Napak Tilas ke Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A. H. Nasution



Ketika duduk di bangku sekolah dasar, BAB mengenai G30S/PKI pada mata pelajaran Sejarah, sangat menarik perhatian saya. Meski hanya mendengarkan penjelasan dari guru, dan membaca bukunya, saya sudah merasa begitu ketakutan. Entah apa yang akan saya lakukan, jika saya ada di rumah-rumah Para Jenderal pada dini hari yang mencekam itu. Sayangnya, guru-guru saya di SD, SMP, dan SMA selalu bilang, “Kalian cukup tau segini dulu, nanti kalo udah waktunya, kalian akan paham sendiri”, dan BAB mengenai G30S/PKI pun berakhir. Duh, sudah dibuat ketakutan, dibuat penasaran pula!

Buku Bagus yang Wajib Dibeli
Baru-baru ini, saya sengaja membeli sebuah buku berjudul “Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam”. Buku yang ditulis berdasarkan kesaksian para keluarga Jenderal korban G30S/PKI tersebut, saya beli untuk sekadar menambah referensi saya. Karena apa yang ada di media-media, faktanya sudah terlalu simpang siur. Sekarang saya paham, kenapa dulu guru-guru saya nggak bisa menjelaskan lebih detail tentang peristiwa ini. Dan atas dasar rasa keingintahuan, saya sengaja pergi mengunjungi Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A. H. Nasution.
   
Untuk masuk ke museum ini, sama sekali nggak dipungut biaya sepeser pun. Tapi di depan pintu masuk ke dalam rumah, tersedia kotak sumbangan seikhlasnya, untuk biaya perawatan. Ketika saya mulai memasuki rumah, rasa teduh dan penuh kehangatan seakan menyambut saya siang itu. Ibu saya langsung sedih, terhanyut dengan suasana. Kami mengelilingi ruang tamu bersama rombongan lain. Menurut pemandu museum, semua letak furniture tetap dibuat sama seperti terakhir kali ditinggali. Hanya saja beberapa ruangan memang sengaja dialihfungsikan.

Ruang Kerja Bapak Nasution
Di ruang tamu, terpampang foto-foto mendiang Bapak Nasution beserta keluarga. Masuk ke dalam ruang kerja, terdapat diorama Bapak Nasution sedang menuliskan sesuatu di atas meja kerjanya. Terdapat pula kumpulan buku-buku, yang tersusun rapi di dalam lemari kaca. Beberapa di antaranya adalah karangan beliau.

Keluar dari ruang kerja dan menuju ke dalam, saya dikejutkan dengan diorama 3 orang pasukan Cakrabirawa (*Pasukan pengawal presiden kala itu) bertampang bengis yang nampak siaga berjaga di lorong, lengkap dengan sejata laras panjangnya. Mereka hendak menyergap Bapak Nasution yang sedang terlelap di kamar utama. Seketika hawa merinding langsung menyelimuti. Saya membayangkan betapa mencekamnya suasana di pagi buta itu.
 
Pasukan Cakrabirawa yang Bersiaga di Lorong

Berdasarkan cerita yang ditulis di buku Kunang-kunang, pada dini hari itu Ibu Johanna dan Bapak Nasution memang sudah terbangun, dikarenakan banyak nyamuk. Saat itu pula lah, Ibu Johanna mendengar suara gaduh dari depan kamar. Beliau kemudian mengintip dengan membuka pintu kamar sedikit, dan betapa terkejutnya beliau mendapati 3 orang pasukan Cakrabirawa berpakaian lengkap sudah berada di depan kamar. Segera beliau menutup pintu kembali, dan menyuruh Bapak Nasution untuk kabur. Sedikit catatan, Ibu Johanna memang sudah waspada sejak berhembus kabar akan adanya penculikan Para Jenderal.
 
Bekas-bekas Tembakan Pasukan Cakrabirawa

Situasi Penyergapan Pada Dini Hari

Mendengar suara gaduh, ibunda dan adik Bapak Nasution mendatangi kamar utama melalui pintu penghubung. Ibu Johanna lalu menitipkan Ade Irma yang masih tertidur, ke gendongan adik Bapak Nasution. Celakanya, adik Bapak Nasution justru membuka pintu yang salah. Dia membuka pintu kamar utama yang menuju lorong, dimana terdapat pasukan Cakrabirawa tersebut. Meletuslah tembakan, yang langsung mengenai badan Ade Irma sebanyak 3 kali. Lalu dengan sigap, Ibu Johanna segera menutup pintu. Peluru-peluru pun beterbangan, beberapa di antaranya lewat di atas kepalanya mengenai rambut.

Diorama Ketika Bapak Nasution akan Melarikan Diri
Ibu Johanna kemudian kembali menggendong Ade Irma yang sudah berlumuran darah, untuk menyusul Bapak Nasution ke halaman samping kediamannya, dan memaksanya segera menyelamatkan diri. Bapak Nasution sebenarnya enggan untuk pergi, terlebih beliau melihat Ade Irma terluka parah. Akhirnya setelah dipaksa, Bapak Nasution pun pergi dengan memanjat dinding halaman rumah yang cukup tinggi.

Setelahnya, Ibu Johanna berlari ke ruang makan dengan maksud untuk telepon meminta bantuan. Sayangnya, sambungan kabel telepon telah diputus. Di saat itu pula, pasukan Cakrabirawa mendatanginya. Mereka menanyakan dimana Bapak Nasution sembari menodongkan senjata. Ibu Johanna menjawab dengan lantang, “Bapak sedang pergi ke Bandung. Sudah 3 hari tidak pulang. Kalian datang kemari hanya untuk membunuh anak saya!”. Ade Irma yang sudah berdarah-darah, sama sekali nggak menangis ataupun merintih kesakitan saat itu.

Diorama Ketika Ibu Johanna Ingin Meminta Bantuan
Di saat yang bersamaan, Yanti (*Anak Bapak Nasution yang pertama) dan pembantu rumah tangga mereka, justru berlari melalui pintu belakang kamar masing-masing, menuju ke paviliun Pierre Tendean (*Ajudan Bapak Nasution), untuk meminta pertolongan. Nggak berapa lama kemudian, pasukan Cakrabirawa sudah mengepung paviliun tesebut. Atas dasar rasa tanggungjawab, Pierre Tendean pun keluar mengahadapi pasukan Cakrabirawa. Ketika ditanya, “Dimana Nasution?”, Pierre menjawab dengan lantang, “Saya Nasution!”. Pierre pun akhirnya dibawa oleh pasukan Cakrabirawa, karena dianggap sebagai Nasution.

Halaman Belakang Museum
Itulah sepenggal cerita pada saat kejadian di kediaman Bapak Nasution. Kini, bekas-bekas tembakan tersebut masih dapat dilihat di pintu kamar utama. Di dalamnya, kita juga bisa melihat diorama Bapak Nasution yang terbangun, ketika tahu adanya pasukan Cakrabirawa. Di bagian kamar lain, ada baju perawat; sepatu; botol minum; dan boneka milik Ade Irma. Ada pula foto-foto Ade Irma bersama dengan Pierre Tendean. Semasa hidup, Ade Irma memang sangat dekat dengan Pierre. Sedangkan di kamar lainnya, ada pula diorama dari peristiwa memilukan saat Ibu Johanna menggendong Ade Irma yang berlumuran darah ketika menyuruh Bapak Nasution untuk melarikan diri. Sedikit catatan, ketiga kamar ini memang saling terhubung. Dulunya digunakan sebagai kamar tidur ibunda dan adik Bapak Nasution.

Kemudian ada pula diorama di ruang makan, ketika Ibu Johanna menggendong Ade Irma dan ditodongkan senjata oleh Pasukan Cakrabirawa. Kalau saya jadi Ibu Johanna, mungkin saya hanya bisa terduduk lemas, tanpa mampu berkata-kata. Melihat dioramanya saja membuat saya takut setengah mati. Betapa saya kagum dengan keberanian Ibu Johanna.

Diorama Ketika Pierre Akan Dibawa Oleh Pasukan Cakrabirawa
Sedangkan di seberang kamar utama, terdapat kamar Yanti, yang kini digunakan sebagai ruang pamer koleksi senjata. Di samping kamar Yanti, terdapat ruang untuk menerima tamu. Nggak ada yang spesial di sini.

Terakhir, saya menuju ke paviliun kamar Pierre Tendean. Sayangnya, kamar tersebut nggak boleh dimasuki. Kita hanya boleh melihat diorama dari luar, ketika Pierre dikepung oleh Pasukan Cakrabirawa. Ahh…ini bagian yang membuat saya sedih. Asal tahu saja, salah satu alasan saya ingin datang ke museum ini, karena demi bisa melihat jejak Pierre Tendean. Saya memang sudah jatuh cinta dengan Pierre sejak saya SD. Dia pahlawan paling tampan yang pernah saya tahu.  Mungkin bisa dibilang, Pierre itu cinta pertamanya anak perempuan kali ya (*hehehe). Saya sudah mendengar banyak tentang kisah hidupnya. Andaikan oh andaikan Pierre nggak mengaku sebagai Bapak Nasution, tentu dia nggak akan dibawa pada dini hari itu. Dia cuma korban salah tangkap.

Oia, saya sendiri belum pernah menonton film G30S/PKI. Karena saya yakin, film tersebut sudah terlalu banyak settingan, dan tentunya membosankan. Jadi, buat yang ingin tahu lebih detail tentang peristiwa ini, lebih baik untuk membaca buku saja. Karangannya pun harus diperhatikan, jangan sembarangan. Selain buku yang saya sebutkan di atas, masih ada beberapa lagi karangan Bapak A. H Nasution. Yaaa...setelah membaca buku tersebut, senggaknya saya mampu melihat benang merahnya. 

Napak tilas kami hari itu, nggak langsung kami tutup dengan pulang. Kunjungan pun kami lanjutkan ke Museum Ahmad Yani, karena lokasinya yang terbilang sangat dekat. Bersambung ke part selanjutnya ya.

Alamat           : Jl. Teuku Umar No. 40, RT 01/RW 01, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.
Jam buka       : 08.00 – 16.00 WIB (Tutup pada hari Senin)
Didirikan       : 3 Desember 2008

Komentar