kami janji bertemu sekitar pukul 20.30 WIB di Stasiun Pasar Senen. Saking excited-nya sama trip kali ini, gue sama Rona masiiiiih saja ngobrol sampai tengah malam. Kalau kata Rona, ini waktunya Vella dan Rona Undercover. Sampai penumpang di depan kami nggak bisa tidur karena keberisikan (*hihihi). Memasuki Cirebon, barulah kami mulai memejamkan mata.

Menjelang subuh, gue mulai nggak bisa tidur dan memilih online pagi itu.
“Ehh…Ron, ini di stasiun apa ya?,” tanya gue bingung ketika kereta berhenti di salah satu stasiun.
“Ini di Stasiun Tugu deh kayaknya, Vel,” jawab Rona pelan sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer di alam mimpi.
“Kita turun di sini nggak sih?,” tanya gue memastikan sekali lagi.
“Harusnya sih turun di Stasiun Lempuyangan. Ehh…tapi ini kok keretanya udah berenti? Apa cuma sampe Tugu ya, Vel?”
“Kayaknya cuma sampe sini deh. Yaudah, yuk turun!”

(*Cerdasnya kami adalah langsung turun tanpa mengecek tiket terleih dahulu untuk tahu kebenarannya)  


Duo Miss Remong
Begitu turun dari kereta, kami celingukan kayak bocah hilang arah. Nggak lama kemudian, kereta berangkat kembali melanjutkan perjalanan ke stasiun terakhir–Stasiun Lempuyangan. Kami cuma bengong sesaat dan langsung tertawa ngakak, menertawai kecerobohan kami. Meski salah turun, toh nyatanya bikin kami jadi beruntung. Tujuannya kan memang mau makan pagi dan menikmati pagi di Malioboro. Huwaaa…mantap!

Sampai di Malioboro, gue langsung pose di depan papan jalan bertuliskan “Malioboro”, dan merengek minta difotoin sama Rona. Maklum lah, meski sudah berkali-kali ke Jogja, gue belum pernah foto di papan jalan paling hits itu. Di sana juga gue kenalan sama traveler cewe asal Jakarta. Setelah gue tanya dia nginep dimana, ternyata dia nginep di rumah cowonya yang tinggal di Jogja Huffftt…bikin envy saja.

Selesai foto-foto, kita langsung sarapan. Menu sarapan hari itu adalah nasi pecel yang berada di depan Plaza Malioboro. Yap, kata Rona, harus banyak makan sayur demi memperlancar pencernaan (*wkwkwk). Oia, asli deh, itu pecelnya enak banget. Murah pula. Makan sampai kenyang cuma Rp 8rb!

Hotel Kami yang Super Cozy
Setelah makan, kami mulai searching hotel dan bertanya-tanya transportasi untuk menuju ke sana. Akhirnya dapat lah kami hotel yang lumayan nyaman di daerah pinggiran Malioboro.
“Ron, tapi kita nggak bisa check in sepagi ini loh. Kita baru bisa check in sekitar jam 12 siang,” kata gue hopeless.
“Lah, terus gimana dong kita sekarang? Apa mau jalan-jalan dulu?,” tanya Rona mulai bingung.
“Boleh juga sih kalau mau jalan-jalan dulu. Mau ke mana? Museum? Belum ada yang buka. Apa mau ke pantai? Tapi pakai apa? Mau nyewa motor? Hayu aja lah gue mah,” cerocos gue.

Kriiik…kriiik…kriiikk….          

Yaudah, gini aja deh, kita check in sekarang. Gapapa diitung 2 hari juga. Yang penting bisa istirahat dulu sebentar. Asal kita pilih yang seharinya 150rb. Nggak usah yang mahal dan bagus-bagus amat. Maksimal segitu pokoknya. Jadi total cuma 300rb buat 2 hari!,” jawab Rona mantap, menyelamatkan kami dari kebegoan di pagi itu.
“Ok, kita susurin dari sini aja ya, Ron,” jawab gue.
“Sip.”

Kami berjalan sambil tengok kanan-kiri kayak orang linglung. Bukan apa-apa, karena kami mencari papan penunjuk rate kamar per hari. Setelah berjalan sekitar 1 Km, gue mulai frustasi. Gue pun menyarankan untuk coba bertanya random di Hotel Peti Emas, karena dari luar kesannya hommy banget. Alhamdulilah, begitu ditanya ternyata harganya lumayan murah, cuma Rp 380rb per malam. Fasilitasnya lengkap, ada sarapan pagi, snack time, WiFi, TV, AC, kamar mandi bersih (*ini yang paling penting), dan ada kolam renangnya pula. Hebatnya lagi, kita bisa check in saat itu juga! Emmm…ya memang melebihi budget 80rb sih. Tapi worth it lah untuk fasilitas yang lengkap. Tanpa pikir panjang, kami langsung booking di situ. Kebetulan juga masih sepi, jadi kami masih bebas memilih kamar. Akhirnya kami prefer pilih kamar di lantai satu yang berada di depan taman. Duh, benar-benar jatuh cinta deh sama hotel ini.

Saking cozy-nya, kita justru memilih bobo daripada jalan-jalan pagi. Niat awal sih istirahat cuma sampai jam 11.00 WIB, kemudian mandi, dan mulai cus keliling Jogja jam 12.00 WIB. Tapi apa daya, ngantuk mengalahkan segalanya. Kami justru bangun jam 12.30 WIB! Dan baru keluar kamar jam 14.00 WIB, setelah sebelumnya rempong dandan.


Background-nya Cantik *Abaikan Modelnya*
Sampai di Halte Prambanan, kami celingungan mencari ojek. Berhubung adanya cuma becak, pergilah kami ke site Candi Ratu Boko pakai becak. Romantis bingits euy. Sepanjang jalan suasananya masih sepi, dan view-nya cantik kayak gue (*ehh). Akhirnya kami baru sampai di Candi Ratu Boko jam 15.30 WIB, dengan keadaan langit mendung. Si bapak tukang becak pun berbaik hati buat menunggu di parkiran sampai kami selesai.
“Mbak, ini kan ndak ada kendaraan, saya tungguin aja ya,” kata si Bapak.
“Tapi kita lama loh, Pak. Mau liat matahari tenggelam dulu,” jawab gue.
Gapapa, Mbak. Saya tungguin aja.”
“Terus kalau pulang pergi jadi berapa, Pak?”
“Terserah, Mbak. Seikhlasnya aja.”
Yaudah, saya bayar yang berangkatnya dulu aja ya,Pak.”
Ndak usah, Mbak. Nanti aja pas pulangnya.”

*Nyeeeees*
Seketika hati gue langsung meleleh. Ternyata masih saja ada orang baik hati hari gini.

My Partner
Kami pun bergegas menuju lokasi candi buat mendapatkan foto-foto paling hits sepanjang masa. Bahkan gue sampai harus bulak-balik dari berbagai angle demi mendapatkan foto Rona yang cetar membahana. Setelah beberapa kali take, akhirnya ada juga foto yang dianggap lolos kualifikasi, yang bisa buat diunggah (*hehehe). Sekitar jam 17.00 WIB, kami memutuskan untuk pulang, karena langit sudah semakin gelap.

Sampai di Halte Malioboro II, hujan turun dengan derasnya. Kami pun memutuskan naik becak untuk menuju ke Posyandu Dagadu di Alun-Alun Utara. Tapi di tengah jalan kami berhenti untuk makan dulu. Tahu apa yang kami pesan? Seporsi bakmi jowo kuah. Ohh…Tuhan, itu bakmi jowo paling enak sedunia! Yaiyalah ya, secara itu hasrat terpendam kami sejak lama, dan ketika sedang hujan pula makannya. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? *Lebay*

Bakmi Jowo Paling Enak Sedunia
“Vel, ini kan porsinya kecil. Lw takut lapar lagi nggak sih ntar malem?,” tanya Rona tiba-tiba saat sedang khusyuk makan.
“Kayaknya iya deh, Ron. Perlu pesen lagi ini mah,” jawab gue sambil langsung pesan seporsi bakmi jowo goreng ke si penjual.
“Nah, maksud gue juga gitu sih sebenernya. Ehh…gue mau juga dong,” jawab Rona sambil ngakak.

Kenyang makan, lanjut cus lagi lah kami. Tapi si Bapak nggak tahu lokasi Posyandu Dagadu yang kami maksud. Alhasil, kami harus membuka tirai penutup becak, dan mengarahkan si Bapak dengan menggunakan Waze. Begitu sampai di TKP, kami sudah basah kuyup seperti kucing kecebur.

Jadwal Kereta Prameks
Puas belanja, kami masih semangat buat ngubek-ngubek Mirota. Begitu Mirota mau tutup, barulah kami memutuskan pulang. Eits, tapi kami masih harus menyusuri lorong sepanjang Malioboro untuk menuju ke Stasiun Tugu. Ini demi mengetahui dengan akurat, jadwal kereta Prameks yang menuju ke Klaten besok.


Sumpah ya, betis gue rasanya mau copot. Meski gue terbilang kuat jalan, tapi kali itu gue sudah give upBadan juga sudah dingin karena kehujanan sepanjang jalan. Jalan kaki sengaja kami pilih karena banyak faktor sih sebenarnya. Salah satunya ya karena pengiritan sih (*upss). Selesai urusan di stasiun, gue merengek sama Rona supaya pulangnya naik becak saja. Untung Rona juga merasakan lelah yang sama. Kalau nggak kan malu-maluin, masa iya gue jadi kayak bocah sendirian (*hehehe).

Begitu sampai hotel, niat awal sih mau mandi, shampoo-an, maskeran, ngobrol-ngobrol syantiek, dan blablabla. Tapi semua langsung sirna seketika begitu ketemu kasur. Iya, kita langsung mager di atas kasur masing-masing. Selesai makan bakmi jowo goreng tercinta, kita langsung bego. Dan beberapa saat kemudian, gue langsung hilang kesadaran menuju ke alam mimpi. Tinggal Rona yang kebingungan melihat gue dengan cepatnya tertidur. Hehehe.  
   
Bersambung…

Jumat, 17 Februari 2017

Duo Miss Woles Plesiran


“Ehh…Vel, kita ke Umbul Ponggok yuk! Ntar kita foto-foto underwater gitu,” kata Rona tiba-tiba.
“Boleh juga tuh. Sekalian mampir ke Jogja ya. Gue pengen ke Candi Ratu Boko, biar kayak AADC, Ron,” tanggapan gue makin ngawur.
Yaudah, kita langsung cari tiketnya. Terus bikin rencana perjalanannya, Vel.”

*Seketika kita langsung kabur ke depan komputer dan autis sama website KAI*

Rencana traveling gue sama Rona ini, memang bermula dari obrolan iseng saat jam makan siang di kantor. Nah, awalnya sih kita mau pergi jumat malam dan pulang di hari minggu pagi. Tapi gue ragu, karena pasti capek banget di hari Seninnya. Ide gila pun muncul, akhirnya kita putuskan buat pergi di hari Kamis malam sepulang kerja, dan terpaksa bolos berjamaah di hari Jumat-nya.

Sepulang kerja, kita langsung cus ke Stasiun Pasar Senen demi bisa booking tiket, akibat website KAI lagi main tenis (*baca: maintenance) terus sepanjang hari. Di perjalanan menuju ke stasiun dengan bajaj, gue khusyuk bukain steplesan uang makan tiap minggu yang sengaja gue simpan (*ngenes). Rona cuma ketawa-tawa melihat tingkah absurd gue. Apa mau dikata, gaji dan bonus belum turun, uang sincia juga nggak ada, alhasil uang makan lah yang kita korbankan.

Sesampainya di stasiun, kita langsung lari ke mesin penjualan tiket. Tanpa membaca petunjuk penggunaannya terlebih dahulu, kita hajar pencet-pencet beli tiket ini-itu, dan masukkin uang pecahan besar. Beberapa menit kemudian, kita baru sadar kalau seharusnya masukkin uang pas, karena kalau ada kembalian, akan dijadikan sebagai saldo pulsa. Itupun harus di atas Rp 25rb, kalau di bawah itu ya harus rela jadi saldo menggantung. 

"Vel, kembaliannya nggak bisa diambil loh. Ini malah jadi saldo pulsa," kata Rona panik.
"Wah...kenapa nggak ada pemberitahuannya? Ini sih jebakan namanya," timpal gue penuh emosi.
"Ehh...ada pemberitahuannya tau, Vel. Kitanya aja yang kagak baca-baca dulu. Tuh liat deh di atas mesinnya," kata Rona sambil menunjuk ke sebuah papan pemberitahuan di atas mesin.

*Kita langsung ketawa ngakak*

"Jangan cerita ke anak-anak ya, Vel. Apalagi si Asep (*engineer di kantor). Bisa diketawain abis-abisan kita."
"Hahaha...iya lah, Ron. Malu-maluin banget ini mah."  


Yasudah, yang penting tiket sudah di tangan. Tapi sayangnya kita sudah kehabisan tiket menuju Jogja seharga Rp 220rb, yang keberangkatan pukul 18.45 WIB. Tersisa tinggal keberangkatan pukul 21.45 WIB. Yaa…wajar sih, karena kita belinya di H-14. Well, Jogja we're comiiiiiin'!      

Kamis, 16 Februari 2017

A Shelter: PT. Indoserako Sejahtera (Part III)

Setelah resign dari PT. Rutraindo Perkasa, gue keterima di PT. Indoserako Sejahtera. Yes, here i’m! Gue keterima sebagai Staff Purchasing (lagi). Gue bisa masuk ke sini berkat bantuan Kak Erwin (*sebelumnya kita pernah sama-sama kerja di PT. Rutraindo).

Awal masuk, gue sempat dibuat shock therapy. Secara, lokasi kantornya itu nggak banget. Terasa seperti di daerah pelabuhan. Banyak truk-truk besar dan sangat berdebu. Begitu masuk kantornya, nggak ada resepsionisnya pula. Keadaan kantornya juga terbilang “ala kadar”. Iya, cuma ruko yang disulap menjadi kantor.

Tapi setelah melewati sebulan di sini, gue langsung kerasan. Baru kali ini gue merasa nyaman di tempat kerja. Setiap bangun pagi, gue selalu semangat buat berangkat ke kantor. Tanpa merasa ada tekanan apapun seperti di tempat kerja sebelum-sebelumnya.

Alasannya? Di sini orang-orangnya nggak ada yang bermuka dua, ataupun menyebalkan macam pemain drama nan lebay. Dari lantai satu sampai lantai empat, semua karyawannya berbaur jadi satu. Dari OB sampai staff, nggak ada jarak sama sekali. Staff-nya juga mayoritas lulusan universitas negeri dan rata-rata seumuran gue . Alhasil kita nyambung banget kalau ngobrol, dan sering gila-gilaan bareng. Engineer-nya juga smart, humble, dan gaje pula. Ehh…tamvan-tamvan juga sih karyawan di sini. Yaa…lumayan lah buat cuci mata setiap hari (*hehehe).

Secara jobdesk sih nggak ada masalah. Gue suka pekerjaan ini. Gue suka saat harus terima barang, ketemu supplier, dan masih banyak lagi. Apalagi posisi ini berhubungan dengan seluruh bagian di kantor, seperti bagian pajak, finance, accounting, gudang, bahkan kurir sekalipun. Seru sih.  


Oia, menurut gue, meski lokasi kantornya sedikit kurang “cozy”, tapi teramat sangat strategis loh. Kalau mau wisata kuliner, bisa langsung kuy ke Pecenongan atau Petak Sembilan. Kalau mau beli accessories murah, bisa ke Asemka. Mau menggila di karaokean, bisa langsung ke daerah Mangga Besar. Kalau mau belanja kain atau grosiran lainnya, bisa ke Pasar Baru atau Pasar Pagi deh. Tuh kan, nggak ada alasan buat nggak nyaman kan? Yaa…hemm…kecuali cuma karena alasab THR-nya saja sih yang nggak ada.