Kamis, 20 Juli 2017

Jalan-Jalan ke Kandang Godzilla di Tebing Koja


Bingung mau kemana di weekend ini? Coba saja kunjungi Tebing Koja. Atau nama bekennya Tebing Koja Kandang Godzilla. Eits, ini bukan karena ada Godzilla seperti di film Ultramen loh ya. Jadi, bila kita melihat dari sudut tertentu, ada formasi batuan yang bentuknya menyerupai seperti Dinousaurus (*menurut saya). Jadi mungkin itu kenapa kemudian disebut sebagai kandang Godzilla.

Danau untuk Lokasi Mancing
Tebing Koja berada di Dusun Koja, Desa Cikuya, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang (*bisa dituju dengan bantuan Waze). Sesuai dengan namanya, di sini kalian bisa melihat formasi batuan tinggi yang masih alami. Bila kita berdiri di sisi bawah tebing, kita serasa seperti berpetualang ke negeri antah berantah. Cantik sekali. Ditambah dengan adanya hamparan hijau persawahan dan sebuah danau berwarna hitam yang terkesan begitu mistis (*hati-hati bila berada di sisi danaunya, karena katanya danaunya cukup dalam).

Menurut cerita warga, Tebing Koja awalnya adalah sebuah tempat penambangan pasir selama 7 tahun. Hingga akhirnya ditinggalkan oleh para penambang, karena dianggap sudah tidak lagi produktif lagi. Lambat laun, masyarakat sekitar sering memanfaatkan untuk memancing. Dan lama-lama justru menjadi terkenal seperti sekarang ini berkat kekuatan sosial media.

Sudut Dimana Formasi Batuan Terlihat seperti Godzilla 
“Dulu saya sering mancing di sini tiap malam, Mbak. Ikannya banyak. Ada ikan mujair sebesar telapak tangan orang dewasa. Dulu mah sepi. Saya nggak tau kenapa sekarang jadi ramai banget,” cerita seorang warga sekitar kepada saya saat sedang bersantai di bawah gubuk.
“Iya, bener. Saya heran orang-orang pada bilang ada tempat wisata baru, Tebing Koja namanya. Makanya saya penasaran ke sini. Dan oalaaaahh…ternyata tempat saya biasa mancing,” timpal seorang Bapak paruh baya.

Nah, kalau kalian mau ke sini, nggak perlu merogoh kocek dalam kok. Cukup membayar Rp 8rb. Rp 3rb untuk membayar di pintu depan, kemudian Rp 3rb di pintu masuk, dan terakhir Rp 2rb untuk biaya parkir kendaraan bermotor. Selamat weekend!

Senin, 17 Juli 2017

Menjelajahi Tangerang Pertama Kali dalam 25Th!


Judulnya terkesan lebay ya? Hehehe…tapi memang begitu faktanya. Selama 25th di Tangerang, gue cuma tahu sebatas Tangerang kota sampai Serpong buat hunting di mall-mall-nya saja. Itu juga sering kali di antar bokap. Jadi, jangan pernah tanya soal jalan di Tangerang sama gue. Tapi kalau soal jalan di Jawa Tengah, gue ratu jalanannya loh (*bangga). Hehehe…

Nah, minggu lalu itu pertama kalinya gue pergi ke antah berantahnya Tangerang. Sumpah, excited banget. Sudah lama juga nggak ngetrip pakai motor kan. Seharusnya sih pergi berenam. Tapi di hari H keberangkatan, cuma sisa gue dan Fibi (teman gue dari jaman SMA) yang nongol. Jadilah kita pergi berdua, macam lagi blind date gitu.

Tugas gue kali itu jadi navigator, bukan jadi pilotnya (*ini enaknya pergi sama cowo). Sambil pegang tongsis, gue juga sibuk mantengin hape buat lihat petunjuk Waze. Di tengah jalan, keadaan macet total karena lagi bubaran karyawan pabrik. Si Fibi mulai kesal.
“Ini belok ke kiri bisa nggak? Coba cek jalannya,” suruh Fibi ke gue.
“Hemm…kalau diliat di Waze sih bisa ya. Ini jalannya nyambung. Tapi emang jadi agak jauh. Gimana, Bi?” jawab gue ragu-ragu, karena biasanya Waze ini suka ngerjain.
“Yaudah, hajaaaar!,” teriak Fibi.

Begitu lagi happy-happy-nya menikmati jalanan yang kosong melompong, tetiba petunjuk si Waze ini hilang!
“Bi, ini jalurnya ilang. Gimana nih? Udah gue coba tapi tetep nggak bisa. Kayaknya emang ini nggak ada jalan potongnya deh,” jawab gue panik.  
“Coba kalo ketik ke Situ Tenjo bisa nggak?”
“Nah, kalo ke sana muncul nih. Tapi emang bisa ya dari Tenjo ke arah Cisoka?”
“Bisa lah. Yaudah, arahin ya.”

Selang 5 menit kemudian…
“Ini jalannya bener, Vel? Lw nggak salah liat Waze kan,” Tanya Fibi galau.
“Hahaha…bener lah. Arahnya emang ke sini kok”
Jalan yang dipilih si Waze ini adalah jalanan super hancur, becek, dan melewati kawasan industri yang super sepi. Jujur gue juga agak was-was. Kalau sampai jatuh, takut nggak ada yang nolongin. Takut ada jambret juga. Ahh…pokoknya takut macam-macam deh.
“Ehh…Bi, ada cabe tuh!,” spontan gue bilang begitu saking senangnya melihat ada segerombongan perempuan melintas di jalanan sepi. Hehehe…
“Diem lw ye. Boro-boro bisa ngelirik cabe. Gue lagi fokus nyetir nih. Ntar kalo kita jatoh gimana?,” jawab Fibi keki.
*Gue langsung kicep*

Sesampainya di peradaban, setelah jalan selama 45 menit...
 “Tuh, kalo lurus terus, dikit lagi sampe di Stasiun Tigaraksa,” kata Fibi sok ngasih tahu gue.
“Ini di samping kanan, Lapangan Golf Tigaraksa, Vel.”
*Gue cuma manggut-manggut*
“Ehh…ntar dulu, kok kita di sini ya? Ini mah kalo lurus terus jadinya ke Tenjo, Vel. Kita salah jalan tau. Lw kok ngarahinnya ke sini sih?,” si Fibi baru nyadar kalau kita nyasar.
“Lah, kan elu tadi yang nyaranin gue pilih jalan ke Situ Tenjo, Bi. Gue jitak juga lw yee,” jawab gue mulai kesal.
“Coba lw langsung ketik aja Danau Biru Cigaru. Kita udah deket kok. Tenang, tenang. Hahaha,” Fibi coba menenangkan gue yang mulai eteb.

Sudah persis seperti bocah hilang belum?
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, sampai juga lah kita di Danau Biru Cigaru. Yeyeye! Danaunya cakep. Warna birunya bikin tenang saking jernihnya. Tapi berhubung kita ke sana pas hari Sabtu, jadinya ramai banget. Gue sampai bingung buat pilih spot fotonya. Apalagi di bibir danau dipasangi bambu sebagai pembatas. Menurut gue jadi bikin pemandangannya kelihatan berantakan. Ditambah di sana panas banget. Hilang lah semangat gue buat hunting foto. Tapi wajar sih ya, itu kan danau bekas penambangan pasir. Di sana kita cuma ngabisin waktu di bawah gubuk buat jajan (*Hehehe). Oia, untuk masuk ke sana banyak punglinya loh. Ini yang gue sayangkan.   

Setelah puas, kita langsung kuy ke Tebing Koja. Jaraknya dekat banget dari Danau Biru. Paling hanya 10menit. Dari lokasi parkiran, kita masih harus turun ke bawah. Menurut gue, pemandangan di Tebing Koja cukup “wow”. Bagaimana bisa, hasil dari exploitasi alam bisa jadi mahakarya yang sebegitu indahnya? Meski panas, gue semangat buat menjelajahi Tebing Koja. Alhasil gue narik-narik Fibi ke sana kemari buat jadi Kang Foto gue (*mianhae).
“Aahhh…apa gue bilang, Vel. Sawahnya lagi jelek kan. Pemandangannya jadi cokelat gitu,” gerutu Fibi.
“Yaudah lah, Bi. Nanti kita ke sini lagi 6 bulan dari sekarang ya. Pasti pas ijo tuh,” gue mencoba nenangin Fibi sambil nyengir kuda. Soalnya gue yang tetap maksa pergi ke Tebing Koja , meski si Fibi sudah bilang view-nya lagi jelek bulan ini.
“Yuk, kita beli es aja,” rayu gue.
Hayu deh,” jawab Fibi luluh.

Lagi tenang-tenangnya ngaso, si Fibi malah sibuk cekikikan sambil ngerekam ibu-ibu hebring yang berisiknya ngalahin para ABeGeh. Hasil rekamannya di post pula di Whatsapp. Hadeeehh…nih bocah ada-ada saja.

“Bos, balik yuk!,” ajak gue.
“Yakin? Lw udah puas belum foto-fotonya? Udah capek? Mau difotoin lagi nggak?,” ledek Fibi.

“Udah, Bos. Udah banyak nih buat di instagram. Wkwkwk.”

Note: Thanks a lot sudah ngajak gue nyasar seharian, Bos.            

Jumat, 14 Juli 2017

Danau Biru Cigaru, Si Biru dari Tangerang


Ada yang baru niiiiiih dari Tangerang. Wisata Tangerang sekarang bukan cuma mall dan pabrik saja loh. Sekarang ada wisata alam Danau Biru Cigaru. Lokasinya di Desa Cigaru, Kecamatan Cisoka, Tigaraksa-Kabupaten Tangerang. Oia, di aplikasi Waze sudah ter-record kok jalannya. Jadi jangan khawatir nyasar, karena lokasinya mudah ditemui meski minim papan petunjuk jalan.

Danau ini awalnya merupakan bekas penggalian pasir. Setelah penggalian dihentikan, lama-lama bekas penggalian mulai tergenang air, dan tarraaa…jadilah danau seperti sekarang ini. Sesuai dengan namanya, danau ini memang berwarna biru jernih. Kedalamannya mencapai 50Meter! Iya, 50Meter. Jadi jangan coba-coba berenang di sini ya. Lebih asik naik perahu. Bisa foto-foto syantiek, hanya dengan membayar 5ribu saja kok.

Kalau menurut saya, Danau Biru Cigaru ini, seperti kembaran dengan Telaga Warna di Dieng. Kenapa? Karena di samping danau yang berwarna biru, terdapat juga danau berwarna hijau. Sama-sama cantik. Bedanya, kalau Telaga Warna lebih teduh suasananya. Kalau Danau Biru panas bingits. Saran saya sih, akan lebih baik bila mengunjungi Danau Biru saat pagi atau sore hari.

Selamat menjelajah Tangerang!       

Note: HTM 5rb/motor

Selasa, 11 Juli 2017

'Dia terlihat cantik, kalem, smart, keibuan, dan pastinya berhijab seperti keluarga dan kamu mau'.? Kamu punya semua seperti yg kamu sebutkan, hanya saja kamu ga berhijab. Bukan yg aku dan keluargaku mau vel, hijab itu kewajiban itu bagi seorang wanita. Aku cuma akan bertanya, bagaiamana kamu bisa taat sama perintah ku nanti, padahal sekarang aja kamu ga bisa taat ama Tuhan mu. Maaf aku terlalu keras vel, aku ingin yang terbaik untukmu termasuk 'hijab' itu. Dan fyi, aku dan wanita itu ga menjalin hubungan asmara, kami cuma sekedar berkenalan. Pacaran bukan termasuk prioritasku saat ini.
(*Di atas itu tanggapan seseorang atas tulisan saya yang sebelumnya.)



Maaf, tapi saya tidak butuh tanggapan atau jawaban apapun saat ini. Saya sudah terlalu lelah mendengar itu semua. Saya hanya ingin menumpahkan atas semua kekecewaan yang saya rasakan. Saya hanya berusaha untuk tetap waras selama saya mampu.

Saya rasa, semua makhluk di muka bumi ini juga tahu, bahwa hijab adalah sebuah kewajiban. Secara sadar, saya pun paham akan kewajiban ini. Tetapi saya punya batas waktu sendiri kapan saya akan berhijrah. Saya kira, sejak awal kamu mampu menghargai keinginan saya itu. 

Sekarang setelah 5tahun, bila kamu memilih untuk pergi dengan alasan saya yang tidak berhijab, liar, dan tidak taat, saya akan belajar untuk mengikhlaskan. Saya sadar bahwa orang baik akan dapat orang baik juga. Jodoh itu harus sepadan. Saya tahu, saya memang bukan yang terbaik. Terlebih saya tidak taat pada Tuhan saya sendiri. 

Oia, saya tidak peduli "dia" wanita pilihanmu atau bukan. Saya hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian (kamu dan siapapun pilihanmu itu). Bukankah kamu sengaja menyebarkan fotonya beserta segala doa di sosial media? Lalu, apakah sekarang saya salah jika mengaminkan dan mendoakan semua niat baik kalian? Ohh...atau kamu hanya sengaja membuat saya cemburu? Jika benar, kamu salah besar. Saya sudah merasakan sakit yang teramat sangat, dan rasa cemburu ini tidak ada apa-apanya dibandingkan itu semua. 

Jumat, 07 Juli 2017

Sa, apakah aku yang tidak berhijab ini terlalu buruk buatmu? Apakah aku terlalu hina untuk ada di hidupmu dan keluargamu? Yang nyatanya kamu lebih tega melihatku pergi. Meski sebenarnya semua ini ada jalan keluarnya untuk kita berdua.

Jujur saja, mengikuti maumu adalah hal yang sulit, karena sesungguhnya aku ragu pada diriku sendiri. Ini tidak semudah yang kamu bayangkan. Terlebih atas dasar paksaan. Andaikan kamu ada di posisiku. Berhijab adalah sebuah tanggungjawab besar, antara aku dengan Tuhanku. Semua orang pasti ingin menjadi lebih baik, begitupun dengan aku. Namun bukan saat ini.

Tapi jika perpisahan ini memang yang terbaik, aku akan mencoba untuk ikhlas menerima semuanya. Aku percaya bahwa akan selalu ada hikmah dari setiap luka yang diciptakan. Beruntunglah aku bisa menulis, satu-satunya pelarian yang bisa menjagaku tetap waras hingga sekarang.

Ahh..ya, sepertinya harimu akhir-akhir ini lebih berwarna dibandingkan aku. Selamat buat kamu yang akhirnya bisa menemukan pengganti. Dia terlihat cantik, kalem, smart, keibuan, dan pastinya berhijab seperti keluarga dan kamu mau. Semoga niat baik kalian dilancarkan ya. Really happy for both of you.

Sincerely,

I.V.W.

Rabu, 19 April 2017

Bulan berlalu begitu cepat. Tidak terasa, ini sudah memasuki bulan kesekian, setelah kita memilih jalan masing-masing. Rasanya baru kemarin aku menunggumu pulang, demi melihat segala tingkah pola konyolmu. Aku ingin menghentikan waktu andai kubisa.

Aku sadar, meski aku menginginkanmu di hidupku, nyatanya semua itu adalah ketidakmungkinan yang harus kuterima. Kamu bagaikan secangkir kopi. Menghangatkan dan aku sangat menyukainya. Sayangnya, perut ini tak pernah dapat berdamai dengan semua kenikmatan yang telah kopi berikan. Bodoh, sangat bodoh.

Tapi aku percaya Tuhan telah menyiapkan seseorang yang istimewa untuk kita. Sepertinya saat ini memang sudah waktunya untuk kita dapat memulai kehidupan yang baru.  Aku berusaha melangkah ke depan. Mencoba meyakini diri ini, bahwa yang terlewati memang bukan yang terbaik. Kuharap kamu pun demikian.


Sincerely,

I.V. W. 

Sabtu, 11 Maret 2017

Hey, Sa…

Kamu tahu, buket mawar merah tahun lalu, masih aku simpan dengan baik. Aku tak ingin membuangnya, karena ia mampu menjadi penghibur ketika aku merindukanmu. Semua kenangan terputar ketika melihatnya. Termasuk tawamu yang saat itu terekam begitu jelas.

Untunglah ia hanya menjadi kering. Namun masih tetap cantik, seperti saat kamu membawanya pertama kali. Cantik, karena ia mampu merekam cerita kita saat itu. Aku masih ingat saat kamu tiba-tiba datang ke rumah, dan membawanya di tengah terik matahari. Aku terkejut melihatmu berdiri di ambang pintu, bermandikan peluh, hanya demi merayakan tanggal 28. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung saat itu. Buket pertama darimu, namun sayangnya harus pula menjadi yang terakhir.

Meski tahun ini tanpa buket mawar, tapi aku senang karena kamu masih bersedia memberikan doa tepat di pukul 00.00 WIB. Terima kasih untuk tetap mengingat tanggal lahirku. Semua itu lebih berharga dari apapun. Semoga Tuhan bisa menjabah semua doa tulus yang kamu panjatkan. 28 memang tak lagi sama, Tapi aku akan selalu mengamini setiap doa-doamu.

Sincerely,

I.V.W. (February 28th 2017)