Sabtu, 28 Oktober 2017

Budaya vs Agama

Demi melarikan diri dari keriuhan kereta sore tadi, saya asik tenggelam mencari bahan bacaan di Facebook. Tetiba saya menemukan artikel menarik, yang membahas tentang sebuah madrasah di daerah Tegal dan mengharuskan siswi-siswinya untuk bercadar. Dalam artikel tersebut, dijelaskan bahwa mengenakan cadar adalah sebuah peraturan mutlak sekolah dalam hal berseragam.

Lah, cadar kan bukan budaya kita. Lalu tujuannya apa? Apakah kondisi Tegal sebegitu berpasir seperti di Timur Tengah sampai diharuskan bercadar? Apa Kota Tegal sudah menjadi penganut Arabnisasi? Apa budaya Jawa di sana masih ada? Pikiran saya mulai tergelitik. Berbagai pertanyaan timbul, dan berputar-putar di kepala saya. Konyolnya, pikiran sengklek saya ini justru flashback ke masalah gagalnya rencana pernikahan saya.

Ok, pertama saya ingin menggarisbawahi, bahwa budaya dan agama adalah dua hal berbeda yang tidak dapat disamakan. TIDAK DAPAT DISAMAKAN!! Budaya lahir di tengah masyarakat sejak dahulu, yang kemudian berkembang menjadi jati diri atau adat istiadat. Setiap daerah, setiap bangsa, memiliki adat istiadatnya tersendiri. Indonesia adalah satu negara yang memiliki keragaman adat istiadat. Sedangkan agama adalah pedoman hidup manusia yang dianut sesuai dengan kepercayaan masing-masing individu. Mengutip dari kalimat kawan saya, “Surga dan neraka adalah hak veto Tuhan. Manusia hanya berusaha yang terbaik”. Dan saya setuju dengan itu.

Dalam kasus saya, ada benturan pendapat di antara keduanya. Saya keukeuh menonjolkan sisi kebudayaan, dimana saya ingin menggunakan kebaya berikut dengan sanggulnya di hari pernikahan kami. Saya hanya meminta di satu hari itu saja. Sedangkan mantan saya keukeuh menonjolkan sisi agamis di dalamnya. Dia dan keluarganya memaksa saya untuk mengenakan hijab saat acara. Dengan catatan, bila saya tidak sanggup, acara memang tidak dapat diselenggarakan.

Saya tanya pada mantan, apa tujuan sebenarnya saya harus menggunakan hijab di saat acara? Toh, saya pasti akan berhijab dengan ikhlas bila sudah resmi menjadi istrinya. Dia jawab, karena itu adalah kewajiban seorang muslim, dan sebagai seorang muslim harus saling mengingatkan. Iya, sebagai seorang muslim, dan porsi mantan saya pada saat itu seharusnya hanya sekadar mengingatkan, bukan memaksa. Saya juga sadar dan paham betul bahwa menutup aurat adalah kewajiban. Bila tidak menutup aurat, ayah akan menanggung dosa anaknya, dan suami akan menanggung dosanya bila statusnya telah menjadi seorang istri. Benar?

Mendengar hal ini, ayah langsung mengeluarkan pernyataan, bahwa dia tidak ingin memaksa anak-anaknya untuk berhijab bila toh nyatanya tidak nyaman dan hanya membohongi diri sendiri. Ayah tidak ingin egois memaksa anak-anaknya demi terhindar dari dosa. Jujur, saya terharu ketika mendengar ayah mengatakan ini.

Setelah semua perdebatan panjang yang alot, mantan saya hanya mengatakan jika berhijab adalah syarat mutlak di dalam keluarganya, tanpa dapat ditawar kembali. Terkahir, dia mengatakan, “bagaimana kamu bisa taat sama perintahku nanti, padahal sekarang saja kamu tidak bisa taat sama Tuhanmu”. Sungguh sebuah tamparan keras. Sebuah justifikasi yang telah menyadarkan saya bahwa saya memang belum layak untuknya. Saya milih mundur, perbedaan pandangan ini tidak akan ada jalan keluarnya sampai kapanpun, karena sebenarnya budaya dan agama adalah dua hal berbeda.

Tapi saya jadi menilai dari sisi yang lain, bahwa ini semua sudah di luar dari sekadar konteks “kewajiban dan saling mengingatkan”. Ini sudah di luar dari makna agama yang saya pahami. Toh, kalaupun saya memang wanita yang patuh kepada Tuhan, bukan berarti saya akan melabeli diri sendiri dan mempertontonkan kepatuhan saya di depan umum. Untuk apa? Agar menarik hati pria-pria kah? Atau agar diakui sebagai wanita baik-baik? Coba dicerna baik-baik. Dan dalam kasus ini, saya melihat bahwa agama telah sengaja dijadikan komoditas pembentuk strata sosial, dan legitimasi di dalam masyarakat. Tentunya dengan banyak alasan tergantung pada setiap individu. Koreksi saya bila saya salah menafsirkan.

Saya memang wanita liar yang minim ilmu agama. Tapi sungguh saya hanya ingin mengapresiasikan rasa cinta saya pada budaya Jawa. Dan sebagai wanita berdarah Jawa, ini adalah salah satu usaha saya untuk menjaga budaya ini tetap ada. Andaikan saya dapat menari, menyanyi, dan bermain musik, mungkin beda lagi ceritanya.

Jujur saja, saya hanya agak prihatin dengan budaya asli Indonesia yang mulai hilang perlahan, tergantikan dengan diadopsinya budaya “Kearab-araban” sedikit demi sedikit. Salah satunya seperti di artikel yang saya baca itu. Rasa-rasanya semua yang berasal dari Arab dianggap lebih "wah", dan langsung diserap begitu saja saat ini. Mungkin saja suatu hari nanti, tarian-tarian Indonesia hanya menjadi sebuah legenda, tergantikan dengan Tari Perut dari Arab. Hmm.



Ps:

Teruntuk kamu yang pernah kuharap menjadi imamku, terima kasih sudah menamparku dengan keras. Menyadarkan aku, bahwa aku memang perlu banyak belajar memantaskan diri bila ingin menjadi pendamping pria sholeh. Dan kini aku sedang belajar untuk ke arah itu. 

Rabu, 25 Oktober 2017

I'll Miss You, Bali!


Hari terakhir. Iyes, sedih banget rasanya besok sudah harus pulang ke Tangerang. Kembali menjalani rutinitas. Rasa-rasanya sudah kebayang dokumen-dokumen yang menggunung di depan kompi, email-email yang memenuhi inbox, dan barang-barang datang yang berserakan di atas meja. Bahkan, baru 1 hari bolos kerja saja, chat masuk di aplikasi Whatsapp sudah puluhan. Duh!

Well, berhubung besok pulang, hari terakhir ini kami manfaatkan untuk fokus keliling mencari oleh-oleh saja. Ehh…tapi sebelumnya, kami pergi ke Pura Taman Sarasvati dulu di Ubud. Sebagai salah satu kids jaman now, gue nggak mau ketinggalan sesuatu yang kekinian dong (*hehe). Di Instagram, pura itu hits abis. Keluarga gue yang lain pun, meng-iya-kan untuk ke sana.

Di Sisi Kanan-Kiri Bule Lagi Pada Ngeliatin
Tapi ternyata kami mendatangi tempat yang zonk. Bukan zonk seperti di Pura Besakih. Tapi karena Pura Taman Sarasvati ini ada di dalam kompleks restoran. Persis berada di tengah-tengahnnya. Wakwaaaaw! Kalau pulang lagi, rugi banget sudah datang jauh-jauh ke sini. Jadilah kami pasang muka tembok. Sok PeDe pose-pose di depan puranya. Bule-bule pada ngeliatin dari dalam restoran. Kita sih boam (bodo amat) yee. Toh nggak bakal ketemu lagi kan. Nggak lama kemudian, lokasi kami foto pun dipenuhi turis-turis yang ingin berfoto juga. Yeeeay, nggak jadi alay sendiri deh. Hehehe…

Dari Pura Taman Sarasvati, kami lanjut ke Pasar Sukowati. Nyokap demen banget ke sini, tapi gue nggak. Pedagangnya agak maksa di sini. Jadi nggak terlalu nyaman. Gue sama Alin cuma jadi kuli belanja nyokap saja. Dari situ, kami lanjut ke Krishna. Ini baru seru, bikin kalap. Dan setelahnya kami langsung pulang ke hotel untuk packing.

Malam terakhir itu, hanya kami habiskan di dalam hotel saja. Daripada keluyuran yang bikin capek, mending quality time di hotel. Bahkan saking nyamannya, bokap sampai nggak mau pisah sama hotel ini. Hehe…dan katanya, tahun depan mau ke Bali lagi. Gue pun meng-amin-kan dengan kencang. 

Minggu, 22 Oktober 2017

Numpang Jajan di Pantai Pandawa




Ini yang Namanya Pak Nyoman
Masih di hari yang sama, setelah dari Ubud, kami menuju ke Pantai Pandawa. Gue akui, gue memilih destinasi ini, karena terkontaminasi acara My Tr*p My Advent*re. Iyes, nggak usah ketawa, gue memang korban dari acara super hits itu. Bahkan kerennya, gue berhasil mempengaruhi sepupu gue buat ke sana juga (*wkwkwk).  

Kami melewati Tol Bali Mandara, yang sama ayah disingkat jadi Tol Bandara (*ayah yang kreatif. daebak daebak). Di sepanjang tol, kami terkesima sama pemandangan laut, yang saat itu sedang kering kerontang. Uniknya, di tengah-tengah laut itu ada semacam pura atau candi kecil. Jadi, kalau air sedang pasang, pasti candinya nggak kelihatan. Awesome ya.

Foto by Mameh
Sesampainya di pintu gerbang Pantai Pandawa, kami terpukau dengan keindahan tebing kapur yang menjulang tinggi, dengan ornamen patung Pandawa setinggi 2 meter. Dan jalanannya itu lebar banget. Di depannya terhampar lautan dengan ombak mengulung-gulung. Pasirnya berwarna putih. Kereeeeen! Tapi harus digaris bawahi, pantai ini nggak menghadap ke Barat. Jadi, kurang bagus kalau untuk menikmati sunset. Matahari justru tenggelam di sisi samping pantai, dan tertutup oleh tebing.   


Saat itu sudah pukul 17.00 WITA, tapi matahari masih begitu cerah. Nyokap gue langsung PeWe ngedeprok mainan pasir bikin rumah-rumahan. Sedangkan yang lainnya justru asik jajan. Begitu jajanan kami habis, kami langsung bersiap pulang. Hehehe...dan nyokap gue pun ngambek, karena katanya rumahnya belum jadi. Sejujurnya, kami nggak terlalu betah sih di sana, karena ramainya minta ampun. Jadi nggak bisa menikmati suasana deh. 

Sabtu, 14 Oktober 2017

Ubud, Si Surga Belanja Nan Menenangkan




Tahun lalu, gue sekeluarga pergi ke Ubud karena efek nonton film Eat, Pray, Love. Dimana si tokoh utama ini pergi ke Ubud demi mencari ketenangan dari kehidupannya yang porak poranda.  Nah, salah satu setting tempatnya yang famous itu di Pasar Tradisional Ubud. Jadilah kami berkunjung ke sana. Dan tahun ini, kami balik lagi, karena sudah jatuh hati sama tempat ini. Pasar Tradisional Ubud itu seperti layaknya surga belanja. Barang yang dijual terbilang unik-unik, murah, dan tempatnya bersih pula. Auranya juga bikin hati jadi tentram (#iniseriusan)


Ubud Tahun Lalu
Seperti biasa, ayah sama adek gue–Dimi lebih prefer buat nongki cantik di coffeeshop. Dan pertama-tama, gue langsung kabur buat beli Gelato. It’s a must kalau ke sini, karena varian rasanya enak-enak (*menurut gue). Gue sama si Alin sampai beli 2x loh dengan varian berbeda saking ketagihannya (*hehehe). Setelah kenyang jajan, barulah kita fokus belanja. Gue yang niat awalnya cuma mau beli gelang, ujung-ujungnya malah ngehedon (*astagfirullah). Memang dasar wanita ya. Entah kenapa selalu ada yang menarik mata, hingga akhirnya khilaf lah kami.

Pose Ala India-india

Restoran Super Cozy

Lelah berbelanja, kita makan di restoran khas Bali masih di daerah Ubud, yang tempatnya super cozy. Jadi bangunan restorannya itu berbentuk pendopo-pendopo, yang gabung dengan rumah tinggal dan pura pribadi. Di kelilingi taman yang teduh banget. Feels like home deh. Soal menu, cuma ada 2 pilihan, yaitu Ayam Betutu Campur dan Ayam Betutu Pisah. Rasanya langsung klik di lidah gue, mak’nyuuus. Soal halal atau haramnya, baca Bismillah saja deh ya. 

Kamis, 12 Oktober 2017

Desa Penglipuran, Desa Terbersih Abad Ini!


Keluarga Sepupu Gue
Setelah dari Pura Besakih yang super duper menjengkelkan, kami lanjut berkunjung ke Desa Penglipuran. Konon katanya, Desa Penglipuran ini merupakan desa terbersih sedunia yang dinobatkan oleh TripAdvisor dalam versi The Travellers Choice Destination 2016. Keren kan? Semoga tempat wisata ini nggak zonk seperti Pura Besakih ya (*Amin). Dari dulu gue penasaran banget buat ke sini. Ada rasa nggak percaya, kalau di jaman sekarang masih ada desa seasri ini di Indonesia.

Hutan Bambu yang Asri
Lucunya, begitu lagi asik menikmati view, sekilas gue seperti mendengar suara berisik khas sepupu gue. Pas gue cari-cari asalnya, ternyata benar ada sepupu gue lagi rempong foto-foto sama keluarganya. Yaelaaaahh...sudah jauh-jauh ke antahberantah masih juga ketemu. Ngakak lah kita semua di situ. Dunia memang sempit ya.

Kami menjelajah dari ujung hingga ujung. Saat masuk ke hutan bambu, rasanya sejuuuuuuuk banget. Pengen deh gelar tiker terus bobo siang di bawah pohon bambu yang super rindang itu. Atau paling nggak, ngopi-ngopi cantik dulu di situ (*wkwkwk). Tapi keluarga gue malah bilang, “males ahh di sini liat pohon bambu doang”. Omaigat, padahal jarang-jarang kan bisa lihat pohon bambu begini di kota. Atau memang gue-nya yang kamseupay kali ya? Hehehe...

Loloh Khas Desa Penglipuran
Puas berkeliling, gue beli camilan kue klepon yang harganya cuma Rp 5ribu sebungkus, dan minuman asli Desa Penglipuran bernama “LOLOH”. Minuman ini berwarna hijau tua, dan agak encer. Di dalamnya terdapat remah-remah batang pohon Cem-ceman, yang sepertinya terjadi akibat kurang halus saat diblender. Kalau digigit, rasanya seperti kedongdong, agak asam. Soal rasa, terbilang unik sih menurut gue. Persis seperti jus kedongdong yang dijual di minimarket, bedanya kalau Loloh ini agak manis, nggak terlalu asam. Tapi gue nggak tahan sama baunya, seperti bau langu khas dedaunan. Kebayang kan? But at least, gue suka kok.


Berhubung saat itu sudah sangat sore, dan kami belum makan seharian, langsung cus pulang lah kita. Dan mampir makan di restoran Ayam Taliwang yang super endes. Ntaaaaps! Di pinggir jalan, kami beli durian khas Bali, yang besarnya cuma segede kepala bayi. Nyokap gue sampai demen banget sama itu durian. Soal rasa? Hmm...agak hambar kayak air. 

Rabu, 04 Oktober 2017

Di Peras Habis-Habisan di Pura Besakih!


Hari pertama di Bali, kami langsung berkunjung ke Pura Besakih di Karangasem. Saat kami datang jam 11.00 WIB, keadaan di loket masuk terbilang sepi dari pengunjung. Hanya ada gue sekeluarga dan pasangan turis lokal. Jujur saja, gue agak bertanya-tanya sih. Secara, untuk ukuran pura secantik Besakih, masa sesepi ini di hari libur panjang?

Muka Bete Ala Gue
Sebelum beli tiket masuk, kami mampir lah ke toilet umum di parkiran. Nah, pas mau bayar, gue sudah siapin uang 10ribu untuk berlima. Tapi ternyata, 1 orang dikenakan biaya 5ribu. What the hell?! Di mall Tangerang saja, bayar 5ribu itu untuk toilet premium dengan segala fasilitas super lux, yang bisa bikin pengunjungnya sampai ketiduran di toilet (*wkwkwk)!  Lah ini, air keran mati, lampu mati, wanginya sedap-sedap enak, tissue nggak ada, lokasi nggak strategis pula. Sumpah deh, nggak ikhlas. Di situ kami merasa diperas. Kami juga dipaksa untuk sewa kain, karena katanya nggak disediakan peminjaman kain untuk masuk ke pura. Langsung lah kami tolak mentah-mentah.

Kami beli tiket masuk seharga 40ribu/orang. Tapi penjaga tiketnya nggak bilang sama sekali kalau harga tiket tersebut sudah include dengan biaya ojek ke pura. Kami bisa tahu secara kebetulan, karena pasangan turis lokal yang bilang. Kalau mereka nggak bilang, saat itu kami pasti sudah digetok 10ribu untuk biaya ojek sekali jalan (*ckckck). Dan untuk kainnya, khusus dipinjamkan bagi pengunjung yang mengenakan baju mini saja.  Jadi memang nggak perlu sewa.

Upacara Keagamaan di Pura Besakih
Begitu sampai di pintu masuk pura, baru saja turun motor, kami langsung disambut segerombolan Ibu-ibu yang menyelipkan bunga kamboja putih di telinga kami. Kami tanya, apakah ini gratis, sebagian menjawab iya dan sebagian memilih diam. Akhirnya pede saja lah kita pakai bunga itu. Tapi setelahnya kami dicegat untuk membayar bunga-bunga tersebut seikhlasnya. Nyokap gue yang saklek, langsung meletakkan kembali bunga tersebut di nampan, dan nggak mau bayar. Tapi akhirnya bunga-bunga yang lain dibayarkan sama gue dan bokap, seharga 2ribu/bunga. Dengan jelas, mereka langsung pasang tampang bete (*wkwkwk). Gue juga sempat dipaksa membawa seperangkat dupa untuk sembahyang. Gue bilang berulang kali nggak mau. Dan kata mereka, tinggal letakkan saja di atas. Akhirnya gue tanya dengan nada tinggi, ini gratis apa bayar? Mereka jawab “10ribu” dengan suara amat pelan. Langsung lah gue letakkan kembali dupanya di nampan, sambil gue bilang “makasih” dengan nada super jutek.

Suasana Asri dari Depan Pura Besakih
Dari awal datang sudah dipalak habis-habisan begini, bikin hilang mood gue untuk mengeksplor. Keluarga gue yang lain juga sama bete-nya. Apalagi saat itu keadaan pura sedang tumpah ruah dengan masyarakat sekitar, karena ada acara keagamaan. Saat sedang duduk-duduk, kami didatangi 3 orang anak kecil yang ingin menjadi guide kami. Berulang kali kami katakan, kami nggak butuh, tapi mereka tetap saja memaksa. Ada pula seorang Bapak yang mengatakan kalau dia guide di Pura Besakih. Jadi bila ingin keliling-keliling, harus didampingi olehnya dengan biaya seikhlasnya. Lagi-lagi kami tolak. Setelah kami tolak, barulah dia bilang, kalau kami boleh berkeliling asal nggak mengganggu orang ibadah. Kami hanya pasang tampang kecut saat itu.

Saking nggak nyamannya di Pura Besakih, kami memutuskan untuk pergi menuju ke destinasi selanjutnya. Sungguh, sangat disayangkan keadaannya seperti ini. Padahal Pura Besakih itu super indah. Udaranya sejuk sekali. Sebenarnya kami betah berlama-lama di situ kalau nggak banyak pemerasan.

Turis Mancanegara sedang Diperas
Begitu keluar dari Pura, segerombolan tukang ojek sudah mengepung kami. Kami katakan kalau kami ingin jalan kaki. Tetapi mereka tetap memaksa, dan menurunkan harga dari 10ribu menjadi 5ribu sekali jalan. Lagi-lagi kami katakan nggak mau. Akhirnya mereka bubar dengan sendirinya, sambil menggeber motornya di depan kami, dan ngomong dalam bahasa Bali. Gue berani yakin seyakin yakinnya, pasti itu bahasa Bali yang maksudnya misuh-misuh. Ckckck...Besakih oh Besakih. Sumpah, gue kapok ke sini lagi.

Oia, pas gue pulang, gue lihat ada sekelompok turis mancanegara yang sedang dipalak Ibu-ibu penjual bunga tadi. Antara rasa malu, kesal, dan sedih jadi satu. Malu dengan sikap mereka, yang justru akan mencoreng pariwisata Bali. Kesal juga pastinya. Dan sedih, karena kasihan melihat turis mancanegara tersebut dipalak.    

Sabtu, 30 September 2017

Malam 1 Suro, Baiknya Anteng di Rumah!


Semingggu yang lalu, gue sekeluarga memilih liburan ke Bali dalam rangka long weekend. Berhubung pesawat kami berangkat jam 19.00 WIB, gue putuskan untuk langsung menuju bandara sepulang dari kantor. Secara, gue sudah banyak bolos, jadi nggak mungkin lagi bolos di hari itu. Sedangkan anggota keluarga gue, lebih memilih buat cuti kerja (*syeeemm).

Bapuknya, di hari keberangkatan kerjaan gue justru seabrek-abrek. Hectic banget deh dari pagi sampai sore. Begitu jam 16.00 WIB, gue komat-kamit baca doa, semoga nggak ada lagi tugas dadakan dari atasan. Daaaann…gue baru berhasil keluar kantor jam 16.45 WIB, yang seharusnya jam 16.30 WIB sudah cus ke bandara. Begitu keluar komplek kantor, macet mengular langsung menyambut gue. Ya Allah, mau nangis rasanya. Alhamdulilahnya, driver Goj*k gue ini tahu jalan potong untuk menghindari macet. Tapi memang di beberapa titik, ada jalan yang macetnya stuck dan nggak bisa dihindari. Dan di keadaan se-crowded ini, si Waze kampret tega-teganya ngasih jalan potong bodong yang justru bikin gue nyasar ke tol! Gue pun cuma bisa pasrah.

Di bagian lain, keluarga gue pun kejebak macet menuju bandara. Jalan yang harusnya bisa ditempuh setengah jam saja, sampai melar jadi 1 jam. Gegara perbaikan jalan dimana-mana, Chuy. Mereka pun panik, ditambah dengan gue yang nggak ada kabarnya (*wkwkwk).

Masalah selanjutnya datang lagi begitu di bandara. Di tiket tertulis kalau harus check in di Terminal 1B. Nggak tahunya harus check in di Terminal 1A.  Alhasil keluarga gue harus lari-larian dari Terminal 1A ke Terminal 1B sembari ngebawa barang-barang segambreng.  Sesampainya di Terminal 1A, si petugas AVSEC nyuruh buat check in Terminal 1B lagi. Nyokap gue pun langsung marah-marah sambil ngeluarin taringnya (*efek dramatisasi). Akhirnya setelah di cross check, ternyata benar harus check in di Terminal 1A. Ini jadi kisruh karena ternyata kami harus transit dulu di Jogja. Fyuuuhh…masalah pun selesai. Tapiiiii…mereka masih cemas menunggu gue yang nggak kunjung datang. Adek gue – si Dimi, sampai telepon marah-marahin gue.

And finally, gue sampai di bandara jam 18.45 WIB. Ya Allah, paniknya berasa nyer-nyer sedap. Kebayangkan rasanya gimana? Dari turun motor, gue langsung ngibrit sekencang-kencangnya ke dalam buat check in dan lain-lain. Bahkan saking sudah buru-buru, gue tetap pakai seragam kantor, dan pakai sandal jepit. Keluarga gue sampai melongo doang ngelihat gue. Iya, dandanan gue persis anak gembel (*lengkap dengan keringat yang masih mengucur), sedangkan yang lainnya pada rapi mampus. Well, beruntungnya penerbangan ternyata delay 1 jam (*sujud syukur*).  

Jam 23.00 WITA, kami sampai di Bali. Setelah makan malam, kami langsung check in di hotel Fo*rteen Roses di Legian. Berharap bisa langsung bobo syantiek, ternyata nggak juga. Haduuuuh! Gue sudah booking 1 kamar untuk 5 orang selama 4 hari. Gue kira akan diberikan room family, tapi ternyata di hotel itu nggak ada room family-nya. Bokap gue sempat mau minta extra bed, tapi ternyata dilarang sama pihak hotel karena maksimal 1 room hanya untuk 2 orang. Disitu kadang kita jadi merasa seperti orang kamseupay. Terpaksa lah kita booking 1 kamar lagi untuk 1 malam.

Dari lobby menuju ke kamar itu jauhnya nauzubillah. Kami terpaksa melewati jalan memutar karena sedang ada renovasi hotel. Kami harus melewati taman dengan lampu remang-remang yang lumayan bikin bulu kuduk merinding. Bayangkan saja, tamannya dipenuhi pohon kamboja dengan wangi khasnya yang semerbak, lampu berwarna oren remang-remang, dan beberapa patung yang berada di balik dinding. Kalau siang hari sih cantik. Tapi kalau dilihat malam-malam begini, hmm…agak gimana gitu ya. Dan ternyata kami dapat kamar di ujung lorong di lantai 3 yang nggak ada liftnya! Omaigat, nyokap gue langsung misuh-misuh minta pindah hotel. Selama 4 hari harus turun naik seperti itu sih ogah juga deh

Gue sama bokap, akhirnya cari hotel lagi dengan diantar supir. Sedangkan yang lainnya sudah langsung tepar. Dini hari itu kami ke hotel Grand*as di Legian. Itu hotel kesukaan bokap karena tempatnya super cozy. Sayangnya family room sudah penuh. Kami pun ditawari kamar biasa dengan view ke jalan besar. Saat ditanya apakah ada extra bed, mereka memang nggak menyediakan karena memang konsep hotel minimalis. Tapi mereka nggak melarang jika kamar mau diisi lebih dari 2 orang. Intinya selama kita nyaman, mereka nggak masalah. Tuh kan, kurang cozy apa lagi coba? Kami pun langsung booking untuk 3 hari.

Tapi untuk semalam, kami tetap tidur di hotel Fo*rteen karena sudah lelah jika harus pindah hotel lagi. Sebelum tidur, nyokap sampai berdoa, berharap kesialan ini selesai begitu bangun pagi. Sedangkan gue asik melamunkan drama yang terjadi sedari pagi, sambil mengumpulkan nyawa yang rasanya masih belum lengkap. Tiba-tiba gue ingat 1 hal, kalau hari libur besok itu adalah perayaan 1 Muharram, dan malam itu berarti malam 1 Suro. Malam yang dikeramatkan oleh orang Jawa untuk nggak bepergian di hari itu, kalau nggak mau kena sial. Ya ampuuuuun, pantesan saja.