4 Days in Bangkok: Shopping Everywhere!



Perjalanan ke Bangkok kemarin, meski sudah berlalu 2 bulan, tapi rasanya tetap nggak bisa move on. Masih kebayang bagaimana seru dan kocaknya jalan-jalan di sana. Empat hari tanpa harus memikirkan kerjaan kantor, pasangan (*yaiyalah secara gue jomblo :P), dan beban hidup lainnya. Yang ada cuma pikiran makan apa dan belanja apa hari ini. Hehehe…

Hasil Belanja di Big C
Sesampainya di Bangkok, kita langsung menuju ke penginapan. Nah, ini penginapan super duper asik dari semua sisi. Si owner yang merangkap sebagai resepsionis dan bahkan semuanya itu, berulang kali memanggil nama Cherssy, hanya karena dia suka dengan pelafalannya. Dan Cherssy jadi BT, karena itu. Akhirnya selama 4 hari di sana, kita julukin dia si Banci, karena bawel.

Besoknya ada hal lucu ketika kita pergi ke Big C. Awalnya sih cuma ingin membeli “sedikit” oleh-oleh. Sedikit loh ya. Nah, agar memudahkan dan nggak repot nenteng-nenteng, kita bawalah satu koper untuk bersama. Tapi ternyata kita semua kalap. Belanjaan pun sampai tumpeh-tumpeh keluar koper. Bahkan masing-masing tetap membawa tentengan di tangan.

Akibat belanjaan yang overload, kita terpaksa pulang dulu ke penginapan, sebelum pergi ke destinasi selanjutnya. Ketika BTS datang, kita yang masih ngos-ngosan, galau memutuskan untuk langsung naik atau nggak. Hingga di menit-menit terakhir pintu BTS mau tertutup, Cherssy nyuruh kita untuk naik. Gue yang panik, langsung saja menarik koper hingga menabrak pintu BTS. Konyolnya, si Sherly telat masuk dan tertinggal di stasiun tanpa kuota internet sama sekali. Kita yang di dalam cuma bisa terbengong- bengong, sambil bilang, “yaaaaaahh”. Sampai ada seorang bule paruh baya, yang puas banget ngetawain kita (*damn). Kita pun cuma bisa berdoa supaya Sherly ingat harus turun dimana, karena biasanya dia paling dodol soal mengingat lokasi. Tapi untunglah kemarin otaknya lagi nggak konslet. Fyuuuh~


Cemas Menunggu Sherly
Setelah dari penginapan, kita langsung lanjut kuy ke Pratunam Market. Di sini kita kalap (lagi). Isinya seperti di Pasar Pagi Jakarta, tapi ini jauuuuuuuuh lebih murah. Gimana nggak kalap coba? Ditambah dengan adanya berbagai macam jajanan yang enaknya kebangetan. Baru jalan sedikit, lihat ada yang menarik, langsung deh dibeli. “Everything I see, I buy!,” kata si Cherssy saking bahagianya. Pedagang yang ada dekat situ, langsung pada ketawa.
“Ehh..gais, pulang aja yuk. Duit gue udah abis nih. Kalo di sini terus, ntar gue nggak bisa belanja di Chatucak,” rengek Cherssy setelah dia heboh jadi cem emak-emak shopping seharian ini.

Jadi malam itu kita pulang, hanya karena sudah kehabisan stok uang. Granita dapat dress dan rok untuk dipakai sendiri. Sherly dapat 2 potong atasan buat sendiri juga. Gue dapat aksesoris dan rok untuk oleh-oleh. Sedangkan untuk gue sendiri, cuma dapet sandal tali yang sudah gue incer sejak lama. Kalau Cherssy dapaaaaat….ah sudah lah, nggak usah dijelasin lagi.

Di hari berikutnya, ada pula kejadian lucu sewaktu di Asiatique. Kita yang sudah kelaparan, akhirnya masuk ke salah satu restoran. Setelah pesan ini-itu, nggak lama kemudian datang lah menu Papaya Salad.     

“Ehhh…itu pesenan siapa ya?,” tanya Sherly heran.
“Bukan gue,” jawab gue dan Granita kompak.
“Yaudahlah makan aja. Ini tuh gratis tau. Jadi sebelum pesenan kita datang, kita dikasih ini dulu buat cemilan,” jawab Cherssy dengan sotoy-nya, sambil mulai menyendok si Papaya Salad.
“Ehhh…ini enak tau,” teriak Cherssy heboh tiba-tiba.


Cuma Ini Oleh-oleh untuk Diri Gue Sendiri 
Kita yang sudah kelaparan setengah mati, langsung menghabiskan sepiring besar Papaya Salad tersebut. Memang lumayan banget sih buat mengganjal perut sementara. Nah, begitu kita minta bill, tertera harga Papaya Salad THB 128! Itu lebih mahal dari menu pesanan kita sendiri. Kita juga sengaja nggak beli minum supaya bisa lebih irit. Tapi malah kena jebmen gegara Cherssy kampret. Bahkan itu belum include dengan tax-nya loh. Baaaahh…gue, Granita, dan Sherly, langsung marah-marah ke Cherssy, akibat ulah sotoy-nya yang nggak pernah hilang dari dulu. Si kampret ini cuma cengengesan saja, sambil bilang, “yaudah lah, udah masuk ke perut. Udah mau jadi tai juga”. Shit.  

Menu Murah di Chatucak Market
Hari terakhir, kita pergi ke Chatucak. Yes, it’s the time! Kita sudah menunggu moment untuk belanja habis-habisan di sini. Saking habis-habisannya, buat sarapan pagi saja kita rapel dengan siang hari, karena sudah nggak ada uang lagi. Dan kebetulan banget, kita nemu tempat makan yang super muraaaaah, dengan porsi yang lumayan besar.
“Weeeh…Gais, kita harus makan di sini. Ini murah banget tau. Di mana lagi kita bisa nemuin yang murah begini. Baunya aja enak nih,” cerocos Cherssy.
“Gue mau keliling dulu ahh,” jawab Sherly.

“Diiihh…ngapain? Gue jamin nggak ada yang lebih murah lagi dari ini. Udah lah di sini aja,” bujuk Cherssy.
Yap, finally kita makan di situ juga. Meski actually gue agak geli, karena ada menu babinya. Tapi apa boleh buat. Mau beli makanan di Circle K pun, gue nggak mampu lagi. Hehehe…

Ending-nya, Cherssy, Granita, dan Sherly cuma punya sisa uang untuk bayar taksi ke bandara. Sedangkan gue masih ada sisa THB 150. Tadinya mau dipakai untuk beli oleh-oleh. Tapi berhubung nggak cukup dibeliin apa-apa, akhirnya nggak jadi deh. Uang itu pula lah yang kemudian kita pakai bareng-bareng untuk makan se-cup mie instant di Circle K plus kopi di bandara.

Oia, niat awal, kita mau sok-sokan coba ajojing di Bangkok. Tapi apalah daya, kita terlalu cupu. Jam 8 malam sudah pulang ke penginapan, karena alesan lelah dan ngantuk. Koyo pun nempel di mana-mana, di  kaki, di pinggang, di lengan. Terus jam 9 atau 10 sudah langsung bobo cantik. Padahal juga niatnya mau quality time dulu sebelum bobo. Well, akhirnya 4 hari di sana berakhir tanpa dugem sama sekali. Pffttt…

Komentar