Awal Jatuh Cinta dengan Dunia Purchasing


Purchasing? Bagian apa sih itu? Ngapain aja sih jobdesknya? Kerjaannya asik nggak ya? Susah nggak sih?

Itu lah beberapa pertanyaan yang ada di kepala gue sekitar 4 tahun lalu, tepat ketika gue resmi menyandang gelar pengangguran. Gue yang baru saja dinyatakan lulus sebagai seorang sarjana, mulai kehilangan arah untuk menentukan karir. Iya, gue galau, karena gue jelas-jelas menolak untuk berkarir di dunia media, meski background pendidikan gue adalah Ilmu Komunikasi (*Iya, gue tolol memang. Nggak usah tanya kenapa).

Setelah minta masukan ke sana kemari, meski belum ada gambaran sepenuhnya, tapi gue yakin bisa survive di bagian Purchasing. Ditambah dengan dorongan dari bokap, yang bilang kalau dunia purchasing itu asik dan seru. Gue pun mantap untuk mencoba apply di bagian Staff Purchasing.

Akhirnya, di awal tahun 2015, gue keterima sebagai seorang Staff Procurement (*sama saja dengan Purchasing) di perusahaan manufacturing alat berat! Nggak tanggung-tanggung loh. Meski saat itu gajinya kecil, tapi gue happy bisa kerja di sana. Why? Karena gue punya misi untuk menyerap ilmunya, untuk menambah pengalaman gue di CV (*evil laugh*).

Tahu apa yang terjadi kemudian? Tiga bulan pertama gue kerja, rasanya masih jetlag. Gue bingung dengan runtutan jobdesk yang harus gue kerjakan setiap harinya. Apalagi saat itu atasan gue hobinya marah-marah, dan kalau ngasih komando ini-itu sukanya setengah-setengah. Tapi Alhamdulilahnya otak gue nggak sampai konslet sih.

Dari situ gue belajar banyak bagaimana menjadi seorang Purchasing. Gue belajar bagaimana jadi seorang Purchasing yang galak ke Sales. Catat ya, harus galak! Supaya kalau Sales minta penawaran nggak seenak jidat langsung ngasih speknya. Dan setelahnya, kita harus rajin nagih feedback-nya. Jadi, mereka nggak sekedar minta penawaran doang.

Waktu itu gue pernah ada satu kasus dengan Manager Sales. Dia minta penawaran satu barang (*gue lupa item apa). Dan speknya kurang jelas menurut gue. Akhirnya gue coba tanya lagi. Tahu apa yang kemudian dia bilang?  Dia langsung maki-maki gue  dengan tampang yang nggak selow sama sekali (*yaiyalah).
"Kamu tuh pernah sekolah nggak sih? Masa kayak gini aja nggak tau? Yang namanya output pasti lebih kecil dari input lah. Nggak usah ditanyain lagi," cerocosnya panjang lebar.

Gue cuma diam saja saat itu. Gue diam, karena gue sadar gue memang nggak paham, meski dalam hati dongkol juga sih. Tapi mulai saat itu, gue rekam baik-baik kata-katanya untuk pembelajaran, "output pasti lebih kecil dari input". Well, thanks.

Oia, Bukan rahasia juga, kalau seorang Purchasing itu sering banget berantem sama bagian Akunting. Hmm...entah kenapa bagian Akunting itu "agak" rese. Susah ngeluarin uang. Padahal setelahnya juga ada perincian belanjanya kan. Dan mereka itu sering banget nggak tahu sikon. Terkadang sudah dijelaskan, kalau itu barang urgent, dan kita berburu dengan waktu, tapi uangnya tetap saja lama cair. Kalau berurusan sama mereka, harus belajar kebal hati, belajar pasang muka tembok, dan belajar lambe nyinyir.

Untuk urusan barang, dulu gue pernah sekali diajak ke workshop perusahaan gue di daerah Cikarang. Workshop tersebut terbilang sangat besar. Di sana gue diajak keliling dan belajar banyak soal barang. Bahkan saking banyaknya, gue sampai menggambar barang-barang tersebut supaya bisa dihapal.   

Gue memang merasa seperti ujian setiap hari. Kita benar-benar dituntut untuk hapal berbagai macam jenis barang. Seperti misalnya besi. Bahkan dari ketebalannya, kita harus tahu kalau itu banci atau bukan. Maksudnya banci adalah ketebalannya sesuai SNI atau nggak. Ada pula berbagai jenis baut dan mur. Ini juga awalnya gue sering salah, karena dari bahannya saja ada berbagai macam. Dan yang paliiiiiing susah adalah mencari kebutuhan motor berikut dengan pasangan gear box-nya. Kita harus tahu phase-nya, volt, ampere, foot atau flange, rasio dan printilan spek lainnya. Ada juga valve. Ini juga ribet. Valve kan banyak jenisnya, dan bahannya pun macam-macam. Nggak cuma itu sih, banyak lagi barang-barang kecil lainnya yang benar-benar harus dihapal. Duh!

Jadi, tugas gue setiap hari adalah mengecek PR (*Purchase Request) dari workshop. Nah, kalau mereka bikin permintaan tapi nama barang dan speknya nggak sesuai, gue kudu-wajib-harus nginfoin ke mereka untuk merevisi PR. Dalam tahap awal ini saja, gue sudah benar-benar harus paham barang. Kalau gue kelolosan di tahap ini, siap-siap lah diceramahin atasan seharian.

Nah, di sela-sela susahnya menghapal barang, ada lagi hal seru lainnya, yaitu meeting dengan vendor-vendor. Sebagai catatan, perusahaan gue ini memiliki posisi sebagai userJadi, gue sebagai purchasing sudah pasti bakal diagung-agungkan oleh vendor (*hehehe). Cuma satu sih pesan atasan gue, "Jangan tergoda. Jangan pernah menerima apapun dari vendor, karena nantinya kamu nggak akan pernah bisa kerja secara profesional". Setelah dipikir-pikir, memang ada benarnya juga. Dan sampai sekarang, pesan atasan gue masih selalu gue pegang.

Oia, dalam sehari, gue juga bisa menerima puluhan WA. Selain dari vendor, sales juga pasti nge-chat terus kan. Yaaa...rasanya terharu saja banyak yang nyariin gitu. Hihihi...jadi merasa kayak orang paling penting sedunia. 
   
Yap, itulah awal gue bisa jatuh cinta dengan dunia Purchasing. Banyak suka dukanya sih. Tapi semua pekerjaan pasti begitu kan. Meski di perusahaan ini gue cuma bertahan 1 tahun, tapi banyak hal yang bisa gue petik. Dan ke depannya gue masih harus banyak belajar lagi^^ 

Komentar